My Kitchen

imageCooking is always my best healing for my soul.


Kamu datang tepat di saat aku sedang memulai ritual memasakku. Kita berpelukan sesaat, lalu dengan penuh pengertian kamu duduk di dekat dapur sambil membuka salah satu gadgetmu, menungguku tanpa mengeluh sambil sesekali memperhatikanku.

Hari ini aku memutuskan untuk memasak lima macam masakan.  Aku suka creamy chicken soup sebagai makanan pembuka, lalu tanpa memperhatikan jenis dan kecocokan dengan makanan pembukanya, aku akan memasak sayur dan lauk ala chinese food, lalu puding buah mangga sebagai makanan penutup. Ah, tak lupa aku menyiapkan perangkat minum teh ala Inggris favoritku.

Beberapa hari sebelumnya, aku bisa memasak hingga 10 macam masakan dalam sehari, hanya saja lambat laun jumlah itu berkurang, pertanda baik untuk diriku. Bukan karena aku ingin makan dalam jumlah besar, tapi semua proses memasak menjadi terapi tersendiri untukku.

Aku menikmati setiap proses dalam memasak. Pertama adalah menentukan siapa saja yang akan menyantap masakanku, karena itu menjadi motivasi tersendiri untuk proses-proses selanjutnya. Kali ini, kamu yang akan menjadi penikmat masakanku.

Lalu aku memulai dengan membersihkan berbagai sayuran. Melihat warna-warni sayuran dan kemilau air yang membasuhnya, aku terlena dalam alur isi air, cuci, isi air, dan cuci lagi hingga sayuran itu menjadi bersih.

Selanjutnya aku tenggelam dalam derap irama pisau saat aku memotong-motong bahan dan sayuran. Tak lama kemudian, dengan pisau aku susuri tiap lekuk berbagai bahan bumbu yang bentuknya ajaib dengan seksama. Lalu aku ikut bergoyang seiring tanganku yang bergelut dengan cobek saat menghaluskan bumbu-bumbu yang ada. Semua membutuhkan pengaturan energi yang pas di berbagai titik, entah itu hanya di tangan, atau organ-organ lain.

Saat semua bahan siap dimasak, suara air mendidih atau pemandangan air kaldu yang meletup-letup sungguh memanjakan mata, dan bunyi daging yang dimasukkan dalam minyak yang panas bagaikan klimaks yang heboh namun memuaskan indera pendengaran, dan aroma masakan yang harum tak hanya memikat indera penciuman, namun seluruh indera seperti dibawa ke awang-awang.

Saat semua hidangan tersajikan, aku menikmati penataan garnish dan senyummu.

Begitulah setiap ritual memasakku selesai, rasanya ada bagian dari diriku yang bebas dari masa lalu dan sembuh dari segala hal yang terasa kurang menyenangkan di hati.

Saat kegilaanku memasak mereda, aku siap melangkah dengan semangat baru. Rasanya seperti terlahirkan kembali. Peaceful. 

Kini kamu dan aku dapat dengan leluasa menyantap hidangan yang tersaji sembari membicarakan langkah dan rencana baru dalam hidup kita.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s