Black Suitcase*

Maafkan aku. Aku harus (selalu) pergi.

Aku terpana melihat koper favorit Vey teronggok di depan kamarnya. Sementara si pemilik tak terlihat batang hidungnya. Tiba-tiba terdengar suara cempreng Vey.

“Cur? Cur? Elo ya itu?” Teriak Vey lantang tapi galau.

Aku langsung masuk ke dalam kamar Vey. Kamarnya rapi seolah memang sudah ditata sedemikian rupa untuk ditinggalkan. Tak lagi untuk ditempati. Vey duduk memandang hujan deras di tepian jendelanya. Gumpalan tissue tercecer di sekitarnya.

Kami saling berpandangan sesaat dan berpelukan lama. Baru kali ini aku melihat Vey menangis.

Vey selalu ceria dan optimis walaupun berjiwa melankolis. Aku mengenal Vey 5 tahun yang lalu. Cuma Vey yang tidak menertawakan namaku. Yup, nama asliku memang Freddy Mercury. See, jadi jelas kan kenapa Vey memanggilku “Cur”.

Setelah Vey agak tenang, aku pun segera menghujaninya dengan pertanyaan.

“Lo harus pergi lagi ya, Vey? Gak mungkin buat lo untuk stay only in one place and one heart? Apa sih yang lo cari di dunia ini, Vey? Perjalanan? Kalau elo selalu pergi itu namanya perjalanan tanpa tujuan! Perjalanan apa, Vey?”

Aku capek bertanya. Aku lelah mengajukan pertanyaan yang selalu sama pada Vey. Namun, aku tahu aku harus selalu melontarkan tanya ini padanya. Walaupun aku tidak lagi berharap Vey akan memberiku jawaban. Vey tidak pernah menjawab.

“Sebenarnya gue enggak pernah pengin pergi kemana-mana, Cur.” Jawab Vey tegas namun lirih.

Aku menatap kearah Vey dengan tatapan tak percaya. Vey menjawab!

Vey mendongak dan menatapku. Tatap matanya tetap tajam walaupun berkaca-kaca.

“Gue tersiksa dengan perasaan ini, Cur. Setiap kali gue jatuh cinta terhadap apapun, selalu ada rasa ingin meninggalkannya cepat-cepat. Rasa itu yang selalu membuat gue harus selalu pergi, Cur.”

“Vey, gue enggak akan kemana-mana. Orang-orang yang elo sayangi sekarang ini akan selalu ada buat elo. Semua hal yang elo miliki sekarang, full is yours.”

Vey menggeleng tegas, “Enggak ada yang abadi di dunia ini, Cur. Gue enggak yakin bisa melewati hal seperti dulu lagi.”

“Resiko memiliki memang selalu kehilangan, Vey. Tapi paling tidak elo memiliki sesuatu, merasakan sesuatu. Jangan lari lagi, Vey.”

Vey mendadak terlihat sangat emosional.

“Gue penginnya juga bisa sayang ke semua orang kayak gue sayang ke bokap gue, Cur! Gue pengin ada orang yang selalu ada buat gue kayak bokap gue, Cur! Tapi cukup sekali buat gue ngerasain rasa kehilangan itu, Cur! Tidak berkomitmen dan selalu pergi itu satu-satunya cara gue bertahan di dunia ini, Cur!”

Aku meraih Vey, namun Vey menjauh dan terisak.

“Gue takut kalau gue kehilangan satu orang lagi yang gue sayang, gue enggak akan pernah sama lagi, Cur. Gue akan totally kehilangan kemampuan untuk menyayangi.”

“Enggak, Vey. Gue yakin elo kuat.”

Vey menggeleng berulangkali.

Lalu aku tersadar akan sesuatu.

“Vey, selama ini elo selalu menjauh. Menjauh dari gue. Menjauh dari dunia yang elo jalani sekarang. Semuanya itu karena, but wait, akhir-akhir ini elo tidak menjauh. Sebaliknya, elo menjadi sangat terbuka dan menyenangkan. Apakah semua itu karena…?”

Vey berbisik lirih di sela isakan tangisnya.

“Don’t ever love me, so I don’t need to leave you.”

Aku ternganga. Tak mampu berkata-kata ataupun bereaksi. Vey berlari pergi. Sementara aku hanya bisa mematung. Selama beberapa saat aku membiarkan kilasan balik berputar di ruang hatiku. Vey tidak selalu ada disisiku. Vey punya banyak teman. Tapi aku tahu Vey tidak pernah meninggalkanku. Vey selalu tersenyum dan cuma Vey yang selalu jujur di setiap kata dan perbuatannya.

Aku segera melangkah keluar kamar, dan kembali mataku terpana pada koper favorit Vey. Koper itu tak dibawanya pergi. Semoga kali ini Vey pulang. Semoga Vey kali ini memutuskan untuk tinggal.

*Masih terinspirasi sama Galau -nya Yovie Nuno


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s