180 cm x 70 cm

ritual japan teaCintaku memiliki batas pasti. Tidak boleh kurang, apalagi lebih, atau aku akan menghilang.

Sofa berwarna biru laut memberi suasana baru di sebuah ruangan yang rapi dan homy. Namun begitu, aku tetap merindukan sofa berwarna coklat yang sudah menemaniku selama 15 tahun.

“Saatnya perubahan.” Kata seorang pria di seberangku. Steve.

Aku mengangguk sambil tersenyum dan mulai membaringkan tubuhku dengan santai, mencoba menyesuaikan diri dengan sofa baru itu.

“Saya bukannya tidak mau berubah, saya tidak ingin sembuh. Ini satu-satunya yang tetap bisa menghubungkan saya dengan dia.” Kataku kalem dan ikhlas.

“Suatu hari nanti kamu ingin sembuh. Saya yakin itu.” Bantah Steve keras namun lembut.

Aku menerawang jauh kearah jendela, “Steve, hari ini saya akan cerita detil tentang apa yang saya lihat dan rasakan saat itu.”

Steve mengernyit, “Apa yang membuatmu akhirnya merasa sudah saatnya kamu menceritakan hal itu pada saya?”

Aku menoleh kearah Steve, “Hari ini genap 15 tahun saya berjuang semenjak hari itu, Steve. Saya ingin merayakannya denganmu melalui cerita saya kali ini.”

Steve mengangguk tegas dan tersenyum menenangkan.

15 tahun yang lalu.

Hari itu, saya dan dia bertatapan. Saya ingat persis tatapannya. Tatapan membisu. Saya tidak pernah menyangka bahwa barangkali tatapannya merupakan kata perpisahan yang tak mampu diucapkan oleh mulutnya. Sesaat kemudian, dia terjatuh. Seseorang menangkap dan membawanya ke tempat tidur, memberinya nafas buatan. Saat itu juga, saya mati rasa. Jiwa saya mengikuti jiwanya. 

Raga saya hanya melakukan apa yang otak saya perintahkan. Tanpa rasa. Saat semua orang mengantarnya ke rumah sakit, saya sendiri menunggu di rumah. Namun saya harus segera pergi menyusulnya. Saya harus benar-benar tahu keadaannya. Lalu saya pergi dengan tangis tiada henti.

Kerumunan orang-orang menangis segera menyambut saya sesampainya saya di rumah sakit. Positif. Dia telah pergi. Jiwa saya rasanya terpisah, dan memotret raga saya yang mencoba tetap menggulirkan kehidupan tanpa nafas.

Air mata saya mengering. Saya tidak dapat menangis, pun saya tidak mampu merasakan hidup. Tubuhnya terbujur kaku di sebuah kotak. Senyum hangatnya tak lagi menyapa saya. Lalu saya jatuh tertidur, berharap untuk selamanya juga. Namun riuh rendah suara pagi di saat itu membangunkan saya. Kotak itu satu-satunya yang terus menyita perhatian saya. 

Teman-teman mulai berdatangan. Saya berharap bisa menjadi normal dengan sekali lagi meneteskan air mata, namun saya gagal. Saya sekaku dirinya. Dingin.

Hanya humor satir yang bisa saya ucapkan. Sementara otak dan mata saya berpadu menjadi sebuah kamera video. Semua terekam dengan jelas tanpa kecuali. Saat orang-orang sudah mau menutup kotak itu, barulah saya kembali menangis. Barangkali inilah cara alam semesta mengembalikan jiwa saya walau sesaat.

Selanjutnya, hanya raga saya yang kembali melakukan ritual yang diperintahkan. Mengikuti orang-orang berjalan di bawah kotak itu selama beberapa kali, membawanya ke tempat peristirahatan terakhir, dan menabur bunga. Anehnya, saya memang merasa menjadi orang lain selama ritual itu berlangsung. Saya merasa sedang menghadiri pemakaman orang lain, bukan dia.

Selanjutnya, saya merasa seperti orang yang berjalan sambil tidur. Saya membeku. Sampai waktu dan cinta yang mencairkan air mata saya, dan hanya air mata sayalah yang kemudian membasuh jiwa saya, mengembalikan saya pada kehidupan yang merupakan warisan terbesar darinya untukku.

Steve menatapku tajam, “kamu menangis, dan masih akan terus menangis karena kejadian itu.”

Aku mengangguk dan mengusap air mata dengan tissue yang disodorkan oleh Steve.

“Kalau kamu tak ingin sembuh, kemampuan kamu untuk mencintai hanya akan sebesar kotak itu.” Jelas Steve dengan sebongkah kekhawatiran yang sudah dikumpulkannya sejak 15 tahun yang lalu.

Aku tersenyum tipis, “Steve, saya juga cuma butuh orang yang bisa mencintai saya sebesar kotak itu. Precisely.”

Steve hanya menatapku tajam sekaligus jenaka, lalu berkata lembut, “Berilah kesempatan pada hidup untuk memberimu lebih dari apa yang bisa diberikan oleh kotak itu padamu.”

Aku hanya tersenyum dan segera beranjak dari sofa birunya yang ternyata memang terasa lebih nyaman karena kebaruannya.

“I have to go now. Jam konsultasi saya hanya tersisa 4 menit. Cukup untuk saya berbenah dan kamu menuliskan resep untuk saya.”

Steve menulis resep sembari tertawa, “Sophie, kamu tahu, khusus untuk kamu, saya tidak pernah keberatan memberikan waktu lebih secara cuma-cuma. Tidak semua hal harus dalam hitungan yang tepat, ingat itu!”

“We’ll see, Steve.” Jawabku jenaka namun lugas dan serius.

“A better answer then.” Serunya penuh harap.

Aku menerima resepnya. Lalu aku berlalu pergi, kali ini sambil membawa sebuah pemahaman baru yang aku yakin Steve pun juga menyadarinya, bahwa hitungan cinta manusia lain terhadapku memang ada yang bisa sebesar kotak itu. Precisely. Hanya Steve yang tak membuatku ingin menghilang.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s