Pater Noster

walk2Dia menantiku mengatakan sesuatu. Gerak tubuhnya santai namun tangguh, siap menerima apapun yang ingin kusampaikan. Is it over yet? Can I open my eyes? I said and cry.

Selama beberapa menit, aku dan dia terhanyut dalam suara isak tangisku. Dia sibuk menyodorkan helai demi helai tisu untukku. Diam. Hening. Tapi nyaman. Sangat nyaman.

“Saya… Saya…” Aku menangis lagi. Kali ini lebih keras.

Ia menatapku dan mengerti. Bukan tatapan kasihan, iba, ataupun prihatin. Ia menatapku khawatir dan paham. Sekali lagi ia menyodorkan tisu padaku.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Katanya tenang.

Aku menyeka air mataku dan berusaha untuk tenang dan menjawabnya, “Saya… Saya tak mampu lagi melawan mereka. Pada akhirnya saya sadar, bukan perang ini yang saya inginkan. Saya tak mampu lagi membuat segalanya seindah yang seharusnya bisa terjadi. Saya…saya kalah…dan salah-“

“Kamu tidak salah! Kamu tidak pernah salah!” Serunya lantang dan tegas.

Aku menangis lagi mendengar perkataannya. Kini aku percaya, dalam keadaan seburuk apapun, selalu akan ada malaikat penolong, bahkan jika kamu tak mengiranya sekalipun.

“Kamu selalu mampu menyelesaikan semua hal. Saya melihat sendiri semua perang yang berhasil kamu lalui. You’re awesome.” tandasnya tajam, tanpa intonasi manis, namun terdengar sangat indah, menghangatkan hati.

Namun aku menggeleng, “I’m lose, sir. Now, I’m down. I’m hurt. I’m not strong enough. I’m fragile-“

“Sshhhh…” Lirih ia bersuara dan segera mendekati dan memelukku erat.

Aku menangis lagi selama beberapa saat. Saat air mataku berhenti menetes, ia melepasku perlahan.

“Why didn’t you tell me before?” Dia bertanya dengan lirih.

“I don’t want to be your burden. Saya hanya merasa saya harus melakukan semua ini. Sudah terlalu lama saya berdiam diri melihat awan biru menjadi hitam. Bahkan mentari tak lagi terasa hangat, namun menyengat. Saya tak ingin memberatkan siapapun.” Jawabku, kali ini dengan lebih lancar dan intonasi lega.

Dia mengangguk mengerti.

“Saya tidak peduli lagi bagaimana dunia ini melihat saya. Dunia pun tidak perlu melihat apa yang telah saya perjuangkan untuk dunia itu sendiri.” Kataku lirih namun tegas.

Ia beranjak dan berjalan menuju balkon. Hari ini matahari enggan bersinar. Hujan menemani aku dan dia. Ia menatap ke suatu arah dan menerawang.

“Tahukah kamu bahwa yang terjadi di dunia ini selalu yang sebaliknya? Orang kalah akan berkata ia menang. Orang rata-rata akan berusaha meyakinkan dunia kalau ia unik dan pintar. Orang yang hancur akan berseru lantang kalau ia tangguh. Orang yang sepenuhnya salah akan selalu mengucapkan seribu satu pembenaran dan menganggap semua itu adalah kebenaran yang mutlak. Orang yang sakit hati dengan berlagak ringan akan berkata bahwa all is joke. Tahukah kamu bahwa orang yang berani mengakui kesalahan dan kekalahan adalah pemenang yang sebenarnya?” Katanya lirih penuh tanya.

Aku menggeleng, “Bahkan saya tidak peduli menang atau kalah, kecuali saya ikut kontes.”

Ia tertawa keras dan menatapku jenaka.

“Tapi kamu harus ingat satu hal, buat saya, kamu tidak pernah salah. You will always be a better man, because you’re never afraid to be more human. Now, just open your eyes. It’s over.” Katanya lembut.

Lelaki ini tidak pernah berkata-kata banyak. Intonasinya selalu datar atau tajam. Senyum nyaris tak pernah terukir diwajahnya. Tapi jauh, jauh sebelum kejadian hari ini, aku tahu mata dan hatinya selalu mampu menangkap begitu banyak hal dan melakukan begitu banyak hal besar untuk orang lain, yang barangkali ia  sendiri pun tak menyadarinya.

Di dalam dunia kecil yang pengap ini, hanya dia satu-satunya orang yang sangat paham bahwa hari ini adalah hari yang sangat kunanti-nantikan. Hanya dia yang mengerti bahwa aku layak mendapatkan kebebasan, dan menyadari bahwa dunia yang lebih besar sedang menantiku.

Sebelum aku melangkah pergi, untuk terakhir kalinya, ia mendekati dan mengenggam tanganku, “Kemanapun kamu pergi, saya akan selalu besertamu.”

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s