Would you do that for me?

241199a8fd58a1d967bfaf2724484db8Kamu berubah sejak hari itu. Semakin dingin dan menjauh dari orang-orang disekitarmu. You said to your best friend, For finally I can’t and never be a winner without her.

Aku dan sahabatmu melihatmu dari kejauhan. Kamu duduk di sebuah cafe yang jauh dari dunia sekitarmu. Inilah tempat kamu biasa meletakkan topeng-topengmu, dan memakai wajahmu sendiri. Wajah, yang walaupun aku tak pernah tahu cafe ini, namun selalu dapat kulihat.

“Sejak kamu pergi, bahkan saat dia datang ke cafe inipun, dia tak pernah lagi membuka topeng-topengnya.” Kata Sahabatmu prihatin.

Aku hanya bisa terdiam dan terus melihat kearahmu. Kamu mengambil cangkir di depanmu dan meminum isinya dengan tatapan mata kosong.

“Saat mengenalmu, dia tahu bahwa untuk menjagamu agar tetap selalu didekatnya, dia harus memakai topeng berwajah baik. Awalnya dia tidak menyadari, namun pada akhirnya, dia terbiasa dengan topeng itu dan merasa nyaman.” Lanjut Sahabatmu gamblang dan lugas.

“Dan aku juga yang menghentakkan topeng itu.” Kataku lirih namun tegas.

Sahabatmu mengangguk, kami bertatapan sejenak. Dari kilau matanya, aku tahu Sahabatmu mengharapkan aku berbuat lebih, lagi, untukmu.

“Dia bilang kamu satu-satunya orang yang bisa meyakinkan dia kalau menjadi orang baik atau at least memakai topeng berwajah baik memang baik adanya, tapi apa gunanya jika pada akhirnya satu-satunya orang yang percaya ada kebaikan dalam dirinya akhirnya juga meninggalkan dia.” Jelas Sahabatmu dengan nada makin membujuk.

“Aku tahu situasi terakhir waktu itu memaksa dia untuk tetap memakai topeng berwajah baik itu, namun kali ini tidak dengan konteks dan suasana yang pas, bahkan tidak untuk tujuan yang baik. Dia sadar hal itu hanya akan sia-sia di depanku.” Jelasku pula tanpa tendensi apapun.

Kami terdiam beberapa saat dan kembali melihat kearahmu. Handphonemu yang tergeletak di meja berkerlap-kerlip berulangkali, namun kamu tak mengangkatnya, bahkan melirik pun tidak. Lalu tiba-tiba kamu menghela nafas kuat-kuat dan membuangnya dengan kasar, lalu duduk menyandar di sofa, masih dengan tatapan kosong.

“Dia menyadari hal itu. Sejak hari itu hingga sekarang, dan entah sampai kapan, he takes blame, secretly. Topeng berwajah baik itu tak pernah lagi ia gunakan, digantikan oleh topeng berwajah dingin.” Jelas Sahabatmu lagi berusaha untuk meyakinkanku.

“He has his own heart. He can use it well. He has his own power to use his heart.” Kataku sabar.

Tiba-tiba Sahabatmu melihat kearahku dan menyentakku dengan tangannya yang memegang erat kedua lenganku.

“Dia bahkan baru tahu kalau dia punya hati karena kamu! Dan hanya denganmu dia belajar menggunakan hatinya! Kamu meninggalkannya disaat dia sangat membutuhkanmu untuk bisa membuatnya percaya pada hatinya sendiri! Don’t you realize that?” Sentak Sahabatmu dan kemudian melirih lalu tertunduk sedih.

“What about you? You are his best friend.” Tanyaku heran.

Sahabatmu menggelengkan kepalanya berulangkali, “Aku dan dia sama. Kami anak-anak yang tumbuh dengan harta dan politik yang mendarah daging dalam keluarga kami. Bukan sentuhan cinta yang kami dapatkan, tapi topeng. Hanya topeng itu satu-satunya cara kami bertahan. Aku selalu senang tiap kali dia bercerita tentangmu, somehow itu juga membuatku akhirnya mengenal hatiku sendiri, percaya bahwa ada cinta tanpa syarat di dunia ini. Namun kisah itu berakhir, di saat aku pun tak siap kisah itu harus berakhir saat  itu juga.”

Sahabatmu menangis lirih namun tubuhnya bergoncang hebat barangkali menahan sakit yang teramat perih di hatinya. Aku pun memeluk sahabatmu selama beberapa saat.

Setelah tangisnya mereda, aku bertanya padanya.

“Jika kalian benar-benar tidak punya hati, bagaimana kalian tahu kalau aku adalah orang yang benar-benar memiliki hati dan bukannya topeng seperti yang kalian miliki?”

