One More Hellow

photoAku berdiri tepat di pinggir jurang. Kamu hadir. 

Waktu itu hujan deras. Awan kelabu menjadi payung yang tak menarik di sepanjang hari. Dingin mendekap sempurna. Kabut membumbung dan membutakan mata. Tak sedikitpun dia bisa bergerak. Urat syarafnya bagai membeku. Jiwanya tampak berusaha membakar sedikit semangat demi bertahan hidup, namun sia-sia.  Tatapan matanya yang kosong makin menguatkan kenyataan tentang jiwanya yang meredup.

Badannya tampak tak bertenaga. Namun tangannya mengepal kuat-kuat, menahan sakit yang teramat dalam yang barangkali sudah ditahannya selama beberapa saat terakhir ini. Kedua matanya tampak bengkak, air mata mengalir hingga meluruh bersama guyuran air hujan.

Baju yang dipakainya adalah baju kesukaannya. Merk mahal favoritnya. Dulu kami membeli baju itu di Milan.

Dulu, ya dulu aku mengenalnya sebagai sosok yang selalu ceria dan tergila-gila dengan kenikmatan hidup. Semua masalah hidup tak mampu menggoyahkan hatinya yang selalu optimis. Apalagi perkara cinta, tak sedikitpun mampu membuyarkan kecintaannya pada dunia dan seisinya.

Dia seperti charger bagi kami sahabat-sahabatnya. Kalau kami lowbat, kami tahu kami harus pergi kemana.

Lalu selama beberapa waktu dia menghilang. Kami pikir dia sedang sibuk berkeliling dunia, hobi yang selalu dilakukannya tiap dua atau tiga tahun sekali. Hingga suatu hari dia menghubungiku.

Dia tidak pernah meminta, hanya kali ini saja dia meminta bahkan memohon padaku untuk segera menemuinya. Here we are, di tepi jurang, Tibet.

Aku menatapnya dengan diam. Aku hanya perlu sedikit mensejajarkan posisi berdiriku untuk memastikan dia menyadari kehadiranku.

Beberapa saat lamanya dia memejamkan mata. Lalu pelan-pelan dia mulai membuka mulutnya dan berbicara dengan lirih sekaligus penuh penekanan, khas dirinya selama ini yang tak pernah ragu akan apapun.

“I jump, you jump?” Tanyanya serius namun penuh pesan humor.

“I’m not Jack.” Jawabku datar dan gamblang.

“You watched Titanic three times.” Sahutnya lemah tapi ringan, seolah kita sedang berbincang di kafe favorit kita.

“Yes, you gave me an illogical but awesome reason to accompany you watching that movie for three times.” Kataku tenang.

Lalu dia terdiam lagi. Kembali mengernyit seolah rasa sakit itu kembali datang dan menyiksanya.

“I’m not Rose. But I jump, you jump?” Ulangnya sekali lagi.

Aku menggeleng tegas, “what for? To die in a silly way? No. I prefer to jump once again in life with you, though it’s miserable.”

Sudut bibirnya terangkat, dia tertawa sedikit.

“Kamu satu-satunya sahabat yang sebenarnya tak pernah benar-benar membutuhkanku. Kamu berpura-pura hanya supaya aku bertahan di dunia ini dan merasa dibutuhkan oleh orang setangguh kamu.”

Aku mengangkat bahu dan berkata gamblang, “kamu tahu aku orang yang paling tidak pintar berpura-pura.”

“Whatever, yang jelas kamu tahu siapa membutuhkan apa. Kamu tidak peduli dengan image yang terbentuk, kamu hanya menyesuaikan peran agar orang-orang disekitarmu bisa merasa berarti dan bahagia. Bukan seperti aku, yang selalu merasa ingin dibutuhkan sekaligus egois dengan perasaan itu.” Jelasnya panjang lebar.

“You are not. I can be anything for my friends, but I choose them perfectly. I don’t tolerate people like you do. So here I am.” Sahutku ringan dan jujur.

Dia terdiam lagi selama beberapa saat.

“Hidup tidak seramah dulu lagi. I’m tired.” Keluhnya dengan suara berat.

Aku tertawa. Dia menatapku heran.

“Kita tahu hidup tidak akan pernah ramah, dan bukankah fakta itu yang selalu jadi pembenaran sempurna untuk aktivitas hedon kita selama ini bukan?” Tanyaku retorik.

Dia terdiam lagi.

Lalu sekali lagi dia bertanya, “I jump, you jump?”

“Okay, but give me one last wish.” Sahutku cepat dan taktis.

Kami saling bertatapan tajam.

“Karena ini kamu, okay one wish.” Katanya hati-hati.

Aku berdeham. Last wish. Last chance. Last hope. Maybe last time.

“Would you accompany me to once again conquer this world?”

Sesaat waktu terasa membeku bersama udara dingin. Life is always about gambling. But I always choose the best partner. I never make a mistake about it.

Dia tiba-tiba melakukan gerakan yang teramat cepat, dan sesaat dia sudah dalam pelukanku. Menangis dan menggigil. Tapi aku tahu dia akan kembali seperti dulu. Being awesome.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s