I won’t give up on us* – Jurnal wanita masa kini bertradisi timur vol.05

2856971700817783225j5cvlndcI don’t wanna be someone who walks away so easily. I’m here to stay and make the difference that i can make. Our differences they do a lot to teach us how to use the tools and gifts. We got yeah we got a lot at stake. Jason Mraz.

Saya, salah satu keponakan yang belum menikah, hidup di ibukota, bersenang-senang untuk mengejar impian, dan sok punya konsep hidup yang berbeda dengan sebagian besar orang pada umumnya, suatu hari pulang ke kampung halaman dan disambut dengan sangat meriah oleh tante saya yang saya tahu di balik kebawelannya, dia sungguh baik hati.

Obrolan pada akhirnya mengarah pada perihal jodoh dan pernikahan. Pada intinya tante saya terus menegaskan kepada saya, asal kriteria dasar dan utama yaitu seagama dan punya gaji bulanan terpenuhi, sok hajar aja atuh. Saya cuma bisa senyum-senyum, toh nasehat orang tua sebenarnya banyak benernya dan bisa jadi doa, jadi saya pun tak berselera untuk membantah walau tak sepenuhnya setuju.

Saya tidak pernah ingin membuat kotak sedetil itu dalam mencari jodoh. Seagama atau enggak, sesuku atau enggak, terserah. Melebur menjadi satu buat saya bukan berarti segala sesuatunya harus sama. Saya malah takut kalau apa-apa harus sama, nanti bagaimana kalau saya dapat gender yang sama? Gimana coba?

Anyway, tapi saya sangat mengerti makna dari pesan tante saya tersebut. Seraya waktu berjalan, saya merasa makin cinta sama Tuhan saya. Tentunya akan lebih terintegrasi dan bersinergi sempurna kalau saya bisa memiliki pasangan hidup yang seagama dengan saya. Paling enggak kalau saya sedang malay beribadah, doi bisa menguatkan saya, mendekatkan saya kembali pada Tuhan yang mencintai dan saya cintai.

Namun eh namun, bukan berarti saya lalu mengiyakan begitu saja pendapat itu. Buat saya, tetap kesamaan agama bukan jaminan, yang lebih penting adalah satu hati.

Satu hati untuk saling memahami dan menerima lebih jauh satu sama lain.

Masih terngiang-ngiang pertanyaan tante saya waktu itu, “Emang kurang apalagi?”

“Saya belum jatuh cinta tante, tapi ngerasa nyaman.” Jawab saya kalem dan meyakinkan, walaupun saya pun ragu terhadap jawaban saya sendiri.

“Lhoh itu namanya ya udah jatuh cinta, gimana sih kamu? Pokoknya tante ngedukung kamu. Ayo cepat jadiin aja!” Tegas tante saya sambil berlalu pergi.

Sementara sekali lagi saya hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati, bukan dia tante, saya yang selalu unyu. Makin dicintai, makin saya ingin menghilang.

Saya selalu ketakutan dengan konsep saling memiliki. Toh pada akhirnya apa yang kita miliki di dunia ini tak ada yang bersifat abadi. Cinta mungkin iya, tapi bagaimana dengan kehadiran? Ya ya, saya kadang masih berkutat dengan ketakutan saya akan perasaan kehilangan waktu Ayah saya pergi dari dunia ini.

Setiap kali saya jatuh mencinta, saya selalu ingin membenci orang itu, menyakitinya, dan meninggalkannya jauh-jauh. Supaya saya tidak perlu melawan ketakutan saya selama ini. Mimpi-mimpi saya pun berkompromi dengan saya untuk menciptakan sebuah alasan yang indah untuk menegaskan kepada dunia bahwa suatu saat nanti saya akan pergi, bahwa saya tidak akan pernah siap untuk komitmen jangka panjang.

Belum lagi konsep menikah saya tidak sekedar married, punya anak, dan membesarkan anak. Saya selalu suka melihat teman-teman saya yang ketika menikah masih terus menjadi individu yang walau melebur menjadi satu tapi tak saling meninggalkan identitas dan mimpi masing-masing.

Seperti teman saya yang meminta ijin kepada suaminya untuk menunda kehamilan, dan suaminya mengijinkan. Sehingga teman saya ini bisa bersekolah lagi sesuai impiannya, dan setelah menyelesaikan sekolahnya, ia bersedia hamil seperti janjinya. Ada juga sosok wanita yang menghasilkan sepatu-sepatu bertaraf internasional, terus berkarya sembari terus menjalani kehidupan berumah tangganya.

Buat saya, pernikahan itu seperti naik roller coaster. Roller coaster tersebut tidak akan pernah berubah, tapi diri kita yang akan berubah. Semakin tua, fisik dan mental kita tak lagi fit seperti saat pertama kali kita memutuskan naik roller coaster tersebut. Belum lagi pemikiran untuk menambah penumpang tentunya harus sangat dipertimbangkan. Kalau tidak, bisa jadi roller coaster itu berhenti berputar, dan pernikahan pun berganti dengan perceraian.

See, itulah mengapa buat saya masalah agama menjadi tak sepenting itu, karena saya memiliki masalah yang lebih laten. Saya berharap ini ketakutan yang wajar dihadapi oleh orang-orang kebanyakan. Saya berharap ada seseorang yang tidak menyerah begitu saja terhadap saya. Saya pun juga berharap bila nanti pasangan saya pun juga memiliki ketakutan dalam porsi dan bentuk yang berbeda, saya bisa terus bertahan. Walaupun saya tak mengingkari, seagama itu memang terasa lebih menyenangkan dan menenangkan.

Pun pada akhirnya sebelum kita naik roller coaster tersebut, kita butuh seseorang yang sama-sama mau bertahan dan tidak menyerah dengan mudah. Jodoh di tangan Tuhan, tapi benar juga apa kata salah satu teman saya, jodoh harus diperjuangkan.

The end.

*meminjam judul lagu Jason Mraz


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s