Are We Staring at the Same Star?

stand3Aku dan kamu menatap bintang yang sama, dari tempat yang berjauhan.

Nama kamu kembali muncul di layar gadgetku. Lalu kita bersua di tempat yang hanya aku dan kamu yang tahu. Kamu memegang tanganku, sementara kedua mata kita menatap kerlap-kerlip lampu kota yang dari tempat ini semuanya tak ubahnya seperti bintang di langit.

“Kamu kenapa lagi?” Tanyanya lirih.

Aku hanya menggeleng pelan.

“Jutaan mil kutempuh dan aku hanya mendapat gelengan kepala kamu? Are you kidding me?” Ucapnya ringan tanpa bermaksud melucu.

“Aku kangen cerita pendek yang kamu tulis hanya untuk aku.” Kataku mengubah topik.

Lalu kamu memelukku erat-erat. Selama beberapa saat kubiarkan diriku tenggelam dalam pelukannya dan berharap dunia berakhir di momen ini.

Hujan turun. Lalu aku dan kamu memilih menikmati langit dari ranjang. Kamar minimalis dengan atap kaca adalah spot favorit kita.

“Kamu tahu bedanya sekarang sama kemarin atau beberapa jam yang lalu?” Tanyamu sembari terus menatap kearah bintang.

“Kita sama-sama menatap bintang yang sama, hanya bedanya kamu di London, aku di sini.” Jawabku datar.

Lalu kamu menoleh dan menatapku, “tidak ada bedanya Soph. Kita tetap melihat bintang yang sama dengan cara yang berbeda, dari tempat yang berjauhan, namun bukan berarti kita tidak bisa saling bercerita tentang bintang itu.”

Aku menatapnya lekat-lekat, “maksud kamu?”

“Aku dan kamu tidak akan lekang oleh waktu, karena kita sama-sama terus menjaga satu sama lain untuk terus menatap bintang yang sama, dan menjadikan bintang itu sebagai pemandu arah kita. Dibutuhkan ribuan waktu, untaian caci maki, dan genangan air mata yang sedemikian besar untuk akhirnya kita bisa seperti ini. Kamu ngerti maksud aku kan, Soph?” Katamu tenang namun penuh penekanan.

Air mataku menetes. Lalu aku bangun. Kamu pun segera beranjak bangun dan kembali memelukku.

“Aku membencimu karena kamu selalu berhasil membuatku jatuh cinta berulangkali.” Kataku sambil terisak.

“I know.” Jawabnya singkat. Jawaban yang selalu menjadi favoritku.

“Kenapa bintang?” Tanyaku tak kalah singkat.

Kamu melepaskan pelukan dan kita tertawa bersama. Pertanyaanku adalah pertanyaan retorik yang selalu ada di antara kami berdua. Bintang selalu ada, sinarnya tak pernah usai, namun ia sederhana. It’s love. Itu kamu. Aku.

 The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s