A Story of A Girl

littlegirlGadis itu tidak banyak bicara, ia hanya memeluk boneka beruangnya erat-erat.

Umur gadis itu 10 tahun. Kami menangkapnya saat kami menyerbu rumah seorang godfather mafia yang terkenal. Dalam penyerbuan itu semua yang ada di dalam rumah itu tewas, kecuali gadis itu. Namun jasad ayahnya pun tak ditemukan di reruntuhan puing-puing rumah mereka.

Gadis itu diinterogasi sedemikian rupa, tapi gadis itu duduk tenang, tidak menangis, bahkan kedua matanya pun tak berkaca-kaca sedikitpun. Gadis itu juga tidak meminta minuman atau makanan spesial. Ia memakan apapun yang diberikan kepadanya, dan tak lupa ia menyuapi boneka beruangnya. Dari perbincangan kami, aku tahu gadis itu memposisikan boneka beruangnya sebagai anaknya. Beppe nama boneka beruang itu.

Beberapa kali, boneka beruangnya yang menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Anehnya, setiap kali boneka beruangnya yang angkat bicara, jawabannya lebih runtut dan informatif. Sementara gadis itu sendiri lebih suka diam. Barangkali ia lebih suka boneka beruangnya, atau sisi dirinya sebagai boneka beruang untuk menghadapi orang-orang di sekitarnya.

Kami pun tak keberatan dengan cara menjawabnya itu, toh jawaban dari boneka beruangnya lebih memuaskan.

“Sayang, ini mungkin pertanyaan yang sudah diajukan berulangkali, om nanya lagi ya. Papa kamu dimana?” Kataku selembut mungkin namun tegas.

Gadis itu menggerakkan boneka beruangnya, lalu boneka itu menjawab dengan suara khasnya yang berat namun terdengar ringan dan penuh humor, “Papa di hati kami.”

Mau tak mau aku tertawa. Gadis ini sangat pintar. Bagaimanapun juga dia adalah keturunan dari keluarga mafia terbesar di dunia, darah dan pendidikannya berasal dari para ahlinya tentunya.

Aku melihat sekilas, gadis itu tersenyum. Sangat manis dan anehnya terlihat sangat tulus dan tenang.

“Kamu enggak pengin ketemu papa lagi?” Tanyaku memancing.

Boneka beruangnya kembali menjawab, “Papa ada dimanapun kami berada.”

“Kalau benar papa kamu meninggal, kamu enggak sedih?” Tanyaku lagi. Aku semakin tertarik bukan lagi pada jawaban tentang keberadaan ayahnya, tapi gadis itu selalu menjawab dengan unik.

Gadis kecil itu sejenak memeluk boneka beruangnya erat-erat sambil tetap tersenyum, sebelum akhirnya boneka beruang itu menjawab lagi, “Kapanpun papa pergi itu artinya tugasnya udah selesai. Sekarang Papa lebih punya waktu buat kami. Jadi kenapa harus sedih?”

Jawabannya sangat ambigu. Aku makin tak berani berasumsi terhadap jawaban-jawaban gadis kecil ini. Saat aku terdiam dan menunduk, boneka beruang itu melongok ke wajahku. Aku pun tersenyum.

“Om, mama udah terlalu sering melihat dan memahami apa yang terjadi sama papanya. Pengkhianatan dan pembantaian jadi tontonan kami sehari-hari. Kami imun dengan semua itu. Kematian juga sudah menjadi sahabat baik dalam keluarga kami, karena itu satu-satunya pintu lebih dekat menuju Tuhan kami.” Jelas boneka beruang itu untuk membuatku mengerti posisi dan kacamata si gadis kecil yang dianggapnya mama itu.

Aku terhenyak. Aku pikir bergabung dengan organisasi federal untuk memberantas mafia dan triad bisa membuatku sedikit lebih dekat dengan Tuhan, tapi jawaban gadis itu membuatku jauh, sangat jauh malah dari Tuhan.

“Tapi sayang, kenapa keluarga kamu terus menjadi mafia turun menurun?” tanyaku sembari aku sadar bahwa pertanyaanku seharusnya tak disodorkan pada gadis kecil ini.

