I’m sorry, I cut down your tree*

Kamu tidak pernah menyangka aku menjadi sosok lebih dari yang kamu sangka.

Aku berdiri terdiam tak mampu lagi berkata-kata ataupun melakukan apapun saat melihat kamu. Kamu merapuh dan layu, matamu mencari-cari orang ataupun kejadian untuk sekali lagi kamu persalahkan atas keadaanmu saat ini. Kamu hancur.

Kalau saja kamu tahu, sejak dulu aku tidak pernah terlalu peduli dengan dunia di luar diriku, bahkan termasuk kamu. Aku bahagia berteman dengan khayalan dan hidup di dunia kecilku.

Kalau badai menerpa kita, kamu lebih memilih untuk mencoba mengalahkan badai itu, sementara aku tetap duduk dengan manis di dunia kecilku yang sudah kupersiapkan untuk mengantisipasi segala badai. Badai demi badai menerpa, dan kamu terus mencoba melawannya, sehingga tiap kali mentari bersinar, kamu melewatkannya karena kamu sudah terlalu lelah. Sementara aku menikmati terpaan sinar mentari untuk mewarnai dunia kecilku.

Aku pernah mengalami badai terhebat dan terburuk. Badai yang membuatku ingin mengakhiri seluruh nafas dalam hidupku. Kamu menertawakanku. Aku tidak peduli. Aku tidak pernah terlalu sibuk sepertimu yang selalu memikirkan kalah dan menang, benar dan salah. Aku hanya merasakan sakitnya kehilangan seseorang karena terpisahkan oleh dunia yang berbeda. Dunia kecilku meredup.

Kamu tertawa terbahak-bahak dan berpikir aku kalah total darimu. Kamu memperlakukan aku dan orang-orang di sekelilingmu dengan sangat buruk, karena pada suatu waktu kamu merasa sangat kuat dan menang. Awalnya aku peduli dan terus melawanmu, supaya kamu bisa sedikit saja memahami hidup dari sudut pandangku. Sia-sia. Aku memilih diam dalam dunia kecilku yang terus meredup.

Suatu hari mentari bersinar amat sangat cerah. Dunia kecilku menjadi terang benderang. Aku bertumbuh. Cinta membuatku hidup. Aku tumbuh pesat, teramat pesat. Kamu terguncang. Kamu kerahkan segala kemampuanmu kali ini tidak untuk melawan badai, namun kenyataan ini.

Kalau saja kamu tahu, aku tidak pernah peduli dengan semua itu. Bukan tidak bahagia dengan semua bintang yang berhasil aku raih, namun aku bahagia bukan karena pembuktian, eksistensi dan kehebatan. Aku bahagia karena aku mendapatkan cinta lebih dari yang aku sanggup harapkan di dunia ini.

Di saat aku terus bertumbuh, kamu pun sekuat tenaga terus mencari cara untuk membuatku jatuh dan hancur. Kamu lupa menolong dirimu sendiri.

Awalnya aku berpikir, “Salahkah aku dengan semua kehebatanku?”

Aku tidak mampu memahamimu, karena aku tidak pernah berambisi menjadi hebat atau menyaingimu. Aku melakukan yang terbaik atas apa yang kumau dan mampu, sekali lagi kalau saja kamu mau tahu, demi senyuman bangga di wajah Ayah.

Kamu makin membabi-buta melawan kenyataan hingga akhirnya kamu meredup. Kamu hancur.

Aku tidak pernah berjuang menjadi hebat atau terhebat. Namun sejak aku hadir di dunia ini, aku tahu aku tidak akan pernah sama dengan kebanyakan anak lain. Hanya Ayah yang menyadari hal ini.

Dengan menerima dan menjalani takdirku, aku tahu jalanku tidak akan mudah bukan untukku, namun untuk semua orang disekitarku, terutama kamu.

Di titik ini, akhirnya aku hanya bisa berkata, “I’m sorry, I cut down your tree.”

*Inspired by a movie entitled Fred Claus. Being a Santa Claus’s brother’s never been easy.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s