W.E*

first-look-artistic-wedding-photo-bride-groom-hold-hands.originalHow could you be so in love with someone?  

Aku web content di sebuah web-magz komunitas laki-laki, khusus bagian lagu kenangan dan resensi film lama. Sungguh ini bukan bagian yang diidamkan oleh para laki-laki pada umumnya, karena siapa sih laki-laki yang pengin tampak melo dan rapuh? But somehow, aku termasuk penulis yang jadi ngehits karena dua bidang itu. Pengin tahu rahasianya, simak kisah nyata yang aku alami beberapa saat yang lalu.

images (12)Hari itu aku membuat resensi untuk sebuah film lama yang menurutku unik dan sarat akan makna cinta. W.E judul film itu. Disutradarai oleh Madonna.

Film itu berkisah tentang seorang wanita masa kini bernama Wally Winthrop yang terobsesi dengan kisah cinta nyata antara King Edward VIII dengan Wally Simpson. Kehidupan cinta Winthrop kacau dan berantakan. Persis seperti cermin kebanyakan kisah cinta orang-orang masa kini. Penuh tuntutan di balik kerapuhan yang terbungkus manisnya kata cinta.

Itulah mengapa Winthrop lebih suka bercermin pada kisah cinta King Edward yang bahkan bersedia menyerahkan tahta dan kerajaannya demi cintanya pada wanita Amerika berstatus istri suami orang, yaitu Wally Simpson. Melalui kisah tersebut, Winthrop mencoba memahami cinta yang sebenarnya. Bukan hanya King Edward yang melakukan pengorbanan, Simpson sendiri harus menghadapi hujatan dari seluruh dunia yang bisa saja membuatnya lari dari kenyataan dan meninggalkan kisah cintanya, namun ia bertahan.

Pertanyaan yang jelas tersirat dari film itu adalah “How could you be so in love with someone?” Seperti resensi pada umumnya, aku mengakhirinya dengan kata-kata ‘saksikan kelanjutan kisahnya dan temukan serta rasakan sendiri makna sebuah cinta sejati di film W.E!

Lalu aku upload lagu ‘Hello’-nya Lionel Richie versi Glee, biar gak tuwir-tuwir amatlah, cyiin. Lagian versi Glee itu duet, jadi rasanya lebih pas buat menemani resensi film W.E.

Baru lima menit published, sahabatku langsung meneleponku, “Ramdaaaaaan! Selamat ya! Resensi dan lagu yang epik! Ketemuan yuk. Urgent yaa Crystal Jade tempet duduk deket jendela, menu kayak biasanya, jam 7! Cu!”

Itulah Syeila. Sahabat cantik nan manis dengan perilaku teroris. Dia bisa muncul kapan saja dan memaksaku bertemu dimanapun dia mau.

Dalam perjalanan menuju resto yang dimaksud Syeila, hpku bergetar. Om Harley Davidson muncul di whatsappku. Om yang satu ini adalah adik nyokap paling bontot, paling kaya dan paling gila. Hobinya touring pake motor Harleynya, makanya kunamain dia begitu, abis nama asli dia jadul dan elo semua dijamin gak pengin tahu deh. Dia barusan cerai dan balik kayak anak abg yang bisa galau dan jatuh cinta kapan aja. Ponakannya yang muda gemilang satu ini, yang gak kalah ganteng tapi kalah kaya telak darinya, gak sampai ababil segitunya deh. Begini bunyi chatnya, ‘Ramdan, temuin om besok di Starbucks ya. Lunch time. Need your opinion. W.E & Hello. Love oh love.’ Nah, unyu kan?!

Crystal Jade. Sambil menikmati menu spesial pilihan Syeila, aku mendengarkan Syeila yang bercerita dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri-seri.

“Ramdaaaan, resensi sama lagu yang lo published tadi itu ngegambarin banget yang aku rasain sekarang ini. Aku enggak pernah jatuh cinta kayak ginih. Tapi cowok satu ini, ya ampuun Ramdan, so manly and sexy! Aku aja bisa ngebayangin tidur sama dia, Ramdaaan!” Katanya penuh hasrat yang sama sekali tak ditutup-tutupinya.

“Siapa sich? Gitu amat.” Seruku ketus campur jail, sembari terus mengunyah tanpa ragu.

“Aku ketemu dia di salah satu cafe. Dia lagi ngumpul gitu sama clubnya. Club Harley Davidson, Ramdaaan. Cowok separuh baya, dengan rambut putih dan tubuh yang wow banget deh, Ramdaaaan.” Jelasnya dengan mata menerawang.

“Oh om-om donk? Lo mau di poligami? Atau jangan-jangan dia duda mata keranjang?” Celetukku asal, yah namanya sahabat harus sinis bukan, daripada sahabat sendiri masuk sumur karena kebanyakan berangan-angan. Eh, kok clubnya harley Davidson sih? kebetulan aja kali ya.

“Duda gapapa. Pas buatku donk, Ramdan. Jadi dia gak akan bawel minta anak. Kalau semisal kami beda agama, dia bisa ngalah, kan ini perkawinan kedua buat dia, tapi yang pertama buatku. Lagian dia kayaknya tipe yang punya dunia sendiri, sama kayak aku. Jadi kita bisa sama-sama menjaga privasi tapi tetap bisa melebur jadi satu. Di ranjang hihihi Pokoknya he’s the one I’m looking for, Ramdaaan.” katanya berbusa-busa.

“Kalau dia ejakulasi dini gimana? Stroke duluan? Mati buruan?” tanyaku membabi buta.

