Lokomotif Biru*

Dia lokomotif biruku. Tidak pernah aku merasakan kebetulan yang terlalu unik ini.

Olive. Cewek ini berbeda dari semua cewek yang pernah aku kenal. Susah untuk didekati tapi patut diperjuangkan. Aku adalah cowok kesekian yang berusaha menarik perhatiannya dengan tujuan untuk dapat memilikinya. Dengan kenyataan kalau Olive diinginkan banyak pria, Olive tentunya punya banyak kesempatan untuk memanfaatkan seluruh perhatian dan cinta yang disodorkan padanya. Namun Olive selalu diam dan tersenyum. Dia akan memilih sendiri dengan mengikuti kata hatinya.

Aku sering bertanya-tanya apakah yang sekiranya bisa menaklukkan hatinya. Kucoba mencari tahu dari semua orang di sekitar Olive.

Boli. Sahabat Olive yang melambai abis kuajak belanja di Singapura. Supaya aku bisa mengorek banyak info tentang Olive.

“Boli, cerita donk tentang Olive.”

Boli langsung melotot lalu tertawa senang, “Bukan cuma elo yang kasih sogokan ke gw buat tahu gimana Olive, lex.”

“Lo pasti tahulah Olive maunya cowok kayak apa.”

Boli menggeleng-geleng girang, “Gw gak tahu, Alex Praja! Olive itu kalau memilih apapun pakai feeling. Kriterianya gak pernah gamblang. Absurd. Jadi cuma dia yang tahu. So, maaf ya kalau lo udah keluar biaya mahal, ternyata gw-nya clueless hihihi”

Aku terdiam. Tiba-tiba Boli muncul dari tumpukan belanjaannya dan berbisik, “Apapun yang elo lakuin, gak akan ngefek di hati Olive, Lex. Be just the way you are ajah. Soalnya tuh anak pake wangsit kali yah kalo mau milih cowok. Semoga beruntung ya boookk!!”

Lepas dari Boli, aku menemui sahabat Olive lainnya. Cewek gothic yang ceria. Voni. Untungnya nih anak agak murahan. Jadi lunch di Hotel Mulia udah more than enough.

“Gimana ya, lex. Gw tuh mau banget kasih lo kisi-kisi, tapi…”

“Emangnya ujian, Von?” Sahutku asal.

Voni tertawa dan sambil menyantap makanan dengan penuh semangat, Voni mulai menjelaskan.

“Lex, gw tuh bakal seneng banget kalau lo jadi cowoknya Olive. Gw juga sebenarnya gak mau ngecewain elo. Olive itu emang susah ditebak anaknya. Tapi satu yang gw tahu, kalau dia udah memilih, dia bakalan sayang banget dan gak mudah berpaling.”

Aku mendesah, “Iya, gw tahu, Von. I wish she chooses me.”

Aku tetap berusaha menaklukkan hati Olive. Hingga suatu hari aku hanya tersenyum pahit mendengar Olive akhirnya sudah memilih satu hati. Demi menjawab semua rasa penasaranku, aku mengorbankan harga diriku untuk bertanya.

“Kenapa dia, Liv?

Olive tersenyum sangat manis.

“I have no reason, just feeling, Lex.”

“Please describe it, Liv.”

Olive menatapku lekat-lekat. Aku akhirnya balas menatapnya.

“Aku memang pernah berharap kamu memilih aku, Liv. Tapi mungkin emang udah takdirku kasih tak sampai, harapan pun melambai.”

Olive tertawa.

“Aku tahu kok, Lex. Maafkan aku, Alex.”

“Never mind. Aku orangnya paling bisa kok nerima kenyataan. But at least please give me the answer. Liv.”

Olive mengangguk dan matanya menerawang. Ia tampak lebih cantik karena rona bahagia menghiasi mata dan wajahnya.

“Dia pernah ada di masa laluku. Sebagai figuran. Aku tak pernah benar-benar mengenalnya, namun aku cukup tahu tentangnya. Suatu hari feeling itu datang begitu aja, Lex. You just knew it.”

Olive tersenyum, lalu meneruskan kembali kata-katanya.

“I said to my self that I want him. Then time goes by, Lex. Tanpa pernah aku duga, tiba-tiba dia hadir lagi dalam hidupku. He said he wants me, Lex. Walaupun aku sering memperlakukannya dengan tak adil, dan aku juga sadar, aku bukan orang yang mudah. Dia tetap tak pernah berubah, Lex.”

Aku tersenyum dan mengerti.

“Kamu hanya butuh sebuah feeling untuk memilih. Lalu kamu memberinya waktu untuk membiarkan semuanya berjalan semestinya.”

Olive mengangguk bahagia.

“Dia lokomotif biruku. Begitu aku menyebutnya, Lex. Dia akan selalu menjadi lokomotif biru yang akan aku nantikan dimanapun aku berada. Pun aku akan selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. I’m so sorry, Lex.”

Aku mengangguk dan kami berpelukan selama beberapa saat.

“I’m sad you’re not mine. But I should be happy for you, Olive.”

Olive tersenyum, “Thank you, Lex.”

“Kebetulan di antara kalian unik, yah. Mungkin memang selama ini kalian saling mencari.” Kataku tulus.

“Aku tak pernah merasakan kebetulan yang terlalu unik ini, Lex. Bikin aku makin yakin dia lokomotif biruku.”

Olive dengan lokomotif birunya. Aku kembali membenamkan diri dalam alunan lagu Yovie Nuno.

*Inspired by Yovie Nuno ‘Galau’.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s