Pinky ER

pinkcarMungkin beginikah tempat antara hidup dan mati?

12.30. Saat kebanyakan orang di ibu kota merayakan jam istirahat dengan sepiring makan siang yang lezat, aku melarikan diri ke UGD. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku menyambangi tempat itu. Tapi kali ini aku tinggal lebih lama, dua setengah jam yang mendebarkan.

Aku tidak tahu mengapa ruang UGD ini berwarna pink. Barangkali untuk menciptakan suasana yang lebih ceria dan menyenangkan bagi siapapun yang harus berada di tempat itu.

Ranjang paling pojok sangat menenangkan hati. Paling tidak aku cuma harus mengantisipasi aura di sebelah kiriku. Perut rasanya tak lagi hanya melilit, tapi mengumpulkan seluruh rasa sakit yang sempurna. Satu suntikan dari seorang perawat meredakan rasa sakit ini. Lalu keadaan menjadi super tenang. Namun itu hanya semenit dua menit.

Inderaku mulai mendengar suara-suara yang tadi tertelan oleh riuh rasa sakitku sendiri. Tangisan pilu di ujung lain ruangan, sayup-sayup kudengar seorang anak meninggal. Lalu pasien disebelahku persis berteriak tanpa kata yang jelas, bukan pilu, namun rasa sakit yang barangkali keluar dari jiwanya yang sedang goyah, begitu kata suster. Aku merinding.

Aku tersudut di ranjang paling pojok.

Ranjang yang ukurannya pas dengan sebuah peti mati. Hanya saja (sekali lagi) ini berwarna pink. Pesan dokter aku harus menunggu satu hingga dua jam untuk tahu reaksi tubuhku berikutnya.

Bukan, bukan aku kemudian mengalami semacam perenungan atau pencerahan mendadak. Entah aku bebal atau enggak, aku hanya merasa tenang. Tak menyesali sedikit pun semua hal yang kulakukan. Kalau ini hari terakhirku di dunia, aku pun siap mendekap kematian yang pernah ingin kujemput beberapa tahun yang lalu.

Aku lega di dunia ini banyak sahabat yang menyayangiku dengan tulus. Kalaupun aku mati, aku pun lega bisa menemui orang yang paling mencintaiku. Ayah.

Hati tak pernah salah memilih. Syukurku pada pemilikku.

Lalu efek obat sirna seiring dengan datangnya sebuah kesadaran baru. Tugasku belum selesai. Sang pencipta tampaknya sengaja membuat ujian kecil ini untuk menyempurnakan masa-masa persiapanku.

‘I’m ready to follow Your way’.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s