Marshmallow*

marshmallow7“Gw enggak kemana-mana, cuy. I’m still here for you.”

Hari itu kamu marah, kamu memporak-porandakan begitu banyak kisah diantara kita. Kamu memilih untuk menerima segala kata tanpa arti, memeluk keramaian tanpa rasa, dan membiarkan terlalu banyak warna membuyarkan gambar yang telah kita lukis bersama. Berteriak pun tak akan ada gunanya, aku memilih diam.

Sedikitpun aku tak membenci kamu. Semua yang telah kamu lakukan padaku tetap tertulis di setiap lembaran hidupku. Tak semuanya indah, tapi aku menyukainya sebagai perjalanan antara aku dan kamu.

Kamu membacaku dengan baik. Sangat baik. Hanya satu hal yang kamu abaikan saat itu, kamu ingin memilikiku sepenuhnya. Aku meronta dan berharap kamu memahami semua itu. Namun sia-sia. Kamu mengusir keheningan saat kamu menghadapi segala hal ini. Piring pecah dan balon meletus membuat hingar bingar yang saat itu kamu inginkan, supaya kamu punya alasan kuat untuk tak mendengarkan suara hatimu sendiri.

Rasanya sakit, cuy.

Aku membutuhkan jutaan detik untuk menunggu kamu datang kembali. Sementara aku tak lagi memiliki kata untuk bisa menjelaskan semuanya padamu. Cahaya pun tak mampu menerangi jembatan diantara kita. Hanya satu yang bisa membawamu kembali. Hati kamu sendiri.

Aku tidak pernah memilih sembarang hati. Hati kamu baik, cuy.

Kamu pun tak perlu kembali padaku, kamu akan baik-baik saja. Aku tidak akan kehilangan apapun. Kamu pun begitu. Namun kita sama-sama tahu, seperti beberapa lembar halaman buku yang dirobek paksa dari sebuah buku, buku itu tidak akan sama lagi tanpa halaman yang hilang itu.

Saat mentari enggan bersinar dan awan hitam menjadi payung diantara aku dan kamu, kusodorkan satu piring cantik berisi marshmallow berwarna-warni.

Kamu menolak. Kamu lebih suka berpikir marshmallow itu hanya sebuah alat yang kugunakan untuk mempermanis kembali hubungan kita yang telah terkoyak. Kamu lupa, dulu setiap saat kamu meredup, kita sama-sama suka berebut marshmallow, dan kamu sendiri suka berkata, ‘”hidup ini udah pahit, mendingan nyemil yang manis-manis. Tahu banget sih kamu!” Lalu kita menertawakan hidup ini bersama.

Marshmallow itu tak lagi berwarna. Pada akhirnya hanya ada hitam putih. Semakin menyesakkan jarak diantara kita.

Aku beranjak pergi, namun kamu menahanku.

The end.

*Inspired by Malaikat Juga Tahu (Dee – Glenn)

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata

Kau selalu meminta terus ku temani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi karena tak sanggup sendiri

Namun kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s