Mengejar Layang-layang

Aku berlari kencang, berlomba-lomba dengan semua temanku, untuk mengejar sebuah layang-layang putus. Layang-layang itu koyak saat kami berebutan mendapatkannya.

Ayah sama sekali tak mengerti arti perjuanganku mendapatkan layang-layang itu ketika aku pulang dan menceritakan pengalamanku sore itu. Ayah bukannya bersimpati malah menertawakanku keras-keras. Ibu yang biasanya bijak dan lembut berusaha menawan tawa.

Kupeluk layang-layang koyak itu erat-erat. Aku merasa layang-layang itu lebih senasib dan seperasaan denganku.

“Jadi tadi apa yang kamu kejar?” Tanya Ayah setelah puas tertawa.

Aku menjawab sambil memalingkan muka dan intonasi jengkel, “Layang-layang inilah, yah.”

“Memangnya itu layang-layang kamu?”

“Bukan, yah.” Aku menjawab dengan makin kesal.

“Besok lagi kejar layang-layang milikmu sendiri.” Kata Ayah, kali ini dengan tegas dan tatapan mata super serius.

Ayah lalu berlalu pergi. Sementara aku tetap saja menekuri layang-layang koyak tadi.

***

20 tahun kemudian. Bukan, bukan, aku tidak lagi mengejar layang-layang. Aku sibuk mengejar impian-impianku. Satu per satu kuraih. Jatuh bangun kulalui.

Suatu hari saat aku mendapatkan sebuah penghargaan tingkat nasional dan aku terpaksa tidak hadir dalam acara penganugerahan itu karena aku terkapar di rumah sakit, Ayah menjumpaiku.

“Mengejar layang-layang kok sampai sakit begini?” Tanya ayah penuh canda.

Aku tersenyum, “Tapi ini layang-layangku sendiri, yah.”

Ayah mengangguk-angguk senang dan bangga.

“Tapi Ayah, kalau suatu hari nanti layang-layangku putus bagaimana?” Tanyaku sendu.

Ayah menerawang jauh kearah jendela.

“Selalu akan ada layang-layang lain yang bisa kau miliki.” Jawab Ayah bijak.

“Bagaimana kalau untuk membuat bahkan menerbangkan layang-layang baru itu ternyata tak semudah yang sebelumnya?”

“Hidup tidak harus selalu tentang mengejar layang-layang, bukan?” Jawab Ayah dengan pertanyaan retoriknya.

Aku tersenyum. Ayah beranjak pergi dengan diam, namun beberapa langkah kemudian Ayah menoleh.

“Kamu lahir sebagai layang-layang Ayah. Ayah tahu kamu tidak akan berhenti berlari dan terbang tinggi.”

The end.


One thought on “Mengejar Layang-layang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s