Lotere

lotere3Mari diambil loterenya. Silahkan, jangan malu-malu, tapi juga jangan ambil dua, nanti malu-maluin lho.

Tradisi lotere diadakan oleh almarhum ayahku, lalu dilestarikan oleh ibuku. Aku tidak pernah sempat bertanya langsung pada Ayahku alasan ia suka mengadakan tradisi itu, karena waktu itu aku hanya suka menjadi penonton pasif.

Tradisi lotere biasanya diadakan saat ada acara di keluarga besar ibuku. Hadiahnya bukan berlian atau motor bebek, sebaliknya Ayahku membeli sekumpulan barang sederhana namun sekiranya sudah cukup menarik untuk seluruh anggota keluarga besar. Ayahku pun rajin memotong kertas menjadi beberapa bagian, dan menulis hadiah-hadiah atau kata-kata penghibur yang jenaka bagi yang tak beruntung mendapatkan apapun.

Setelah Ayah meninggal, Ibu berusaha melestarikan tradisi itu. Kami anak-anaknya ikut berpartisipasi sesuai permintaan ibu kami. Semenjak itulah aku mulai bisa menduga-duga alasan Ayah mengadakan tradisi itu.

Tradisi lotere itu entah kenapa selalu membuat ibuku berbinar-binar. Ibu tampaknya suka menjadi tuhan atas sekumpulan barang yang ada, atau kalau tidak mau muluk, sebutlah bandar judi kecil-kecilan. Namun sebenarnya, Ayah mengerti kalau Ibuku gemar memberi. Kebetulan saudara-saudaranya juga suka diberi. Everyone is happy then.

Selain itu, ada kegayengan yang unik, tidak hanya sekedar basa-basi palsu tanpa makna, pun bukan pula hanya acara makan-makan hingga kenyang tanpa kesan.

Di balik kebaikan Ayahku ini, aku suka merapal semoga tanteku yang rakus enggak dapat apa-apa, sebaliknya semoga om, tante, sepupu yang sekiranya baik bolehlah dapat hadiah.  Hobi merapalku inilah alasanku satu-satunya menikmati acara lotere itu. Aku seperti tebak-tebakan dengan entah itu Tuhan, universe, atau keberuntungan belaka.

Sekarang aku tahu, Ayah ingin mengajarkan padaku untuk tidak pilih kasih berdasarkan alasan subyektif semata. Ayah membiarkan lotere itu bergulir dengan sendirinya, sekaligus Ayah menikmati bagaimana lotere itu mengajarkan padaku tentang karakter manusia. Ayah pasti diam-diam melirik padaku yang suka duduk di sudut ruangan dengan rapalan konyolku.

“Kok aku gak dapat apa-apa! Anak-anakku juga enggak dapat! Aku mau ambil lotere lagi!” Teriak tanteku gusar.

Om yang lain menghardik, “Kamu udah ambil berulangkali, masak mau ambil lagi? Lagian kamu kan juga udah hidup kecukupan.”

“Lhoh apa hubungannya?! Kalo bisa dapet hadiah gratis, kenapa enggak?!” Tanteku makin membabi buta.

Sebagian besar menertawakan kejadian itu, pun ada yang ikut gusar. Sementara Ayah dengan kalem menyodorkan kembali gelas plastik berisi gulungan kertas lotere. Sementara Ibu merapikan hadiah-hadiah yang belum ada empunya. Aku menengguk teh hangat sembari menyeringai puas.

Begitulah tradisi lotere. Semua orang suka dengan hadiah gratis. Namun yang jelas, hidup memang perjudian besar layaknya lotere. Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita dapatkan dalam setiap tikungan hidup kita. Dalam hidup, kita tidak hanya sekedar mendapatkan tulisan “anda tidak beruntung”, atau “Rinso 1 kg”. Kita mendapatkan realita.

Namun begitu, hidup tentu saja sebuah perjudian besar yang nilainya melebihi lotere itu sendiri. Bukan lagi tentang menang dan kalah, spekulasi yang salah atau benar, ataupun hasil yang besar atau kecil. Hidup membentuk kita untuk menjadi penjudi yang bermacam-macam, dan menjadi penjudi macam apa itulah yang akan membawa kita untuk semakin menjauh atau mendekat pada yang empunya kehidupan, atau kalau tak mau muluk lagi, sebutlah bandar judi yang hakiki.

Terimakasih, Ayah sudah mengajariku menjadi penjudi hebat, batinku sambil mengocok dadu di sebuah tempat judi terkenal. *EH

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s