Gadis dan boneka beruang itu saling berpandangan dan mereka tampak tertawa bersama.

“Om naif.” Celetuk gadis itu singkat.

Aku pun tertawa. Gadis ini benar-benar mafia kecil.

BRAK! Tiba-tiba pintu terbuka. Beberapa agen yang adalah rekan kerjaku tampak marah karena bukannya menginterogasi, aku malah terkesan bercanda dengan gadis itu.

“Heh, gadis kecil! Kamu pikir kamu bisa mempermainkan kami? Cepat! Katakan ayahmu dimana!” Seru rekanku.

Gadis itu diam tak menjawab. Boneka beruangnya berhenti bergerak.

Tiba-tiba rekanku menyambar boneka beruang itu, gadis itu tak kami sangka dengan gesit mempertahankan bonekanya. Terjadi tarik-menarik antara rekanku dengan gadis itu. Gadis itu pun sangat kuat.

Tiba-tiba gadis itu berteriak sangat keras, “Papaaaaa! I want my Beppe!”

DORR!! Sebuah peluru melesat ke kepala rekanku, lalu ia langsung jatuh, tewas seketika. Gadis itu langsung memeluk boneka beruangnya erat-erat. Kami menengok ke arah penembak, yang ternyata adalah salah satu dari kami sendiri. Ia mengacungkan senjata kearah kami, agen-agen yang lain.

“Pengkhianat!” Seru agen yang lain dengan geram.

“I’m not. I’ve worked for her family before I join this force.” Jawab penembak itu dengan tenang dan dingin.

Lalu gadis itu mendadak menangis sangat keras, “Beppe is hurt!”

Semua melihat tangan boneka beruang itu sobek besar, pasti karena acara rebutan tadi.

Mendadak terdengar suara gemuruh. Suara kedatangan beberapa pesawat tempur dan ledakan beberapa bom. Lalu dengan sangat cepat penembak itu menghabisi agen-agen yang ada di ruangan itu, saat penembak itu menyisakan tembakan terakhir yang mengarah padaku, gadis itu berkata dengan lantang dan tegas, “Don’t!”

Gadis itu mendekat kearahku dengan perlahan dan langkah pasti. Boneka beruangnya menyodorkan tangan kanannya, lalu aku menjabat tangan kecil yang lembut itu sambil membungkukkan badanku. Lalu gadis itu mencium salah satu pipiku.

Selanjutnya ia berkata pada si penembak namun tetap menatap kearahku, “Let God himself come to him.”

Aku dan gadis itu saling bertatapan. Entah bertukar rasa atau makna, aku tak tahu. Si penembak menggandeng tangan kecilnya lalu mereka berlalu pergi, sesaat kemudian hanya gelap yang aku temui.

Aku membuka mata di sebuah rumah sakit. Kata orang-orang aku ditemukan dalam keadaan pingsan di tengah reruntuhan. Satu-satunya agen yang selamat di tempat yang hancur lebur itu.

Sebuah buket bunga yang sangat cantik ada di meja. Kuraih kartu yang tersemat di buket tersebut dan membaca tulisan tangan khas anak-anak yang walau tidak rapi tapi entah kenapa terlihat sangat tulus.

Saya dan mama baik-baik saja. Selalu ada orang-orang baik diantara yang tidak. Tuhan selalu menjaga kita. Beppe.

Aku kembali terhenyak. Baru kali ini aku menemukan gadis kecil yang teriakannya membuat satu pasukan terbunuh, dan tangisannya mendatangkan sebegitu banyak bala tentara. Gadis kecil yang melihat begitu banyak kekejian sebagai santapan sehari-harinya. Namun ia tetap percaya pada Tuhan, dan kebaikan hati manusia.

Setelah kejadian itu, aku menjadi agen ganda. Aku menentukan sendiri pihak mana yang sekiranya lebih menguntungkan untuk kemanusiaan di dunia ini. Aku tak pernah lagi bertemu gadis kecil itu. Namun aku mendengar keluarga mafia itu semakin tersohor dan untouchable.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s