Welcome to the Black Parade*

Between_Darkness_and_Wonder2He said, “Son when you grow up, would you be the saviour of the broken, the beaten and the damned?” He said “Will you defeat them, your demons, and all the non-believers, the plans that they have made?” -My Chemical Romance-

 

Kamu dan aku duduk di atap sebuah gedung tertinggi di ibu kota. Numb. Sang Pencipta sedang suka bermain-main riang dengan kami. 

“Aku beruntung menemukan kamu. Kita bisa mengacak-adut dunia ini bersama.” Kataku serius.

Kamu tertawa dan menghisap rokokmu kuat-kuat. Kamu mengkonsumsi rokok semaumu karena aku dan kamu tahu kita tidak akan mati karena rokok, bahkan segala penyakit pun senjata apapun. Hanya kemauan kita sendiri atau kebaikan Sang Pencipta yang bisa membuat kita lenyap dari dunia ini.

“Aku lelah sama manusia.” Keluhmu ringan.

Kali ini aku yang tertawa, “We can’t let them go, though we can read their heart so easily.”

“Yeah,  I hate it.” Katamu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Mie instan.” Jawabku singkat.

Kamu menoleh dan mengernyit.

“Yup, semenjak mie instan hadir, itu adalah gejala dimana manusia makin kepingin yang instan-instan dan percaya begitu saja pada manusia lain untuk memberikannya pada mereka. Padahal hanya Sang Pencipta yang paling mampu menghadirkan segala yang instan. Persis seperti jalan hidup kita saat ini.” Jelasku getir bercampur humor tak tahu diri.

“You’re right. He took us from the great hell, and here we are. Kita dijebloskan ke neraka kecil-kecilan ini!” Sahutmu sebal.

“Hey man, actually it’s a truly hell for us. Kalau menghadapi manusia-manusia dungu itu, ingin rasanya bisa meremas atau mencabut jiwa mereka, tapi kita disini hanya dikasih satu senjata. Cinta.” Kataku sinis.

Namun sesaat kemudian kita tertawa bersama. 

“Cinta! Ouw yeaaahh!” Teriakmu sambil terus tertawa.

Kami dua makhluk perenggut nyawa, sang kegelapan, sang evil, harus menebarkan cinta untuk membayar karma kami yang tak ternilai.

“You know what, it’s like replacing nuclear gun in our hands with a very dull blade.” Katamu dan kembali tergelak.

Aku menenggak anggur sebagai pertanda sangat setuju akan lelucon dari Sang Pencipta.

“No, man. Cinta akan lebih mengena kalau kita yang menyebarkan. He said it depends on our hands then.” Kataku mulai teler.

Sesaat kemudian kami terdiam. Sampai akhirnya aku mulai angkat bicara lagi.

“Look at us. Dandanan rapi jali, dilahirkan dari keluarga baik-baik, punya sahabat-sahabat yang baik-baik pula, hidup berkecukupan, multi-talented, jalan hidup lempeng, it’s so fucking perfect. We don’t have any reason to be cruel and mean.” Kataku entah mengeluh atau bersyukur.

Kamu tertawa sinis, “Yeah, they are some angels to control us. Is it a tragedy or blessing?”

Aku mengangkat bahu atas pertanyaan retoriknya itu.

“I’m tired to be so good. I’m an evil. I never want to be a saint or even an angel. I need my darkness badly. Oh gosh!” Keluhku jujur.

Tiba-tiba kamu berpaling dengan mata berbinar-binar, “hey frankly, it’s our duty to be the karma for bad people in this world. Keep being an evil then!”

Aku mengangguk-angguk setuju, “Yeah, with love.”

Kami bersulang lagi sebelum akhirnya kami kembali pada kehidupan yang sudah dirancang sedemikian sempurna oleh Sang Pencipta. Berusaha untuk mengekang keakuan kami, demi karma yang harus kami bayar, demi tiket menuju kerajaan kami sendiri. 

The end.

*meminjam judul salah satu lagu My Chemical Romance.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s