Gone with the Wind*

sniper2Kehidupan pribadi sama sosial itu harus balance. Titik, enggak pake ragu.

Siang itu, gw sengaja pake hot pants jeans belel, kaos tipis seadanya, kacamata hitam, jaket lengkap dengan capucon. Sebelum keluar dari rumah, gw ajak sepatu crocs favorit gw merapal mantra. Mantra supaya enggak ketemu siapapun dimanapun kaki gw nanti melangkah bersamanya.

Setelah beberapa hari terakhir bertemu dengan begitu banyak orang yang bermacam-macam, hari ini saya putuskan off dari semua orang dan dari segala bentuk komunikasi. Ini saatnya gw hang out dengan diri gw sendiri.

Kartu debit full, kartu kredit masih jauh dari limit, uang segepok. Sip. Bekal sudah siap, Jendral!

Tujuan pertama memang selalu ke salah satu resto favorit gw, tapi tiket nonton sudah harus di tangan. Jadi dengan mempertimbangkan bahwa gw udah memilih mall yang jauh dari lingkaran pergaulan gw, satu tiket nonton gw sambar dengan mantap.

So far aman! Tidak terlihat ada tanda-tanda muka yang familiar buat gw.

Sambil siul-siul gw mengayunkan langkah menyusuri counter-counter baju ketiba tiba-tiba terdengar suara melengking jenaka.

“Biiiiii!! Enggak nyangka banget ya kita ketemu dadakan gini, Biiii!!”

Sebenarnya itu suara salah satu teman baik gw, cuma please jangan di hari ini. Tapi terlambat, ciuman langsung mendarat di pipi kiri-kanan gw. Gw pasang tawa kaku tanpa segan.

“Aduuh, gembel banget sih elo! Yuk akika anterin blanji baju.” Sahut pemilik suara tanpa babibu.

“Thank you banget, Bell, gw cuma mau makan aja kok disini.” Jawab gw kalem.

Si pemilik suara makin girang tak kepalang, “Tahu banget si yey, akika lagi laper berat. Yuk ah!”

Terseretlah gw dengan makhluk halus satu ini ke sebuah restoran steak yang untungnya sih emang salah satu favorit gw di Jakarta Raya ini. Selama 1 jam, bukannya ngobrolin gosip entertainment di tv, eh malah doi ceramah masalah berbusana. Demi mempersingkat waktu, steak segede gajah langsung gw telen tanpa kunyah.

Setelah itu terpaksa gw bilang, “Bell, kita pisah disini ya. Ada janji nih gw.”

“Apa?! Janjian pake busana tidur begituh?” Teriaknya histeris cenderung lebay.

Akhirnya doi mau juga berpisah jalan sama gw, bukan karena gw akhirnya berhasil bikin alasan bombastis, tapi makhluk satu ini akhirnya bertemu dengan sesamanya, dan dengan girang meninggalkan gw.

Fiuh! Gw bernafas sangat lega. Okay, sekarang saatnya nonton film sendirian! Yihaaa!

Jus mangga dan cemilan siap di pangkuan. Tinggal pake kacamata 3D-nya aja. Lampu mulai dipadamkan.

Tiba-tiba terdengar bisikan basah-basah merayu, “Bii, bagi cemilannya donk.”

“WAAAAKKSSS!!! TUYUUUULL!!!” Teriak gw spontan.

“Ssssstttttttttttt!!!! Ssssstt!!!!” Desis orang-orang di sekitar gw dengan beringas.

Gw langsung menyembunyikan muka gw di balik capucon sembari melirik dengan mata setengah tertutup ala Garfield. Kenapa gw harus berjodoh dengan banyak orang di saat gw pengin banget sendiri??

Ternyata benar, si pemilik suara adalah tuyul kantor yang selama ini diam-diam berusaha mencuri hati gw.

“Yuuull, kok elo bisa banget sih duduk di sebelah gw? Lo sedari tadi nguntit gw ya?” Bisik gw dengan tajam dan kejam.

“Kagaklah! Kita kan sehati, Bii. Kemanapun kamu pergi, aku ada.” Sahutnya sok puitis.

Film horor yang gw tonton mendadak komedi abis. Gimana enggak, tuyul yang satu ini koar-koar pas hantunya ngumpet, begitu muncul, si tuyul gemetaran di sebelah gw sambil tutup mata. Huh, tuyul kok takut sama hantu!

Film usai, berakhir pulalah masa kebersamaan ini.

“Yull, boleh enggak gw minta tolong ke elo. Gw abis ini harus sendirian, kalau enggak, penyakit gila gw kumat, yull. Lo gak mau kan dibilang naksir sama orang gila? Please, Yuuuull?”

Untung si Tuyul satu ini murahan abis. Pop corn satu liter dibawanya pulang dengan senyum girang. Whateverlah, pokoknya sipp!

Resmi sudah gw sekarang sendirian. Menghirup udara di planet ini sambil berharap kali ini planet ini beneran milik gw sendiri.

Cafe favorit. Pelabuhan terakhir untuk hari ini.  Hot cappucino and cheese danish. Cukup banget buat nemenin kesendirian gw kali ini. Kali ini pun gw udah pede jaya kalau enggak bakal ketemu siapapun, soalnya gw sengaja pilih cafe favorit di ujung Jakarta coret.

Hp gw keluarin dengan santai, dan JRENG!!

25 miscall, 20 bbm, 10 sms.

Kalo mau dicuekin, kok ya kebangetan mengingat jumlahnya agak abnormal gituh. Kalo dibuka, pasti buntutnya panjang. Ya udahlah ya.

2 jam lebih cuma untuk melayani komunikasi tanpa bayar dengan begitu banyak orang melalui handphone. Kalau kayak gini kadang gw berharap gw lagi buka layanan hotline. But anyway, mereka semua teman-teman gw yang khawatir karena sedari tadi pagi gw enggak bisa dihubungin. Love you, guys!

Akhirnya, gw melangkah kembali ke rumah dengan keadaan yang sama seperti waktu gw berangkat. Lelah. Sepatu crocs gw peyot seolah sehati seperasaan sama gw.

Pada akhirnya gw menemukan kesendirian yang sempurna di saat tidur gw. Peaceful. No one in my life.

“AAARRGGGHHH! TUYUUUUULLL LAGIII !!!” Teriak gw sekencang suara pesawat.

Ternyata dalam mimpi pun gw gak bisa sendirian!!

Gw putuskan ambil cuti dan pergi ke pulau antah berantah, sendirian. Titik, enggak pakai ragu.

The end.

*Meminjam judul dari novel dan film Gone with the Wind.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s