Available

Kamu memiliki dunia baru. Kamu membangunnya dengan tumpukan buku dan ketertarikan barumu terhadap samurai Jepang. Kamu meninggalkanku di kehidupan nyata, di saat aku mencari dan menanti kamu.

Love udah sekian lama jadi jomblo. Memang kisah cintanya yang terakhir penuh dengan tragedi tapi aku sudah mengingatkan berulangkali kalau semua itu enggak bisa dijadiin alasan untuk tidak memulai cerita cinta yang baru.

Di hari sabtu yang basah karena hujan deras, aku tahu Love pasti sedang di kamarnya sibuk mengagumi hujan. Aku langsung masuk ke kamarnya and yes, there she is.

“Lov, ini sabtu lho. Hang out, yuk.” Kataku sok bersemangat. Berhubung aku sudah punya cewek, dan dia lagi tugas keluar kota, aku tak lagi tertarik dengan acara-acara semacam hang out kalau enggak demi makhluk satu ini.

Masih sambil memandangi hujan seolah diluar sana ada Justin Bieber, Love menjawab dengan malas, “Kemana, Tom?”

“Kemana aja yang lagi hip. Entar gw suruh temen-temen gw yang ganteng ngumpul, biar gw kenalin ke elo.” Jawabku jujur dan ringan.

Muka Love langsung mengernyit.

Langsung kusambar, “Tuh kan defensif. Udah deh, apa salahnya sih nambah temen, ya syukur-syukur kalo ada yang bisa jadi temen sepanjang masa.”

Love kali ini tersenyum simpul dan sebentar kemudian menjawab dengan berbinar-binar, “Tom, barusan gw baca buku-buku samurai. Mereka itu walaupun kerjaannya berperang, mereka rajin baca buku lhoh. Biasanya abis mereka baca buku, mereka jadi lebih pintar baik dalam berstrategi atau berpikir bijak saat harus menentukan berbagai keputusan penting.”

Mukaku mendadak datar dan cuma bisa nyeletuk, “Menurut lo dapet jodoh bisa didapat dari baca buku doang?”

Love garuk-garuk kepala dan dengan muka manyun kembali memelototi hujan yang turun.

Langsung kutarik Love kearah cermin dan kupaksa Love melihat kearah dirinya sendiri.

“Gadis manis di cermin itu statusnya available, tapi anaknya gak pernah available buat cinta. Lo tahu kenapa?”

Love menggeleng-gelengkan kepalanya sambil sengaja memperlihatkan wajah bodohnya.

Dengan ketus kujawab pertanyaanku sendiri, “Karena anaknya enggak pernah mau ngadepin kenyataan kalau cinta itu emang susah-susah gampang buat dicari, tapi layak untuk diperjuangkan apalagi dimiliki, ngerti?”

Love menghempaskan kedua tanganku, dan segera duduk tepat di hadapanku, kali ini dengan muka tersenyum pintar.

“Gw diem-diem gini mikir kok, Tom. Emang lebih nyaman kalau menuruti zona nyaman terus, kayak pergi ke bioskop sendiri, punya banyak waktu buat baca buku bagus, kalau kemana-mana gak usah sibuk bikin janji, dan lain-lain. Tapi ada saatnya kalau gw down, I need someone to lean on. Kalau gw lagi menang lotere, penginnya bisa ada yang diajakin teriak-teriak seneng. I know, Tom.”

“Ciyuuus?” Sahutku cepat.

Love nyengir dan mengangkat bahu dengan santai, “We’ll see.”

‘No! No! No! No! No we’ll see lagi! Harus cepat dan tangkas dengan usaha dan cara baru!” Kataku tegas.

Love tiba-tiba menatapku lekat-lekat, “Kenapa sih lo selalu yang paling bersemangat nyariin gw pacar, Tom?”

Sesaat aku terdiam, tiba-tiba semua kata seperti lenyap dari pikiranku. Sampai sebuah bantal melayang kearahku, barulah otakku mengeluarkan jawaban urgent, “Karena gw udah punya pacar.”

Love terperangah, “Hah?! Emangnya kita harus selalu sama?”

“Bukan, bukan gitu, Love. Gw kan enggak bisa jagain elo kayak dulu lagi, jadi kalau ada yang jagain elo, gw-nya lebih tenang.”

Love tertawa renyah, “Sejak kapan lo ngerasa punya kewajiban ngejagain gue, Tom? Lo lihat sendiri kan gw baik-baik aja, enjoy dengan hidup gw.”

Aku terdiam. Love berhenti tertawa dan kali ini melihatku dengan heran.

Aku berpaling dan akhirnya kuberanikan untuk sekali ini saja tampak sok serius di depan Love, “Love, gw ngerasa wajib memastikan kebahagiaan elo, karena gw… sebenarnya gw sayang melebihi seorang sahabat sama elo. Tapi gw gak pernah bisa berani mengungkapkan semua ini, dan itu membuat gw ngerasa gw emang gak pantas bersanding sama elo. Jadi gw memutuskan kebahagiaan elo adalah kebahagiaan gw juga.”

Love terperangah heran.

“Kenapa Tom? Akhir-akhir ini lo tahu sendiri kalau gw available. Ya gw juga gak tahu juga sih jawab apa, kalo elo nembak gw, at least lo bisa mencobanya.” Tanya Love dengan ragu sekaligus jujur dan gamblang.

Aku menggelengkan kepala, “As I said before, you’re not truly available, Love. Kamu enggak sepenuhnya membuka dirimu buat kisah atau orang yang baru.”

Love menunduk dan tampak berpikir.

Aku langsung melempar bantal kearahnya, “Gw bercanda, dodol! Mana maulah gw sama elo!”

Love langsung melempar balik si bantal malang. Kami pun tertawa bahagia sore itu.

Setelah selesai perang bantal, aku tetap memaksa Love untuk hang out. Love akhirnya menurut walaupun dengan muka cemberut.

Di dalam mobil. Aku melihat Love tampak termenung.

“Love, cinta itu kadang datangnya enggak bisa diduga, dan cinta enggak pernah salah. Percaya deh sama gw. Siapa tahu emang ada banyak cowok yang sebenarnya memendam cinta ma elo.”

Love tersenyum geli, “Gw rada skeptis sebenarnya sama cinta sekarang ini, Tom. Ironis ya sama nama gw sendiri. But, yeah, apapun nanti yang mesti gw hadapin, I’ll try my best then.”

“Nah, gitu donk! Inget ya, Love. Available itu artinya ada usaha untuk berbagi hidup, perasaan dan kegiatan sama seseorang. Jangan terlalu mandiri dan pengin sendiri terus.”

Love mengangguk.

Mobil kami menembus malam. Love tidak pernah tahu bahwa di sebuah pojokan cafe, cintanya telah menantinya. Seorang laki-laki yang jauh sebelum Love menyadari keberadaannya, laki-laki itu sudah jatuh cinta padanya. Hanya dibutuhkan sedikit keajaiban dan kebaikan takdir untuk mempertemukan mereka.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s