Satu Piano, Satu Soulmate, dan Sebuah Pernikahan di London [1]*

Kamu adalah denting piano yang aku suka. Kamu selalu ada di hati dan kita melihat dunia ini dengan cara yang sama. Namun tiba-tiba kamu pergi, menyisakan ruang untuk orang lain di dalam hatiku.

Lophey.

Aku memainkan piano ketika kamu datang menghampiriku. Kamu duduk di sebelah kiri dan tangan kirimu mulai berdansa dengan tangan kananku di atas tuts-tuts piano. Kita mengikuti alunan nada dengan harmonis sekaligus demi menafikan kebisuan diantara kita. Dulu kamu yang selalu ingin cepat-cepat mengakhiri sebuah lagu, tanpa mengingkari janji yang kau minta diantara kita.

“Apapun yang terjadi pada kita, saat kita bermain piano bersama, jangan pernah berhenti tiba-tiba ya. Kamu boleh melewatkan satu refrain atau bagian coda, tapi kita harus mengakhiri sebuah lagu dengan semestinya. Supaya tidak perlu ada satu diantara kita yang harus menyelesaikannya sendiri. Would you?” Pintamu saat itu.

Kali ini aku mengkhianati janji diantara kita.

Kamu tersentak kaget, namun kamu akhirnya tetap menyelesaikan lagu yang kita mainkan. Sementara aku duduk diam dengan kedua tanganku gemetar. Aku marah.

Kamu mengakhiri lagu dengan sangat lembut dan sangat sempurna. Itulah Bima, pianis kebanggaan negeri ini. Aku tidak mengingkari kehebatannya.

“Kenapa kamu berhenti seperti itu?” tanyanya lirih namun tandas.

Aku tersenyum. Kamu tidak berubah.

“Kamu masih mencintai piano lebih dari siapapun.” Jawabku tegas namun sendu.

Lalu kamu menggenggam tanganku, yang segera kutepiskan.

“Kamu tidak bisa datang begitu saja dan mengambil bagian dari lagu yang sedang kumainkan, seperti kamu yang datang dan pergi dalam hidupku semau kamu, Bima. Cinta dan hubungan antara dua manusia juga butuh keharmonisan, dan kamu tidak bisa memaksakan hal itu saat aku tak menginginkannya.”

Kamu kembali tersentak kaget karena tidak pernah menyangka bahwa pada suatu titik aku bisa menolak dan menjelaskan perasaanku dengan gamblang.

“Aku tahu dan menyadari semua kesalahanku. Aku menginginkan kamu kembali dalam hidupku, bukan lagi untuk sesaat, namun selamanya.”

Kali ini aku yang tersentak kaget. Semestinya kemudian mataku berkaca-kaca dan tersentuh, namun aku memilih untuk berdiri dan berpaling. Dramatis seperti sinetron, tapi aku suka.

“Kamu terbiasa menjadi seorang juara, Bima. Kamu kali ini menemukan saingan yang tak kalah hebatnya dengan kamu. Hasrat menjadi pemenang yang membuat kamu ada disini.”

Aku mulai melangkah pergi ketika kemudian kamu menahanku dengan kata-katamu.

“Kali ini aku tahu aku punya kemungkinan besar untuk kalah. Namun kalau aku tidak berjuang untuk mendapatkanmu lagi, aku tahu aku tak akan pernah bisa menjadi pemenang yang sesungguhnya.”

***

Alexander.

Papa dan Mama menatapku dengan heran. Selama beberapa detik kami terperangkap dalam kebisuan yang aneh dan canggung. Persis seperti waktu Lophey menyampaikan tiga syaratnya padaku. Hanya saja kali ini, aku berada di posisi Lophey.

Waktu itu aku kaget dan histeris. Kali ini kedua orang tuaku mendadak tertawa terbahak-bahak.

“Kalian setuju?” Tanyaku singkat penuh harapan.

Kedua orang tuaku berhenti tertawa walau masih tampak geli. Mama mulai berbicara.

“Kamu anak lelaki satu-satunya dalam keluarga kita. Kami sudah menyiapkan dana besar untuk pernikahan kamu.”

Papa berdeham sambil mendesis dengan penuh humor, “Ehem… Dengan begitu Mamamu tentunya punya impian sendiri tentang pernikahan kamu… ehem.”

Kalau ini bukan tentang pernikahanku, aku pasti tertawa dengan cara orang tuaku yang selalu penuh canda tiap kali mereka akan menyampaikan sesuatu pada anak-anak mereka.

Barangkali aku tampak tegang dan bingung, namun Mama seketika menggenggam tanganku dan menatapku dengan lembut.

“Mama mengenal Lophey dan bisa menebak arti di balik ketiga keinginannya itu. Kami akan mempertimbangkannya. Sampaikan salam dan terimakasih Mama pada Lophey karena dia tidak membuat Mama meributkan hal sepele seperti undangan minimalis berwarna hitam, souvenir ataupun catering.” Kata Mama sambil mengedipkan matanya dengan jenaka.

Aku tersenyum.

Dengan berbekal senyum itu aku menemui Lophey. Kusampaikan salam Mama padanya. Aku berharap Lophey akan tersenyum bahagia, menatapku dengan mata yang berbinar-binar, dan menjerit bahagia di dalam pelukanku. Ternyata Lophey hanya diam membisu dan menghindari tatapanku.

“Adakah syarat lain, Lophey?” Tanyaku berhati-hati.

Lophey tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Apakah dengan begini, pernikahan kita bergantung pada jawaban Mama kamu?” Tanya Lophey ringan menusuk.

[To be continued]

*Cerber ini berasal dari Cerpen yang ada di blog ini. Oleh karena permintaan pembaca @munggur, here it is the short story becomes serial story🙂

Cerpen sebelumnya: Satu Piano, Satu Soulmate, dan Sebuah Pernikahan di London


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s