Simplicity

imageAku bisa menikmati kesederhanaan di depan mataku ini, tapi aku tak menemukan diriku disitu.

Kamu memandangku dengan tak percaya. Sedari awal kamulah satu-satunya orang yang tak mau menerima pernyataan dan jawaban sederhana yang kuungkapkan dengan ringan tanpa ada motif menimbulkan kebohongan pada publik di sekitar aku dan kamu.

“Omong kosong! Kamu mengerjakan sepuluh ladang dalam sehari sekaligus mengurus segala hal di seputar desa seolah itu pekerjaan yang sangat mudah. Siapakah kamu sebenarnya? Keluarkan senjatamu!”

“Apa keuntungan yang ingin kau dapatkan dari mengetahui identitasku yang sebenarnya?” tanyaku dengan gamblang dan santai.

Laki-laki di depanku ini tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Aku ingin mengenalmu lebih jauh dan aku tak sebodoh orang lain untuk mau percaya begitu saja tentangmu.”

Aku tersenyum maklum, “jawaban kamu standar, tapi usahamu patut dihargai.”

Tanpa pikir panjang kukeluarkan pedang samuraiku tepat di hadapannya.

Matanya langsung terbelalak dan nanar beberapa saat kearah pedang samuraiku yang besar dan panjang dengan mata pisau yang berkilau dan tampak sangat tajam.

Lalu cepat-cepat kusimpan kembali pedang samuraiku di balik jubah hitam yang terlipat rapi di dalam kotak kayu berukirkan kisah kemenangan.

Kusantap kembali ramen panas yang masih tersisa seolah-olah sebelumnya tak terjadi apapun.

Kamu masih nanar hanya saja kali ini kamu menatap wajahku lekat-lekat.

“Apa yang kamu lakukan disini?” tanyamu takjub keheranan.

“Melengkapi perjalananku.”

“Apakah kamu…?” tanyamu menggantung sambil melirik sekilas kearah kotak pedang samuraiku.

Masih sembari menikmati ramenku, aku mengangguk tegas dan menjawab, “Ya, aku sudah membunuh banyak orang, ratusan kepala.”

Kali ini kamu tak lagi takjub tapi mendesah, “sudah kuduga.”

“Apakah kamu bahagia berada disini?” tanyanya tanpa jeda.

Aku meletakkan mangkok ramenku yang telah kosong dengan hati-hati. Lalu aku berusaha menjawab dengan jujur sekaligus sebaik mungkin agar tak mengguncangkan dunia laki-laki di hadapanku ini.

“Aku menemukan kesederhanaan di tempat ini. Aku menikmati angin yang bertiup sejuk di ladang kita, juga kehidupan yang damai di tempat ini. Aku juga belajar untuk mengerahkan kekuatanku yang besar dengan lebih lembut dan halus. Aku pun juga senang dapat mengenal dan merasakan kembali kebaikan yang ada pada diri manusia di sekitar kita, sehingga membuatku kembali percaya pada kemanusiaan dan hati manusia.”

Aku menghela nafas dan memilih diam agar kamu punya cukup waktu untuk mencerna semua ini dengan lebih baik.

Kamu menerawang jauh kearah ladang sambil menggumam, “aku tahu kamu bukan wanita biasa, paling tidak puteri seorang pendekar atau anak pejabat dengan senjata penanda identitasmu saja. Tak sedikitpun aku menduga kamu adalah seorang samurai.”

Sudah kuduga reaksi kamu akan seperti ini, aku memilih beranjak pergi namun tiba-tiba tanganmu meraih tanganku.

“Ceritakan lagi tentang dirimu. Aku hanya takjub, tapi aku tak menyesali rasa tak percaya serta keingintahuanku tentangmu.”

Aku kembali duduk dan akhirnya ikut menerawang ke arah ladang bersamamu.

“Setelah beberapa saat di tempat ini, pada akhirnya aku tak bisa mengingkari, jiwaku merindukan dunia yang penuh hingar-bingar, kekuatanku sudah terlalu lama tertahan di dalam tubuhku sendiri, dan menebas rumput liar serta membunuh hewan-hewan pengerat sebanyak apapun itu tak akan sama dengan tebasan saat aku mengayunkan pedang samuraiku kearah manusia.”

“Tempat ini dan segala isinya tak menggenapi takdir hidupmu.” Sahutmu sambil mengangguk-angguk.

Lalu aku menoleh padanya, “maafkan aku, sedari awal aku juga sudah menyadari kamu satu-satunya orang yang tak akan percaya begitu saja mengenai diriku, bukan karena aku meremehkanmu dan menganggapmu tak bisa menerima kebenaran ini, hanya saja pada satu titik tertentu dalam hidupku sempat terbersit keinginan untuk meninggalkan identitas serta kehidupanku sebagai seorang samurai.”

Kamu menatapku dan akhirnya kembali tersenyum ramah padaku walaupun kesedihan tersirat di kedua matamu.

“Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu cari di tempat ini dan bisa sesegera mungkin kembali ke duniamu. Aku yakin di luar sana banyak orang yang telah menanti dan lebih membutuhkanmu.” Katamu dengan lebih tenang dan tulus.

Aku mengangguk tegas dan tersenyum, “aku lega kamu bisa menerimaku sepenuhnya tanpa ada keinginan untuk menghakimi hasrat jiwaku sebagai seorang samurai.”

Kutatap kotak berukir dengan jubah hitam yang membungkus pedang samuraiku. Ya, aku akan kembali secepatnya dan siap mengibaskan pedang samuraiku kembali dengan pemahaman yang lebih baik mengenai kehidupan dan manusia.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s