Beyond

Beauty_Behind_The_Mask_6_by_welshdragonMimpi terburuk bagimu adalah saat kamu menyadari bukan kamu yang menjadi inspirasi tulisan-tulisanku selama ini.

Malam itu kamu ingin memastikan bahwa aku masih milikmu dan aku belum berpindah hati darimu. Kamu memaksakan sebuah pertanyaan padaku.

“Apakah aku masih satu-satunya dalam hatimu?” Teriakmu lembut mengiba.

Aku terhenyak lama sekali. Terdiam. Bukan karena tak mampu menjawab pertanyaan itu, namun aku tak mengerti bagaimana bisa kamu mengajukan pertanyaan selancang itu.

Kamu tak sabar, dan mengulangi lagi pertanyaanmu, “Cuma aku kan dalam hati kamu?”

Banyak orang barangkali akan memilih jawaban yang diplomatis karena pasti lebih merdu terdengar dibandingkan dengan jawaban yang jujur. Namun aku selalu percaya ada hal-hal yang walaupun menyakitkan, sebaiknya tetap disampaikan dengan apa adanya.

“Apa yang ada dalam pikiranmu, sehingga kamu merasa bisa mengajukan pertanyaan itu padaku?” Jawabku penuh tanya.

Raut wajahmu membeku. Tampaknya kamu tak menyangka aku akan berkata seperti itu.

“Bukankah selama ini…” Jawabanmu menggantung pasti. Kamu kehilangan kata-kata.

“Kamu selalu istimewa untukku.” Kataku tanpa sedikitpun ingin menghiburmu. Sekali lagi, aku selalu suka memberi kejujuran.

Matamu kembali berbinar mendengar perkataanku.

“Setiap orang selalu istimewa untukku. Siapapun mereka, baik yang memberiku cinta ataupun benci. Kamu salah satu dari deretan orang-orang yang masuk dalam kehidupanku. Itu yang membuatmu istimewa. Sekali lagi, sama seperti yang lain.” Jelasku panjang lebar, berharap kejujuranku bisa terbalut ketulusan yang bisa kamu rasakan.

Namun kamu marah, sangat marah.

“Tidak!” Teriakmu singkat namun menghujam tajam.

Aku tak mengerti lagi mesti bagaimana denganmu. Pada kenyataannya memang kamu pun orang yang istimewa untukku, walaupun itu berarti kamu mesti bersanding dengan yang lain.

“Karya-karya kamu, tokoh utama pria yang ada dalam karyamu, it’s all about me, isn’t?” Desakmu lebih lanjut.

“Karya-karyaku fiksi. Apakah kamu lebih suka menjadi tokoh dalam karya fiksiku, atau dalam kehidupan nyataku?

“Tidak! Katakan bahwa paling tidak beberapa diantara karyamu, akulah yang menjadi inspirasimu!” Teriakmu murka.

Kamu terus menuntut jawaban yang tidak aku miliki untukmu. Sementara kamu tak sedikitpun menghiraukan pertanyaanku, yang sebenarnya bisa memberikan begitu banyak jawaban untukmu.

Beberapa saat kita terdiam.

“Siapakah orang yang telah menggantikan aku dalam hatimu?” Tanyamu tanpa pikir panjang.

Aku terus terdiam. Rasa-rasanya kamu hanya berharap aku mau mengucapkan kata-kata yang tertera dalam skenario pikiranmu sendiri. Namun aku enggan melakukan hal itu, karena semuanya berbanding terbalik dengan jawabanku.

“Okay, paling tidak jawab pertanyaan terakhirku ini. Adakah orang-orang yang sangat teristimewa untukmu dan siapakah mereka?”

Kali ini demi mengakhiri sesi tanya jawab yang tak kuinginkan ini, aku menjawab.

“Ada. Mereka semua sudah meninggalkan dunia ini.”

Kamu makin membeku. Sementara aku cepat-cepat berpaling dan pergi.

The end.


One thought on “Beyond

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s