My Billu

Saya tidak pernah menduga akan menerima cinta dan dukungan yang begitu besar. Kedua lagu ini menjadi hits saat saya, the scapegoat of family finally became a winner of my life. Disamping JC, my beloved Ayah, ibu, dan kedua kakak saya, I have a lot of Billu in my life.

Baru saja saya menonton film India berjudul “Billu Barber” yang berkisah tentang seorang tukang cukur miskin yang berhati besar bernama Billu. Sahabatnya yang telah menjadi superstar yaitu Sahir Khan mengadakan syuting di desa Billu. Billu ingin sekali bertemu dengan sahabatnya, namun ia sama sekali tak goyah sedikitpun dengan desakan orang-orang desanya yang menginginkan Billu menemui Sahir tentu untuk kepentingan mereka masing-masing. Berbeda dengan orang-orang lainnya, Billu tak mengharapkan apapun dari seorang Sahir. Bahkan tak pernah sedikitpun mengatakan bahkan menyombongkan kalau dirinya adalah sahabat Sahir

Di akhir film, Billu yang rendah hati dan tulus tak menyangka, ternyata Sahir menceritakan tentang dirinya dalam sebuah pidatonya, tentang persahabatan mereka yang dulu, saat Billu selalu ada untuk Sahir. Billu pergi dari kerumunan, ia sudah cukup bahagia hanya dengan mendengar sahabatnya telah mengingatnya. Hingga akhirnya Sahir yang datang menemui Billu. Persahabatan diantara mereka tak pernah berubah. Sahir sungguh memiliki sahabat yang tulus. Billu pun demikian.

Cerita itu mengingatkan saya pada sahabat-sahabat saya. Saya menangis menonton kisah ini karena sekali lagi saya seperti diingatkan betapa saya memiliki begitu banyak Billu dalam kehidupan saya. Tentu saya bukan seperti seorang Sahir, tapi untuk sampai di titik ini it’s a miracle for me.

Kisah yang sangat menyentuh saya salah satunya adalah saat saya berjuang menyelesaikan kuliah saya. Sepeninggal Ayah saya, keluarga saya hidup sangat sederhana. Masih syukur bisa kuliah karena kakak saya kemudian menjadi tulang punggung dalam keluarga kami. Namun begitu, kakak saya ini tangan besi, dulu saya sangat membenci kebijakannya, tapi paling tidak dia berhasil menjadi salah satu pemicu saya untuk mandiri.

Penampilan saya jauh dari kata keren apalagi trendi, setiap semester saya harus mengambil begitu banyak mata kuliah agar saya bisa menyelesaikan kuliah tepat 4 tahun sesuai dengan ultimatum kakak saya, di setiap semester pula saya harus mempertahankan IPK saya demi mendapatkan beasiswa untuk membantu membayar kuliah saya sendiri dan membeli diktat. Saya juga tidak memiliki alat transportasi, uang saku sangat terbatas.

Saya hanya memiliki kemauan, kemampuan dan impian. Namun lebih dari semua itu, saya memiliki sahabat-sahabat yang begitu baik hati. Saya masih ingat ada yang suka bertanya pada saya setiap kali jam istirahat ‘Udah makan belum?’, sebelum saya menjawab, mereka sudah menyodorkan semangkok bakso pada saya. Sering juga mereka membawa saya ke rumah mereka, selain untuk kerja kelompok, juga supaya saya ikut sejahtera pangan dan papan. Pun ada diantara mereka yang dengan penuh pengertian mengantar jemput saya. 4 tahun berlalu dan mereka tak pernah mengeluh untuk selalu mendukung saya.

Hingga tiba saatnya saya ujian skripsi. Mata kuliah sudah saya ambil semua dan skripsi pun sudah diapproved oleh sang dosen killer, sayangnya hanya kurang pendadaran, saya harus ikut ujian di semester berikutnya, itu berarti saya harus membayar kuliah lagi, sementara 4 tahun sudah berlalu dan kakak saya tak mau memberi uang lagi. Ibu dan kakak saya kedua mengumpulkan uang untuk saya, dan itupun masih kurang.

Sisi ajaib yang masih saya ingat sampai sekarang adalah sahabat-sahabat saya patungan demi bisa membantu saya membayar uang kuliah. They just gave it to me. It’s amazing.

Sampai sekarang kami masih saling bertemu, mendukung dan memiliki. Saya berharap saya tak hanya menjadi seorang Sahir, semoga saya juga adalah Billu untuk mereka.

Ini hanya salah satu kisah ajaib yang saya punya. Selebihnya, saya memiliki begitu banyak kisah ajaib dan billu-billu yang lain, yang mereka mungkin tak akan pernah menduga kalau saya sangat mensyukuri kehadiran mereka dan betapa mereka begitu berkesan di hati saya. I love you all, guys.


One thought on “My Billu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s