Sophie

116319602845446623h1XEUZ2acSOPHIE…

By G.B

Aku dan Sophie kini duduk berhadapan di ruang makan karyawan, di basement sebuah stasiun tv ibukota. Sambil mengunyah mie goreng dan segelas susu coklat, aku mendengar cerita tentang perjalanan dan pengalamannya beberapa tahun terakhir ini. Sophie yang sekarang berbeda dengan Sophie yang kukenal dulu. Sophie tidak lagi gampang terpancing emosinya. Apabila menghadapi gesekan dengan kawan ia akan tampak lebih cool.

Namun entah ada angin apa tiba-tiba ia menghubungiku via email. Sudah lima tahun kami tidak bertemu. Bahkan nomor hp-nya sudah terhapus dari memori di hp-ku. Maklum saja empat tahun yang lalu hp-ku hilang. Untung saja kami bisa saling mengingat email kami.

Memoriku terbang mundur saat di bangku kuliah sastra. Sebetulnya Sophie adalah orang yang paling sinis terhadap tingkah laku dan apa pun yang aku lakukan. Setiap aku menulis cerpen, berbahasa Indonesia tentu saja, Sophie tidak pernah memuji barang sedikitpun. Kritik dan sikap antipati adalah menu harian yang aku telan bila berdiskusi dengannya. Awalnya aku sangat tersinggung dikritik olehnya, karena sebetulnya anak ini bukan orang yang paling tepat memberi kritik. Pertama, kami masih sama-sama kuliah, belum matang dibidangnya. Kedua, setiap aku membaca tulisan karyanya toh aku juga merasa biasa saja, tidak ada yang istimewa. Mungkin kami ini beda selera dan memiliki gaya bercerita yang tidak sama. Baik buat dia belum tentu baik buatku.

Namun faktanya, toh aku tetap saja menunjukkan karya tulis kepadanya. Cerita pendek yang aku buat dengan berbagai macam maksud dan motif penciptaan, tetap saja kuantar untuk dibacanya. Diskusi dan perdebatan mewarnai masa muda kami. Ditemani segelas es teh dan es tomat, aku bisa duduk berjam-jam di teras rumahnya. Akhirnya waktu jugalah yang memisahkan kita. Setelah lulus dari bangku kuliah Sophie memutuskan untuk hijrah ke jakarta. Ia ingin menaklukkan ibukota katanya. Dengan modal dan ketrampilan menulis tentu saja.

Sementara aku memilih untuk tetap di kota kecil yang paling santai dan nyaman di negeri ini. Gunung dan pantai bisa aku tempuh hanya kurang dari satu jam dari tempat tinggalku. Udaranya segar dan cuacanya sejuk, suara burung berkicau masih jamak di desaku. Mau beli barang kebutuhan sehari-hari relatif lebih murah. Teman-teman dan keluarga besar yang gampang sekali kurindukan setiap aku pergi jauh walau hanya sebentar. Aku memang sedang berada di zona nyaman saat itu. Apalagi aku belum lulus kuliah, saat melepas kepergian Sophie ke ibukota. Tekadnya bulat, ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi somebody di sana.

Sebagai teman curhat tentu saja aku memberikan masukan kalimat petuah yang bernada penuh waspada… seperti hati-hati di ibukota banyak orang ambisius yang saling sikut. Di Jakarta banyak sekali serigala berbulu domba, robot-robot bernyawa, dan manusia mendewakan uang, gengsi, penampilan fisik penuh kepalsuan. Kami kemudian berdebat, menurutnya omonganku itu nonsense, ngelantur, mengada-ada dan tanpa data riset terlebih dahulu. Aku saat itu memang memunculkan sebuah statement tanpa bukti empiris, hanya dari cerita-cerita orang disekitarku. Atau sebetulnya saat itu aku sedang mengikuti intuisiku.

Namun toh akhirnya Sophie pergi juga memulai petualangan yang baru di kota besar itu. Semenjak kepergiannya, aku sebetulnya merasa kehilangan. Tapi toh jalan itu memang harus dilaluinya. Aku, walaupun terbilang jarang berdoa dan cenderung agnostic, tetap saja berdoa yang terbaik untuk hidupnya.

Semoga ia akan bertemu dengan kawan-kawan yang memiliki aura positif dan saling menguatkan. Semoga ia akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai passion-nya. Karena hidup akan serasa di neraka kalau kita bekerja tanpa ada cinta di dalamnya.

Dalam balutan seragam hitam-hitam seragam tempatnya bekerja, aku melihat Sophie malah seperti polisi wanita bagian interogasi. Cocok kayaknya tuh kalau dia memaksa seorang untuk mengakui kejahatannya. Pas banget ekspresi dinginnya, apalagi dengan sedikit penyiksaan. Sophie hanya tertawa dan menganggapku adalah kawan yang paling konyol. Sophie menceritakan sosok bosnya yang masih muda bercahaya dan menjadi idola mayoritas karyawannya. Sophie bercerita tentang kehidupan cintanya yang hambar, karena mengejar seseorang namun lelaki kurang ajar itu malah justru melecehkannya. Sophie bercerita bahwa seringkali ia mengerjakan hal-hal vital yang seharusnya menjadi tugas atasannya. Tapi toh karena pembagian job desk yang kurang jelas di awal, ia selalu seperti mendapat kulit durian runtuh. Sementara di pihak lain aku hanya menceritakan hidupku yang datar-datar saja dan tidak menarik.

Akhirnya tak terasa langit malam sudah berubah menjadi pagi. Matahari menerpa lubang cahaya basement. Aku pun pamit harus menuju bandara untuk segera pulang ke desa, meninggalkan Sophie yang harus kembali bekerja di stasiun televisi yang lagi naik daun itu. Semoga Sophie tetap mencintai profesi tulis menulis itu sepanjang hayat. Dari dalam taksi yang menjauh aku masih sempat melambaikan tangan dan berujar dalam hati, “Apabila nantinya dirimu harus keluar dari gedung itu, yakinlah bahwa kau akan pergi dengan kepala tegak. Karena kita manusia, bukan barang properti yang dimiliki sebuah korporasi. Manusia yang punya kemerdekaan, mimpi, cita-cita, dan bebas mengayunkan kaki melangkah. Sesuka kita.”

GB – 21 Maret 2014.


2 thoughts on “Sophie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s