Pijat-pijat Unyu

imageJari-jari kita bersinergi dengan sangat harmonis. 

Kakiku memang tak tahu diri. Aku sering sekali merawatnya di spa dan pijat refleksi, tapi kaki-kakiku tetap mudah sekali capek dan pada akhirnya tidak berfungsi secara optimal. Bukan, bukan berarti aku memerlukan alat khusus untuk berjalan, namun aku jadi sibuk wara-wiri di kedua tempat yang aku sebutkan tadi demi sepasang kakiku itu.

Lalu pada suatu hari, aku menemukan sebuah tempat pijak refleksi yang memiliki fasilitas lengkap dan tempat yang menyuguhkan atmosfer yang sungguh mampu membuat para pengunjung terutama aku merasa damai dan rileks. Tak hanya itu, harganya pun cukup terjangkau, dan aku menemukan seorang terapis yang spesial. Bintang.

Setelah bolak-balik pergi ke berbagai tempat pijat refleksi, aku menyimpulkan bahwa terkadang diperlukan kecocokan yang pas antara jari-jari tangan si terapis dan jari-jari kaki si pengunjung. Jika jari-jari tersebut sudah beradu dengan manis, hubungan antara si terapis dan pengunjung pun bisa dipastikan berjalan syahdu penuh rindu.

Begitulah paling tidak yang aku rasakan pada Bintang.

Jika selama ini jari-jari tangannya dan kakiku bisa saling bertautan dengan mesra, barangkali jika kami bisa menangkupkan jari jemari tangan kami, kami pun bisa menjadi dua orang paling bahagia di dunia ini. Barangkali.

Lalu mulailah hubungan aku dan Bintang semakin dekat. Kini saatnya bagiku untuk mengungkapkan rasa padanya.

“Bintang, kamu satu-satunya terapis yang spesial untukku. Jari-Jari tangan kamu sangat bisa memahami jari-jari kakiku. Kamu pun dengan mudah dapat membaca segala bentuk dan frekuensi emosiku. Begitupun sebaliknya, aku merasa jemariku bisa mengikuti ritme jemarimu, dan juga perasaanmu. Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku?” Tanyaku ringan penuh kesungguhan.

Bintang, terapis handal itu, adalah sosok misterius yang tidak banyak omong. Ia hanya tersenyum dan memalingkan mukanya.

“Bintang, apakah kamu bersedia untuk kumiliki sepenuhnya?” Tanyaku gamblang tanpa basa-basi. That’s me.

Bintang menoleh dan kembali tersenyum, namun kali ini ia siap angkat bicara.

“Sebagai terapis, aku akui kamu memang pengunjung idolaku. Entah kenapa, jemari kakimu seperti berjodoh dengan jemari tanganku. But, that’s it.” Jawabnya singkat, padat dan jelas, tak lupa tandas dan sadis. Ugh.

“Tapi Bintang, tak sedikitkah ada rasa diantara kita setelah semua yang kita lalui selama ini?” Tanyaku menuntut penjelasan.

Barangkali kisah cintaku ini jadi terkesan picisan, tapi aku tak mengerti mengapa hubungan harmonis antara aku dan Bintang yang berawal dari jari jemari kami tidak bisa menjadi titik awal untuk organ-organ kami yang lain terutama hati.

“Aku adalah kebalikan dari kamu. Jika jemariku mampu bertaut apik dengan jemari pengunjungku, maka itu bukti ilmuku terasah sempurna. Kaki menyimpan begitu banyak syaraf yang terhubung dengan semua organ manusia termasuk otak. Kerja otak pada akhirnya juga mempengaruhi pikiran dan suasana hati seseorang. Pijatanku bagaikan denyut yang dipaksakan dengan sempurna ke semua syaraf tersebut, dan pada akhirnya aku pun menjadi mudah membaca suasana hati pengunjung karena aku mampu menyatu dengan semua syaraf yang ada dalam tubuh seseorang itu.”

“Did you read me?” Tanyaku terheran-heran karena masih takjub dengan penjelasannya.

Bintang mengangguk, dan menjawab sembari tersenyum, “Kamu hanya mendramatisir hubungan jemari tanganku dan kakimu.”

“Tapi apa arti kedekatan kita selama ini?” Aku tetap menuntut jawaban.

“Aku mengagumi kedua kakimu. Jemari kita memang bersinergi. Namun bukan itu yang membuatku ingin mengenalmu lebih dekat. Kedua kaki kamu adalah cerminan dari jalan pikiran kamu yang berantakan. Sistem syaraf kamu lemah. Kaki kamu jadi masterpiece buatku.” Jawabnya ringan seringan-ringannya.

Sementara aku terdiam. Tak tahu harus marah pada Bintang dengan segala penjelasannya yang terdengar asing bagiku, atau cemburu bercampur marah serta dendam pada kedua kakiku yang makin terbukti tak tahu diri. Aaargh!

Bintang beranjak dan tampak iba saat melihatku.

“Percayalah padaku, kamu tak akan kehilangan aku. Contoh paling gampang, kalau seorang laki-laki selalu bisa mendapatkan kepuasan di ranjang bersama pelacur favoritnya, hal itu bukan jaminan mereka bisa seiring seia sekata seumur hidup di ranjang yang sebenarnya bernama pelaminan bukan?” Katanya dengan, sekali lagi, ringan.

Bintang pergi meninggalkanku. Romantisme jemari kami kandas begitu saja. Kakiku barangkali sudah menemukan jodohnya, tapi bukan aku.

Kupandangi kedua kakiku dengan seksama selama beberapa saat dan akhirnya sampailah aku pada keputusanku. Aku tidak mau berkorban lebih banyak lagi untuk kedua kakiku! Siapapun jodohku nanti, dia tak harus pintar memijat kedua kakiku  yang tak tahu diri ini. Ketok palu! Sah!

***

Catatan harian Bintang.

Aku jatuh hati pada sepasang kaki. Lalu aku jatuh cinta pada pemilik sepasang kaki tersebut. Namun aku tahu, aku harus meninggalkannya supaya ia berhenti memusatkan seluruh hidupnya pada kakinya, dan memikirkan dirinya sebagai pribadi yang utuh, karena hanya dengan demikian kedua kakinya bisa sembuh suatu hari nanti dan seluruh sistem syaraf organ tubuh dan hatinya bisa selaras.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s