In Our Box

Kita duduk berjejer. Tiga orang dari generasi yang sama. Tidak saling mengenal. Namun punya satu persamaan.

Musik jazz mengalun lembut, selembut krim dari secangkir kopi favorit saya di sebuah gerai kopi terkenal. Saya paling suka membuka laptop, bersibuk ria dengan acara browsing, ketak-ketik ini itu di tempat ini.

Memang banyak orang-orang sejenis saya di gerai ini. Hanya saja malam ini, saya merasa sangat aneh karena di sebelah saya terdapat dua orang cowok dan cewek yang sama-sama sibuk dengan laptop masing-masing, persis seperti saya ini.

Kami duduk berjejer, tak saling berbicara. Seolah kami ini tak ubahnya tiga orang yang sedang duduk di warung internet dengan kisi-kisi tinggi, padahal kenyataannya disini kami sendiri yang membangun kisi khayalan masing-masing, karena tak seorang pun dari kami tampak ingin berbincang atau berkenalan sekalipun.

Coba kami hidup dua puluh tahun yang lalu di sebuah desa atau kampung, barangkali kami bertiga ini akan duduk makan kacang sambil berbincang tentang teman kami yang suka kirim surat lewat pos, atau kami bertiga sedang sibuk dalam acara karang taruna membicarakan siapa cowok atau cewek yang kami suka.

Coba seandainya tidak ada laptop dan gadget, barangkali kita akan minum kopi dan berbincang hangat. Seandainya saya sendiri juga tidak sedang lelah dan punya banyak waktu, mungkin saya akan tersenyum dan memulai pembicaraan.

Ah saya jadi ingat tetangga baru saya, yang setengah mampus mencoba membuka pembicaraan diantara kami. Sementara saya lebih suka menanggapi seadanya, dan cepat-cepat berlalu.

Ironis memang, dengan situasi tiga orang berjejer tanpa berbicara ini, sungguh saya takjub. Di satu sisi, barangkali tetangga baru saya takjub dengan saya lantaran saya seperti orang yang tak butuh teman berbicara.

Ah tapi saya memang lebih suka begini. Saya takjub, tapi saya juga kurang berselera untuk memulai pembicaraan dengan orang-orang di sebelah saya ini, pun nantinya dengan tetangga saya.

Ada saatnya, saya memang lebih suka berteman dengan kesendirian. Kadang dunia ini sudah terlalu bising, dengan meluangkan waktu untuk diri sendiri, saya merasa damai.

Alasan saya itu membuat saya lebih suka berpikir bahwa orang-orang di sebelah saya ini punya hak untuk memiliki privacy, sama seperti saya. Sementara orang-orang seperti tetangga saya, entahlah, saya pikir dia hanya kesepian dan berpikir saya juga merasakan hal yang sama, sehingga ia pikir kami akan cocok sebagai teman senasib. Hadeuh hare gene…

Yah, semoga tetangga baru saya segera mendapatkan teman berbincang yang lebih baik daripada saya. Semoga saya dalam berteman dengan kesendirian, tak perlu bertegur sapa dengan kesepian.

Semoga orang-orang di sebelah saya ini memang bahagia juga dengan kesendirian mereka.

Ah, seharusnya tak begini. Manusia tetap saja manusia, bernaluri dan berperasaan. Coba saya bisa mengambil gambar kesibukan tiga orang asing yang sedang duduk berjejer dan bersama ini, tentu tidak saya saja yang akan berperasaan ganjil.

The end.


One thought on “In Our Box

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s