Syeila langsung mencomoti bakso-bakso udang kesukaanku dan mengunyahnya dengan kejam, lalu melotot padaku, “Ramdan jahat! Lagian Ramdan, inilah cinta. Penuh pengorbanan. Kan kamu yang nulis resensi film W.E harusnya kamu ngerti donk. Lagian Ramdan, umur bukan jaminan. Namanya manusia pasti ada gak sempurnanya. But, he’s perfect for me, Ramdaaaan!”

“Nah, TERUS?” kataku makin gemes.

“Ramdan, waktu aku ketemu dia, aku pakai sepatu merah favoritku. Tas bendera Inggris dan kotak merahku. Aku mau ketemu dia lagi memakai semua atribut itu. I’m a London girl who sings ‘Hello, Is it me you’re looking for?’ hihihihi” Katanya sambil cekikikan riang.

Akhirnya setelah menuntaskan makan malamku yang hectic ini, aku berkata pada Syeila, “Syeila sayang, aku mendukung kisah cinta kamu yang satu ini. Semoga cepat berjumpa lagi dengannya, biar kamu bisa segera merenda kasih.”

“Aaahhh, Ramdaaaaan sayang!” Teriak Syeila sambil memelukku erat-erat.

Starbucks, lunch time. Aku melongo melihat Om Harley pakai kaos oblong warna putih dengan gambar bendera Inggris segede gaban di bagian depan. Biasanya doi selalu pakai kaos hitam dengan tema motor favoritnya.

Bahkan kali ini Om Harley pesan teh anget. Dilmah English Breakfast. Yaelah. Trus tiba-tiba dia menyodorkan salah satu earphonenya ke arah telingaku, terdengar lagu Hello-nya Glee. Hah?!

“Om lagi jatuh cinta, Ramdan.” Katanya santai dengan suara beratnya yang, meminjam istilah Syeila, manly. Eh, kok pas ya?

“Sama siapa lagi, om?” Tanyaku ringan.

“Om yakin ini cinta terakhir om. Gadis itu menakjubkan, Ramdan. Baru kali ini om ngerasain cinta pada pandangan pertama tapi om ngerasa udah kenal dia seribu tahun yang lalu.” Jelasnya dengan mata menerawang.

Wah, resensi film dan laguku kemarin kayaknya salah published deh. Kok aku jadi ketemu dua korbannya gini sih. Keluhku dalam hati.

“Gadis, om? Wah beda jauh donk. Ati-ati ntar diporotin, om.” Kataku apa adanya.

Tiba-tiba om Harley menoleh kearahku dengan mata sayu romantis dan wajah penuh cinta, “Ramdan, she’s different. Dia cantik dan pintar. Mandiri tapi manja. Dia adalah senandung ironi yang sempurna di hati om. Harusnya kamu ngerti gimana seseorang bisa sangat jatuh cinta pada orang lain setelah kamu nulis resensi film W.E itu, Ramdan.”

Kok kalimat barusan terdengar gak asing ya di telingaku? Batinku bertanya-tanya.

“Iya juga sih, om. Tapi kan tugas Ramdan ngingetin om. Coba kalo ntar ternyata gadis itu workaholic gimana? gadis jaman sekarang gitu loh, om. Trus ntar gimana kalo om tua dan sakit, dia malah berburu cari brondong. Om udah mikir ke arah sana belum?” Tanyaku mencecar tanpa berusaha menyakiti.

“Ramdan, kamu kan tahu om udah terlalu banyak menaklukkan para gadis. Gak kayak kamu-” Katanya tanpa pikir panjang, lalu berhenti sejenak untuk menyesap teh hangatnya.

EH! Kok… kok… Keluhku dalam hati makin tak karuan.

“-Jadi om tahu gadis ini emang beda dari gadis pada umumnya. Dia itu gothic, tapi riang. Hari itu dia tampak sangat menakjubkan dengan sepatu merah, tas bendera Inggris, dan kotak merah yang entah isinya apa, tapi warnanya sangat bagus untuk dirinya. She’s a London girl who can make me sing ‘Hello, is it me you’re looking for?'” Sambungnya dengan nada lembut.

WAAAAATTTTT?!?! Teriakku dalam hati.

Namun aku memutuskan bertampang datar dan culun-culun gak tahu.

“Om, Ramdan doain Om bisa ketemu gadis itu lagi. Semoga gadis itu bisa jadi tante terakhir dan terbaik buat Ramdan juga. Dan karena Ramdan ngerti banget makna di balik film W.E, jadi Ramdan yakin kalo alam semesta pasti akan merestui Om dan gadis itu.” Kataku dengan nada bijak dan tulus yang tidak kubuat-kubuat walaupun sedikit menyindir.

“Terimakasih Ramdan, kamu memang keponakan favorit Om.” Katanya sambil merangkulku hangat.

Kubikel di kantor. Pagi hari. Aku memutuskan untuk membiarkan Syeila dan Om Harley dipertemukan oleh alam semesta. Kisah cinta dua orang itu adalah salah satu contoh alasan mengapa aku menjadi penulis ngehits walaupun aku bekerja di bidang lagu kenangan dan resensi film lama. Cinta selalu bisa menyentuh hati siapapun, dan siapapun pasti bisa mendadak jadi melo kalau berurusan dengan cinta. Lagu kenangan dan film lama pun juga selalu punya nilai sejarah yang somehow selalu bisa membuat seseorang menyadari kerinduan mereka akan kehadiran orang lain dalam hidup mereka.

How could you be so in love with someone?

It just happens.

Percayalah, itu jawaban paling mendekati benar untuk pertanyaan di atas. Selamat menyaksikan film W.E dan berpetualanglah sampai kalian nanti bisa memiliki jawaban sendiri untuk pertanyaan di atas.

The end.

*Ini resensi film pertama di blog ini, yang dikemas dalam sebuah cerpen, dan masih terinspirasi oleh Mr. Harley Davidson.


2 thoughts on “W.E*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s