Bound

Kamu datang dan duduk di sebelahku. Selama beberapa saat kita terdiam. Lalu tak lama kemudian kita berpelukan. Ada rasa ajaib memenuhi ruang rasa kita. Kita yang telah memenuhi takdir sedemikian rupa.

Ratusan hari telah kita lewati bersama. Hingga hari ini, kamu masih selalu berbinar tiap kali aku datang padamu. Kamu pun masih seperti dulu, tak pernah berubah sedikitpun padaku. Awalnya aku tidak menyadari semua ini, sampai pada akhirnya ada saat dimana kita harus berpisah lagi. Aku kehilangan kamu.

“Are you okay there?” Kataku tegas namun galau.

Kamu memaksakan senyum di wajahmu demi untuk tidak membuatku khawatir, “Not that good.”

Jawabanmu lebih jujur daripada senyummu. Aku sedih melihatmu. Ingin rasanya memuntahkan begitu banyak kata manis untuk menghiburmu, tapi kita sama-sama tahu, kita hanya butuh ruang bersama untuk menikmati waktu yang sunyi namun menenangkan ini.

“How are you?” Tanyamu padaku dengan tatapan matamu yang tajam.

“I can’t be better without you.” Kataku jujur sambil tersenyum sendu.

Berbicara denganmu tidak pernah membutuhkan banyak kata.

Kebersamaan kita telah kupenuhi dengan begitu banyak hal yang barangkali kalau kupikirkan kembali sangatlah tidak adil untukmu. Dan saat kurasakan kembali, aku sangat menyesalinya. Kamu adalah keinginan yang pernah aku sampaikan pada langit, dan langit menjadikanmu kenyataan yang teramat indah. Namun aku tak pernah sungguh-sungguh menerimamu dengan sepenuh hati.

Sementara kamu tampaknya tidak peduli dengan semua itu. Tampaknya kamu lebih suka mempercayai keyakinan dirimu sendiri tentang aku.

“Dari awal aku yakin sama kamu.” Katamu padaku waktu itu. Dan saat itu aku lebih suka memalingkan muka dan tidak mempercayai kata-katamu.

Sekarang di saat aku menginginkan semua kembali seperti dulu, dan aku ingin menebus semua kesalahanku padamu, aku tak mampu mengingkari bahwa sekarang ini aku ingin pergi dari dunia kita, bukan untuk meninggalkanmu, tapi untuk meneruskan langkah yang tertunda.

“Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menantimu.” Kataku ragu.

Kamu tak mengeluarkan sepatah katapun. Kamu menerawang jauh.

“Kamu salah satu rantai yang ingin kubiarkan terus mengikatku disini.” Kataku lugas namun kusampaikan dengan terbata-bata.

Lalu kamu menatapku lekat-lekat dan berkata dengan sangat tenang namun terdengar sangat rapuh, “Please, just wait.”

Biasanya dengan mudah aku akan pergi begitu saja seperti yang selama ini aku lakukan pada siapapun. Tapi ini kamu.

“Pertemuan kita membuatku yakin bahwa masih ada keajaiban di dunia ini. Bahwa sebuah mimpi masih sangat mungkin untuk kembali menjadi kenyataan. Dan aku masih ingin meraih mimpi yang masih tersisa di benakku.” Kataku penuh semangat sekaligus sedih.

“We will reach it together.” Katamu dengan sangat yakin.

Aku tak mampu lagi berkata-kata. Begitupun kamu.

Kita berdua sama-sama tahu bahwa kita kali ini tidak lagi bisa saling menjanjikan apapun satu sama lain. Aku tahu bahwa kamu akan selalu berusaha melakukan dan memberikan apapun untuk bisa menahanku disini. Aku pun juga akan berusaha sekuat kumampu untuk masih terus menantimu.

Namun waktu yang terus berputar makin mendesakku untuk segera menentukan langkah.

“It won’t be easy for me to leave you behind. But I will consider all the best before I give you my decision.” Kataku lembut namun tegas.

Kamu mengangguk mengerti.

Untuk beberapa saat kita saling berpelukan.

“Thanx a lot.”

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s