My Super(wo)man

OLYMPUS DIGITAL CAMERAYou are always be.

Di hari paling istimewa dalam hidupku ini, yang aku tunggu-tunggu bukan suamiku, tapi kamu. 30 menit telah berlalu dari jam yang kamu janjikan.

Tiba-tiba terdengar ketukan sepatu kamu dengan ritme cepat, menyaingi ketukan sepatu genit dari tante-tante disekitarku.

Aku menoleh tepat ketika kamu melangkah masuk ke dalam kamarku yang penuh dekorasi bunga putih. Kamu terpana menatapku.

“Wow, kayaknya bidadari semalam beneran turun dari langit ya, sayang. Kalau kayak begini caranya, kayaknya aku udah enggak ada gunanya buat kamu, sayang.”

Aku tersenyum senang mendengar kamu tetap cerewet dan bawel, bukannya melo.

“Kamu selalu berarti buat aku, Hans.” Sahutku lembut namun yakin.

Kita saling bertatapan, lalu kamu mengedipkan salah satu matamu dengan genit seperti biasa, dan tanganmu segera beraksi dengan lincah di kepala dan wajahku.

“Sorry ya sayang, aku telat. Abisnya ya gitu deh.” Jelasnya merajuk.

Kutatap lekat-lekat wajahnya, dan baru kusadari matanya masih samar-samar membengkak.

“Timun kamu emangnya abis? Atau Concealer kamu?”

“Ah sayang, tahu aja sih.” Katanya makin merajuk dan lirih.

Kugenggam salah satu tangannya selama beberapa saat, sampai kamu mengangguk dan menatapku sekilas sebagai isyarat kamu sudah kembali tenang.

“Sayang, hari ini kamu cantik sekali. Pengantin paling cantik yang pernah aku temui.” Katanya penuh penekanan.

Aku terdiam. Hatiku selalu meredup tiap kali kamu memberikan sebentuk perhatian padaku. Seandainya kata-kata itu keluar bukan dari mulut yang basah karena lip gloss dan suara yang merdu.

“Kamu tegang, sayang. Aku pijat bentar ya.” Katanya lembut.

Aku kembali terdiam. Seandainya saja pijatan itu bukan dari jari-jemari yang lentik.

Kamu menatapku barangkali karena aku sedari tadi terus terdiam. Sekali lagi, ah seandainya mata yang menatapku itu tanpa bulu mata palsu dan alis yang tertata sangat rapi.

Aku pun akhirnya tak sanggup menahan air mataku.

Kamu menghapus air mata di pipiku dan memelukku.

“Kenapa kamu tega memberikanku pada hati yang lain?” Tanyaku di sela tangisku.

Diam. Kamu tak menjawab, hanya memelukku hingga tangisku mereda.

Lalu kamu melepaskan pelukan, dan kita bertatapan.

“Kamu beruntung, sayang. Kamu punya Superman, suami kamu. Dan aku akan selalu menjadi superwoman kamu.” Katanya yakin dan ringan.

Mau tak mau aku tertawa di sela air mataku.

Tiba-tiba ibu mertuaku menyeruak masuk, “Pengantin wanita sudah siap atau belum?”

Kamu langsung berdiri dan mengambil alih situasi, “Sebentar lagi pengantin wanita akan siap lahir batin. Capcuuus!!”

Semua tertawa. Hanya aku dan kamu yang berusaha menerima situasi baru yang terjadi diantara kita.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s