Masihkah Kita Bertalenta? [2]

latent_talent“Benih harus tetap ditanam, ladang harus tetap digarap, talenta harus dikembangkan. ” Peneguhan Sanggar Talenta. Terus menjadi bagian dari email kita selama bertahun-tahun, namun sempat terlupa saat ingin dikatakan.

Beberapa minggu yang lalu, saya menerima sms dari Deon. Ajakan reuni Sanggar Talenta. Waktu menerima undangan itu rasanya maknyess, karena Sanggar Talenta buat saya punya nilai sejarah yang cukup spesial, dan kebetulan kok yang sms itu Deon, si pria baik hati yang dulu selalu memberi saya tebengan dan info seputar jadwal pertemuan Sanggar Talenta, plus teman kita yang satu ini baru saja berganti status, hasrat ngerjain makin menggenapkan rasa untuk segera bersua (*kata bersua selalu mengingatkan saya pada Boim).

Tentu, sekali undangan tak berhasil mempertemukan kami, baru setelah dua sampai tiga kali undangan, malah undangan dadakan yang berhasil membuat kami berkumpul. Bukan, bukan karena kami sibuk, tapi kami bergantian sakit. Awalnya saya dan Indah, lalu Yoko. Saya jadi tak habis pikir, mau ketemu di umur 30’an saja nunggu sehat, bagaimana nanti kalau di umur 50’an?

Di malam minggu yang cerah, kami bersua. Indah, Yoko, saya, Deon & istri. Eheem!

Deon masih seperti dulu, sederhana, kalem, dengan celetukan-celetukan yang sebenarnya tak kalah menusuk dengan celetukan Yoko yang selalu sinis terhadap dunia. Indah dan Yoko masih tak akur, eyel-eyelan. Saya jadi kangen dengan rival saya sendiri, Giras. Lalu Yoko masih dengan rambut panjangnya. Namun Deon sudah bersih dari segala anting, rambutnya pun terpotong rapi berkat desakan seluruh keluarga sebelum pernikahan, begitu ujarnya. Indah tetap kriwil walaupun kini kriwilnya memanjang. Sementara barangkali cuma rambut saya yang tergerus ibu kota, smoothing lurus tanpa gelombang, hitam berkilau walau tak pakai Suns*lk.

Obrolan masih seperti dulu, ngalor-ngidul. Tentu ada sekilas absen mengenai siapa dan dimana. Hey Nino, mereka bertiga memuja-muji dirimu, walaupun pasti mereka lebih suka menghujatmu kalau didepanmu. Nama Femi pun tersebut dengan ringan. Usut di usut ternyata undangan Deon untuk reuni tujuannya adalah untuk membahas tentang ajakan menulis mengenai Femi. Ya ya, ternyata saya juga mendapat ajakan menulis itu dari Nino, file bernama BUKAN File Peneguhan, ternyata nongkrong manis di email Yahoo saya, yang sudah jarang saya tengok. Tulisan tentang Femi, saya suka tulisan Indah mengenai Femi di blognya. Saya juga pernah menulis untuknya di blog ini, namun rasanya tulisan saya tak cukup mentereng kalau diselipkan dalam sebuah buku. Anyway, maaf kalau baru tahu email itu sekarang.

Baru sesaat sebelum saya mau menulis blog ini, saya menengok ke email saya tersebut, untuk mengcopy paste motto peneguhan Sanggar Talenta. Ahaaa, saat kami bersua, kami pun tak ada yang ingat pasti kata-kata peneguhan itu.

Obrolan mengenai pekerjaan dan industri bukannya tak makin meneguhkan kami sebagai anak-anak Sanggar Talenta, dan alpanya kami itu sungguh membuat pertanyaan ini terbersit kembali, masihkah kita bertalenta?

Industri dan realita kehidupan sungguh menguji talenta. Namun saya yakin, teman-teman semua masih bertalenta.

Kisah tentang Deon dan perjuangan heroiknya di kantornya yang dulu, buat saya pribadi sangat berkesan. Di saat saya jengah dikelilingi orang-orang yang hanya mencari jalan aman, sungguh kisah Deon membuat saya lega. Lega bahwa saya masih memiliki teman yang berani dan lugas mengemukakan pendapatnya dan menjadi benar.

Yoko yang sinis terhadap dunia industri, tetap berusaha realistis di sebuah televisi nasional sekaligus terus berjuang mempertahankan prinsip-prinsipnya.

Indah dengan kalem dan senyumnya yang selalu mengembang pada akhirnya berhasil meraih gelar master di negeri kincir angin.

Saya sendiri, walaupun saya pelaku industri dan saya memang menyukai dunia industri, dan ada kisah yang tak mampu saya ceritakan, saya pun berusaha bertahan dengan talenta saya, dan tentunya berjuang tetap setia hanya pada Dia yang telah memberi saya talenta.

Semua kisah itu membuat saya teringat dengan quote dari penulis favorit saya “Talent is a universal gift, but it takes a lot of courage to use it. Dont be afraid to be the best.” – Paulo Coelho. The Winner Stands alone.

Bagaimana dengan teman-teman yang lain. Masihkah kita bertalenta?

Ah semoga, nantinya jangan ada lagi pertanyaan, “Masihkah kamu sendiri?”, ikut terus menyertai segelintir diantara kita.

Mari saling bersua dan bertukar cerita lagi.

[To be continued]

< Masihkah Kita Bertalenta [1] Masihkah Kita Bertalenta [3]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s