I Love the Rain

rainYou’re always the rain I always love.

Sebelum ada teori hujan, setiap kali hujan datang terasa ada keajaiban. Sampai kini pun, hujan masih sebuah keajaiban untukku. Kamu adalah hujan yang selalu aku nantikan.

“Di negara tropis begini, hujan jarang terjadi, sayang. Kalaupun mau hujan tiap hari pun adanya juga di musim tertentu. Memangnya kamu mau punya kekasih seperti hujan?” Tanya seorang sahabat dengan intonasi lembut namun penuh kekhawatiran.

Aku mengangguk dengan pasti sembari terus menatap awan hitam yang menggantung dan menikmati terpaan angin yang dingin menerpa.

“Mendung. Sebentar lagi dia datang.” Kataku sendu dengan kebahagiaan tak tertahan.

Gerimis mengawali sebuah hujan yang deras. Kamu hadir, itu lebih dari cukup untukku.

“Kamu masih menungguku.” Katamu lugas.

Kita duduk diam. Kita basah kuyub. Tangan kita bersebelahan. Hanya hati yang mampu berkata apakah yang bisa menggerakkan tanganmu untuk menggenggam tanganku.

Namun kamu akan selalu sibuk membicarakan kecintaanmu tentang alam semesta. Kamu pun hanya tertarik pada impian-impian milikku.

Bukan tentang cinta. Bukan tentang kamu dan aku dalam suatu dunia.

Hujan mereda dan kamu pergi. Aku tak pernah tahu lagi kapan aku bisa kembali berjumpa denganmu.

Namun layaknya hujan di bumi ini, kamu selalu ada di duniaku. Kita akan selalu bersentuhan dan merenggang batas antara kita namun tak akan mungkin dapat saling memiliki.

Musim kemarau adalah musim yang aku benci, memberi jarak yang terlalu jauh diantara kita. Hanya sesekali kamu hadir. Namun aku tetap setia menantimu. Selamanya. Disini.

rain2Setetes air demi air ini biarlah menjadi genangan. Cinta. Hanya untuk kamu.

Air melepaskan aku dari ketiadaan.

Air yang turun dari langit itulah aku. Bagaikan bidadari, aku tak mampu tinggal selamanya di bumi. Aku datang dan pergi seiring cuaca yang tak menentu.

Begitu banyak orang menantikanku. Tarian hujan tak mampu lagi membujuk awan untuk membiarkanku hadir. Namun begitu, aku tetap suka menjadi pelengkap keajaiban di alam semesta ini.

Hanya satu gadis yang sanggup menawan hatiku, walau juga tak mampu meramalkan apalagi menahan kehadiranku.

Suatu hari aku bertanya pada langit, “Haruskah aku mengatakan cinta pada seseorang yang walau aku tahu dia punya rasa yang sama denganku, namun kami tak mungkin saling memiliki?”

Langit diam. Petir menyambar seolah ingin mengutarakan ketidaksetujuannya tentang aku yang berusaha melawan hukum alam.

Awan biru rela mengundurkan diri demi kehadiran awan hitam, dengan begitu, aku mampu menemui gadis itu.

Gadis itu duduk di sebuah taman yang indah. Ia yang selalu menantiku.

Lalu kami duduk bersama. Biasanya ia akan menceritakan mimpi-mimpinya, dan aku memilih tak berbicara apapun tentang cinta. Hanya hatiku yang bisa berkata Aku tak mampu menjadikan diriku sebagai milikmu. Namun aku akan selalu hadir hanya untuk kamu.

Aku benci musim kemarau. Namun sesekali aku mencuri waktu untuk dapat sekejap hadir untukmu. Kamu yang tak pernah lelah menantiku. Aku akan terus berusaha hadir di sepanjang tahun seumur hidupmu.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s