Sahabatmu terkesiap, diam sejenak dan akhirnya menjawab.

“Pada awalnya kami hanya menduga-duga. Tapi dia lebih yakin ada kebaikan yang nyata dalam dirimu. Tragedi terakhir diantara kalian, walaupun membuatmu pergi, tapi makin meyakinkan dirinya bahwa, memang hanya kamu yang berani menolak tawaran duniawi yang menggiurkan hanya demi menjaga kebaikan dalam hatimu.”

Aku tersenyum  tipis dan kembali menatap kearahmu. Kali ini kamu menopangkan kepalamu pada kedua tanganmu dan menunduk lama sekali. Tampak tubuhmu bergoncang. Sesaat kemudian, kamu mendongak, melepas kacamatamu, dan ya, kamu meneteskan air mata yang cepat-cepat kamu hapus.

“Bagaimana denganmu, jika kamu benar-benar bisa membedakan orang berdasarkan hatinya, bahkan kamu selalu bisa melihat wajah asli orang-orang, kenapa kamu mau menerima dia saat itu?” Tanya Sahabatmu dengan intonasi takjub dan sangat ingin tahu, seolah ia baru tersadar bahwa itu pertanyaan maha penting yang entah kenapa selalu terselip dan lupa diajukan padaku.

Aku tersenyum dan menatap Sahabatmu, “Dalam setiap peristiwa kehidupan, seburuk apapun, Sang Pencipta selalu mengirimkan satu malaikatnya untuk menolong kita. Dia tinggal memilih siapa orang paling tepat yang bisa menjadi malaikat itu. Bisa jadi orang disekitarmu, atau orang yang pernah ada di dekatmu. Sang pencipta adalah pembuat kisah yang hebat, jadi dia tidak akan pernah mengirimkan malaikat yang tiba-tiba muncul dalam kehidupanmu tanpa keterikatan plot yang kuat.”

“Did He send you for him?” Tanya Sahabatmu makin takjub.

Aku mengangkat bahu, “Siapapun yang jadi malaikat itu tak akan pernah sadar dialah yang diutus, hanya orang yang diberi malaikat itu yang bisa menyadarinya. Saat malaikat itu pergi, menjadi pilihan orang itu untuk berubah atau tidak. But anyway, aku selalu percaya, there’s no coincidence in this life.”

“Would you comeback to him?” Tanya Sahabatmu sangat gamblang.

“Buat apa? Dia sudah memilih saat itu. Bahkan saat itu, aku sudah bertahan lebih lama dari waktu yang seharusnya diberikan untuk perjumpaan antara aku dan dia, hanya untuk menanti dia bisa mengerti semua ini.” Jawabku sederhana.

“Lalu buat apa juga semua itu jika pada akhirnya dia tetap tak bisa berubah?” Tanya Sahabatmu makin menuntut.

“Aku tak pernah berniat mengubah siapapun. Supposed to be, sama halnya dengan orang yang pernah mengecap harta duniawi, orang itu akan selalu ingin mendapatkannya lagi, begitupun orang yang pernah merasakan cinta dan kebaikannya, orang itu akan mencarinya lagi. Dan sebenarnya untuk perkara cinta, orang tidak perlu repot-repot mencarinya di tempat yang jauh atau pada orang lain, semuanya itu bisa ia temukan dalam dirinya sendiri.” Jawabku panjang walaupun berusaha singkat.

“Is it really true?” Tanya Sahabatmu ragu.

Aku mengangguk tegas dan kuat, “Yes. It’s true. Dengan situasi yang berbeda, I’ve been there. I never believe in love. But God is never tired to send me more and more love in my life. Till one day, I realize it is my choice to accept it well or not.”

“Apakah itu berarti Sang Pencipta juga tidak akan lelah pada orang-orang seperti kami?” Tanya Sahabatmu takut.

“Tuhan enggak akan pernah lelah. Manusia yang suka lelah.” Jawabku dengan senyum simpul.

Aku melihat kearah cafe, dan kamu masih belum beranjak dari sofamu. Kamu bahkan menenggak kopi dari gelas keduamu dengan sangat cepat, lalu kembali termenung.

“Let’s get out from here.” Ajakku dengan ringan pula.

“What about him?” Tanya Sahabatmu masih dengan nada penuh harapan padaku.

“Semua orang punya perang dalam batinnya masing-masing. He should face it by himself.” Kataku ringan.

Lalu mobil yang membawa aku dan Sahabatmu pergi. Hujan turun mengantarkan kepergian kami, dan berganti menemanimu.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s