Overdue

book3Kamu mencuri perhatianku. Kamu cerita menarik yang sedang kusuka. Buku yang selalu ingin kubuka dan kubaca, tapi tak mau kuselesaikan cepat-cepat.

 

Kebiasaanku meminjam buku seolah dimanjakan oleh alam semesta, saat sebuah perpustakaan baru didirikan tak jauh dari tempat tinggalku.

Sesaat setelah perpustakaan itu diresmikan, aku mulai datang ke tempat tersebut. Perpustakaan itu sangat besar dan bertaraf internasional. Manager perpustakaan itu sering berkeliling dan tak jarang menyapa langsung para pengunjung. Maklum manager baru, mungkin masih semangat.

Ia menyapaku dengan ramah. Ramah yang pas. Aku suka itu. Ia lalu membawaku berkeliling perpustakaan dengan informasi yang mendetail namun tak rumit sembari berbincang ringan.

“Kamu suka banget baca buku ya?” Tanyanya terdengar agak klise.

“Enggak cuma baca sih.” Jawabku ringan.

“Oh kamu nulis buku?”

Sambil mengangguk-angguk dan tersenyum jahil aku menjawab lagi,”Iya, harus nulis donk, Charles Dickens is my grandpa and JK Rowling is my aunt.”

Ia tertawa senang.

“Anyway, gw Jamie. Jamie Aditya.” Katanya sambil menyodorkan tangan dengan sigap dan tatapan mata yang hangat.

“Agatha Christie.” Jawabku singkat sambil menjabat tangannya dengan kuat.

Semenjak hari perkenalan kami, aku dan dia lebih sering berbincang tiap kali aku mengunjungi perpustakaan itu.

Seringkali juga saat aku membaca  buku-buku yang aku pinjam dari perpustakaan itu di sebuah kafe, dia datang menghampiriku.

Lalu pertemuan-pertemuan ringan yang keluar dari konteks mengenai buku pun sering kami lakukan.

Suatu malam di sebuah taman hiburan yang beratapkan langit malam penuh bintang, kamu menatapku dengan sangat serius.

“Dari awal aku bertemu kamu, aku tahu kamu bukan sebuah buku yang ingin kukoleksi di perpustakaanku.” Katanya lembut.

Aku menatapnya.

Kamu tersenyum dan melanjutkan kata-katamu, “Kamu tuh sebuah perpustakaan buatku. Perpustakaan yang ingin kumiliki, kurawat dan kulestarikan selamanya.”

Aku tertegun. Tak tahu harus berkata apa. Aku pun berpaling darinya dan memilih untuk mendongak melihat bintang-bintang di langit.

“Will you say something?” Tanyanya hati-hati.

“Should I?” jawabku dengan tanya.

Kami bertatapan. Kali ini aku melihat kamu terluka, sementara aku tak tahu apa yang harus kukatakan.

“No, you shouldn’t.” Kamu menunduk lesu.

Aku merasa tak seharusnya malam yang indah ini berakhir melodramatis seperti ini.

“Kamu cerita menarik yang sedang kusuka. Buku yang selalu ingin kubuka dan kubaca, tapi tak mau kuselesaikan cepat-cepat.” Kataku jujur sekaligus ingin menghibur.

Gagal total. Kamu tersenyum sendu dan kita mengakhiri malam itu dengan perasaan yang menggantung.

Semenjak hari itu, aku tak pernah melihatnya lagi di perpustakaan. Stafnya hanya menginformasikan kalau dia sedang training di luar negeri untuk waktu yang tak ditentukan. Jawaban absurd yang langsung dengan mudah dapat aku pahami.

Ketidakhadirannya membuat penyakit lamaku kambuh. Aku sering terlambat mengembalikan buku-buku. Denda yang harus kubayar tak seberapa dibandingkan perasaan kehilangan yang selalu kurasakan tiap kali aku pergi ke perpustakaan dan dia tak ada disitu. Komunikasi via gadget pun nihil. Kamu menghilang.

Kamu menghilang tepat di saat aku mulai jatuh cinta padamu.

“Mbak, kalau mbak berjuta-juta kali telat ngembaliin buku begini, saya terpaksa harus ngasih skors ke mbak.” Teriak staf yang agak melambai ini dengan lebay.

“Jangan donk, gw kan lagi banyak minjem buku-buku serial. Tanggung nih. Curiosity never ends!” kataku mengiba.

“Kalau emang kepo sama cerita-cerita selanjutnya, terus kenapa telat ngembaliin bukunya? No more excuse, lady miserable.” Sahutnya asal.

“Please give me a second chance. I won’t be late anymore.” kataku ikutan lebay.

Tiba-tiba telepon di dekat staf itu berdering. Dengan sigap dan masih dengan pandangan menusuk tajam kearahku, staf itu mengangkat telepon. Lalu tiba-tiba ia berkata-kata manis di telepon dan saat menutup telepon ia menunduk sambil menyampaikan kabar yang diucapkannya dengan tak tulus, “Kamu disuruh ketemu sama manager saya kalau memang mau second change.”

Aku terkesiap. Terdiam.

“MAU SECOND CHANCE, ENGGAK? BURUAN TUH! INGET NO MORE CHANCE AFTER THAT!” Teriak staf gemulai itu.

Kupeluk dan kucium pipi si lebay, tak peduli betapa bencinya ia padaku, lalu aku segera menuju ke ruangan manager dengan jantung berdegup kencang.

BRAK!

Lalu aku melihat wajahmu. Ada rasa lega yang teramat sangat di hatiku. Kamu tersenyum.

Tiba-tiba aku tak mampu menghentikan kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutku, “Sorry balikin bukunya telat terus. So sorry aku mengabaikan perasaanmu saat itu. So sorry enggak seharusnya aku begitu sama kamu… So sorry aku terlambat jatuh cinta sama kamu.”

Kamu mendekatiku dan membawaku ke balkon yang menghadap ke pemandangan kota yang penuh kerlip lampu berwarna-warni.

“Kalau pagi ini matahari datang terlambat, apa yang terjadi?” Tanyamu ringan.

“We won’t be here.” Jawabku datar sambil bertanya-tanya.

“Kalau kamu terlambat menyadari kesukaan kamu sama buku, apa yang terjadi?” Tanyamu lagi.

“I won’t be here.” Jawabku masih sama datarnya.

“Kalau kamu terlambat jatuh cinta padaku?”

“You won’t be here.” Jawabku lirih.

Aku menunduk menyadari semua kesalahanku. Aku tahu aku harus merelakan kamu pergi. Lalu tak kusangka kamu meraih dan menggenggam tanganku. Aku dan kamu bertatapan.

“But I’m here.” Jawabnya hangat.

Aku menatapnya dengan pandangan bertanya.

“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.” Jawabnya ringan dengan kata-kata klise yang sangat mengena.

Selanjutnya kami saling berpelukan. Sebuah kisah baru dimulai. Sebuah buku baru pun siap ditulis. Dengan harapan buku ini nantinya cukup berharga untuk bisa menjadi koleksi perpustakaan dan bersanding dengan kisah cinta Romeo and Juliet.

The end.

 


2 thoughts on “Overdue

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s