KONSPIRASI RASA

Kamu salah satu hasrat yang tercecer. Rasa yang mencercah dalam hati atau terurai dalam kata hanyalah khayalan liar.

Kamu mengaku akrab dengan adrenalin. Sex appeal tinggi, body mendukung. Namun mau tak mau kamu terpana saat melihat seorang laki-laki datang menyeruak dengan amarah saat kita membiarkan bibir kita saling mengenal lebih dalam, dan bukannya hatimu dan hatiku. Laki-laki itu memperkenalkan diri sebagai suamiku. Kamu membeku. Kamu mengira yang pintar berdalih hanyalah dirimu.

Laki-laki itu menarikku pergi begitu saja. Aku enggan berkata-kata, toh nanti aku bisa menjelaskan padamu lewat berbagai media sosial dengan berbagai alat komunikasi.

Laki-laki pemarah itu suka dengan ironi. Kalau ia merasakan kegalauan, ia akan menciptakan suasana apartment kami terang gemilang seolah kami sedang bergembira. Persis seperti sekarang ini. Selalu optimis, itu motto hidupnya.

“Siapa lagi dia?” Tanyanya entah kenapa tanpa emosi.

Aku tersenyum, “Apalah arti sebuah nama, apalah arti seorang laki-laki lagi?”

Laki-laki itu menggelengkan kepalanya pelan, lalu meminum soft drink favoritnya, Kokakola diet. Barangkali memang minuman itulah yang menjaga tubuhnya terus terlihat pas, ideal, dan seksi.

“Apakah kali ini dia berarti buatmu?” Tandasnya tanpa intonasi yang mengintimidasi.

Aku tertawa tergelak. Lalu aku menyambar Kokakola dietnya dan menenggaknya abis, lalu mengacungkan botol Kokakola itu sambil bergaya layaknya model soft drink.

“Inilah rasa yang kumau!” teriakku senang.

Laki-laki itu memandangku dengan sebal.

“Dulu kamu mencampurkan perasaan cintamu padaku dengan rasa tergila-gilamu pada anak konglomerat. Kamu merasa seperti Cinderella yang ternyata jatuh hati pada tetangga sendiri, bukan si pangeran atau konglomerat itu.” Katamu dengan nada biasa.

Aku mengangguk-angguk, “Berikutnya, aku mixed dengan rasa kagumku sama-“

“Sama brondong yang gantengnya melebihi Brad Pitt tapi kedewasaannya gak lebih dari Tukul.” Potongnya dengan jengkel.

Aku kembali tergelak. Suara tawaku pada akhirnya membuat sudut-sudut kecil di kedua ujung bibirnya, ia mulai tersenyum.

“Kali ini dengan apa?” Tanyanya sekali lagi dengan nada biasa, tanpa rasa cemburu, tapi seperti seorang kreatif yang siap menerima muntahan ide baru.

Aku mendekatinya dan menatapnya erat-erat. Kali ini kupasang muka serius.

“Dengan hasratku yang tercecer.”

“Rasanya jadi kayak apa?” Katamu sambil menatapku penuh arti.

“Mati. Hasrat hanyalah hasrat. Kastanya tak akan melebihi rasa.” Jelasku santai.

Laki-laki itu tersenyum puas, dan tentunya optimis.

“Aku tahu, akulah satu-satunya yang bisa menciptakan rasa paling hebat buatmu.”

Laki-laki yang kucintai dan kubiarkan berbagi hidup denganku tanpa akte pernikahan itu memelukku erat, lalu bersenandung riang, dan berlalu pergi kearah kamar. Tentu sekali lagi dengan rasa optimis tiada tara.

Entah ia sadari atau tidak, rasaku padanya memang tak tergantikan bahkan tak terkalahkan, namun rasa itu harus selalu dicampur dengan rasa-rasa ataupun hasrat yang lain. Cepat-cepat aku meraih apel putih dan mengetikkan pesan pendek tanpa basa-basi. Hasrat yang tercecer harus dituntaskan.

The end.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s