Gadis Merah Jambu

60235713735561606Xze79Gi1cAku sudah lama tidak bertemu dengannya. Gadis bersepatu merah. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku tak bisa berhenti memikirkannya. Kali ini, aku tak mau melewatkan kesempatan ini.  

Hari ini selain sepatu merahnya, aku juga melihat sebuah kotak merah di tempat duduk favoritnya. Ia tidak sedang sibuk dengan laptop atau gadgetnya, hari ini dia mewarnai sebuah buku cerita. Yeah, mewarnai. Dan dia wanita dewasa, bukan gadis kecil.

“Hellow, boleh duduk disini enggak?” Kataku ramah padanya.

Dia mendongak dan menatapku beberapa saat, ekspresinya tak mampu kubaca, namun akhirnya dia tersenyum manis dan menyingkirkan beberapa barangnya, sehingga aku bisa menaruh beberapa barangku di mejanya.

“Wow, mewarnai!” Aku berkomentar sambil melongok kearah buku mewarnainya.

Gadis itu hanya tersenyum dan menatapku lekat-lekat, saat aku mulai membalas tatapannya, ia mengalihkan pandangannya dan kembali mewarnai.

“Hobi ya?” Tanyaku tak putus asa menghadapi senyum tanpa katanya yang selalu dijadikan jawaban untuk setiap perkataanku.

Kali ini dia tidak tersenyum, dan tangannya berhenti bergerak.

“Terapi.” Jawabnya singkat tanpa menatap kearahku, dan ia pun melanjutkan mewarnai.

Aku mulai membuka minumanku, a little bit speechless mendengar jawabannya, tapi aku semakin tertarik padanya. Tiba-tiba mataku dan matanya bertemu. Tampaknya ia memang ingin tahu reaksiku setelah mendengar jawabannya. Aku jadi salah tingkah dan tersedak.

Gadis bersepatu merah itu tertawa dan menyodorkan tisu padaku.

“I’m doing this for therapy. For myself.” Kali ini dia menjawab dengan mata ceria dan nada riang. Tidak semengerikan tadi.

“Tell me about it.” Kataku hangat.

Gadis itu tersenyum dan menjelaskan sembari menunjuk ke arah buku berwarnanya.

“Kalau kamu mewarnai, sebaiknya kamu enggak melebihi garis batas yang ada pada suatu gambar itu. Begitupun dalam hidup ini, ada begitu banyak batas, terserah kita apakah kita mau melewatinya atau tidak.” Jelasnya sederhana namun mendalam.

“What about you?” Tanyaku padanya, ringan namun menuntut jawaban.

Ia mengangkat bahu, “Butuh keberanian yang besar untuk melewati sebuah garis batas. Konsekuensinya terlalu besar. Bahkan kadang pilihan untuk tak melewatinya dianggap sebagai perbuatan yang lebih bijaksana.”

“And you?” Tegasku.

“Aku melewatinya berulangkali.” Jawabnya lirih namun terkesan kuat. Bukan  intonasi penyesalan.

Lalu ia kembali mewarnai, barangkali memberiku waktu untuk mencerna perkataannya.

“Why you did that then?” Tanyaku lagi.

Kali ini dia terus mewarnai sembari menjawab.

“Kalau kamu mewarnai, sapuan warna itu harus searah, konsisten, dan lembut, supaya menghasilkan sebuah warna yang padat, dan bukannya tercerai berai oleh sapuan tak beraturan. Aku tahu semua cara tentang bagaimana mewarnai. Aku selalu tahu lebih dulu dibandingkan teman-teman sebayaku. Itu membuat aku di masa kecilku sangat suka melewatkan banyak pelajaran sederhana bahkan rumit sekalipun. Tidak ada sesuatu yang menantang buatku, selain menjelajahi dunia imajinasi manusia itu sendiri. Tapi sekarang aku menyadari aku melewatkan begitu banyak esensi dari pelajaran-pelajaran itu, seperti tentang pelajaran mewarnai ini dan tentang melewati sebuah batas.”

Sesaat dia terdiam dan menerawang. Tangannya berhenti bergerak. Aku pun juga merasa terhipnotis selama beberapa saat. Sampai akhirnya aku kembali menemukan sebuah pertanyaan untuknya.

“Kalau kamu sejak kecil mengetahui esensi dari kegiatan mewarnai ini, apa yang kira-kira kamu harapkan dari dirimu sendiri?” Tanyaku makin ingin tahu.

Dia tergelak dan menjawab, “Mungkin aku enggak akan segila ini untuk berulangkali melewatinya.”

“Tapi pasti kamu punya alasan dan tujuan yang kuat kan setiap kali melewati garis batas itu?” tanyaku antara membela tindakannya sekaligus memuaskan keingintahuanku.

Dia menggeleng dan menatapku lekat-lekat, “I just follow my heart and do what I should do.”

“Kalau begitu, kenapa sekarang kamu melakukan tindakan mewarnai sebagai terapi, kalau pada akhirnya kamu mungkin tetap akan melewati garis batas?” Tanyaku  tak paham.

“Setiap kali melewati garis batas, it takes my biggest energy, even adrenaline. Dengan mewarnai, aku bisa melatih diriku untuk kembali mengatur seluruh kekuatanku itu sesuai porsi, menyalurkannya dengan lembut. If I don’t do it, It could kill me well.” Jawabnya sambil tersenyum sangat manis.

Aku mengangguk-angguk dan kembali menenggak minumanku. Setelah itu kutatap gadis itu lekat-lekat sambil berkata, “Awesome. You are awesome!”

Dia hanya  tersenyum dan kembali mewarnai. Sementara aku tidak suka keheningan ini, aku masih ingin berbincang dengannya, ketika tiba-tiba dia mendongak dan bertanya padaku.

“Kalau kamu gimana? Suka melewatinya atau tidak?” Tanyanya terdengar seksi sekaligus usil.

“Jika bersama dengan orang yang tepat, aku mau melewatinya terus bahkan kalau memang aku harus melakukan hal itu sepanjang hidupku.” Jawabku tak kalah seksi dengan buaian rayuan gombal yang walau aku tahu tak akan membuat gadis semacam dia akan tergoda begitu saja, tapi ini memang tentang melewati batas bukan?

She’s laughing and blushing. Di titik ini aku makin yakin,  mungkin aku tak tertarik melakukan kegiatan mewarnai seperti yang dia lakukan sekarang, but I want her,only her, to color all my life.

Aku mengulurkan tangan padanya, “Alexander.”

Dia tersenyum dan menerima uluran tanganku, “Gadis”.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s