Satu Langkah

Memulai sebuah mimpi baru tidaklah semudah meraih impian yang pertama kali ada di hati.

Sayup-sayup kunyanyikan lagu ini saat kuputar ulang hidupku di suatu masa.

It’s not suppose to feel
It’s not suppose to be like this

I feel that I can’t breathe
I feel that I can’t be my self

Sekitar 14 tahun yang lalu.

Aku tidak menemukan satu pun alasan untukku meneruskan hidup. Aku berpikir barangkali kalau aku dan ayah bertukar nyawa, itu akan lebih baik. Ayah akan jauh lebih berguna untuk dunia ini daripada aku. Ayah bisa hidup tanpa aku. Sementara aku sangat bergantung padanya.

Namun aku tahu, Ayah menginginkan hal yang sama denganku. Ayah memilih berhenti bernegoisasi dengan sang pemilik kehidupan. Bukan menyerah karena tak ada hasrat untuk hidup, namun supaya aku memiliki lebih banyak kesempatan.

Mengambil benda tajam dan menggoreskannya di nadi adalah jalan paling mudah dan menggiurkan. Sakitnya hanya akan sementara dan tak akan teramat sakit dibandingkan harus menanggung rasa kehilangan yang teramat sangat saat Ayah pergi.

Di pagi hari, aku tidak ingat apakah aku pernah tiada sehingga lahirlah aku yang baru atau ini semua hanyalah permainan pikiran. Entahlah. Namun sejak hari itu, aku menjadi pribadi yang berbeda. Tak berubah drastis dalam sekejap. Semuanya dimulai dengan satu langkah.

Satu langkah untuk menentukan apakah aku akan meneruskan hidup atau tidak. Satu langkah untuk segera menyeka air mata dan menghirup nafas dalam-dalam. Satu langkah untuk menjadi sangat benci dengan kematian dan semua hal yang bersifat ketergantungan seperti cinta dan komitmen. Satu langkah untuk menjalani detik demi detik yang terasa sangat menyakitkan.

Sekitar 11 tahun yang lalu.

Hidup menyapa dengan keajaibannya. Aku tidak akan pernah menyangka bahwa aku menemukan diriku di momentum yang luar biasa ini. Semua rasa membuncah. Menjadi pemenang. Living on the top of the world. Hanya diperlukan satu langkah untuk kemudian lepas dari euphoria. Satu langkah untuk segera menyusun sebuah impian.

Sekitar 9 tahun yang lalu.

Hidup tak henti-hentinya memberi kejutan. Sekali lagi menjadi yang terpilih diantara ribuan orang di negara ini. Once again, living on the top of the world. Hanya diperlukan satu langkah untuk menyempurnakan talenta dengan deretan nilai memuaskan dalam bidang akademik.

Sekitar 7 tahun yang lalu.

Aku mulai tergila-gila dengan kesempurnaan. Aku pun suka mengidolakan orang-orang aneh yang memiliki kemampuan luar biasa dengan kepribadian mengerikan. Aku suka bermain-main dengan semua itu di setiap kelas yang kuikuti. Kututup masa akademik dengan nilai memuaskan dari seorang dosen killer. Rasanya menyenangkan dan memuaskan. Lalu diperlukan hanya satu langkah tekad dan nekad untuk memasuki dunia kerja demi mencapai impian yang sudah kusahkan dalam hatiku.

Ternyata tidak semudah aku bermain di bangku kuliah. Butuh kesabaran untuk mengirim lamaran demi lamaran. Berusaha menerima apapun pekerjaan demi meloncat dari satu batu ke batu yang lain.

Bolehlah sedikit berbangga karena diterima di sederet kantor bergengsi di negeri ini. Hanya satu langkah keberanian untuk memilih yang barangkali bukan yang terhebat namun terbaik demi meraih impian.

Sekitar 5 tahun yang lalu.

Aku meraih impianku. Yup, It’s not only living on the top of the world. I had the world in my hand.

Rasanya tak terkatakan. Aku tidak akan mengurai perasaan itu dengan kata-kata terindah sekalipun. Cukup kurasakan dan kunikmati. Namun bukan berarti langkah pun terhenti di titik itu. Tetap dibutuhkan satu langkah berani untuk menghidupkan mimpi yang telah menjadi kenyataan.

Hidup dalam dunia mimpi sungguh menyenangkan. Segalanya terasa benar. Apapun kesusahan yang terjadi tak terasa. Semua perjuangan pada akhirnya memiliki ujung. Rasa sakit karena kehilangan Ayah perlahan memudar. Aku yakin pada akhirnya Ayah tersenyum di sana. Mimpi pun makin sempurna saat aku menjadi tak kalah tersohor dengan Sang Alchemist dalam novel penulis favoritku. Semua memperebutkan. Aku pun menikmati untuk beberapa saat menjadi Tuhan dalam drama penuh impian ini.

Namun efek impian itu ternyata memang memiliki tanggal kadaluarsa. Euphoria memudar tergantikan dengan rasa hampa yang teramat sangat. Bagaikan kereta kuda tanpa kusir. Seperti penjelajah yang kehilangan kompas. Tiada arah.

Diperlukan satu langkah untuk kembali merajut sebuah impian. Sebuah langkah yang barangkali terlihat lebih ringan namun sarat dengan rintangan seperti umur dan realita yang mengikis keyakinan.

Kali ini sungguh terasa berbeda. Impian kadang tak lagi terasa seperti tujuan, namun beban. Kadang kebutuhan hidup mendesak impian ke batas-batas telak antara imajinasi dan fantasi belaka.

Satu langkah. Sekali lagi hanya diperlukan satu langkah. Satu langkah untuk memulai. Sembari aku bersenandung lagu ini.

“Take me out of here. I’m not my self, not I used to be.
Yes I am strong, I used to be a supergirl. Well I just miss being me. “
 

-D’Cinnamons-


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s