Call Me A Bitch

233061349436801519CNH7KHfGcCall me a bitch! I don’t mind. But baby, you can’t play as a Mr. Right in front of me. It’s a betrayal that I always call it…goodbye.

Dua tahun lebih aku dan kamu menjalin cerita cinta. Kata mereka kita pasangan paling serasi. Semua orang bilang aku beruntung kamu memilih dan memilikiku.

Kamu mengabaikan tatto di tubuhku, bahkan kamu menganggap pikiran dan opiniku tentang banyak hal adalah ceracauan isengku. Kamu lebih suka percaya bahwa aku adalah gadis manis yang akan selalu tersenyum setiap kali kamu membawakanku seikat bunga dan makan malam di tempat romantis.

Awalnya kubiarkan kamu berbuat sesuka hatimu, dan berharap kamu cepat memahami fakta yang sebenarnya tentangku. Namun hari itu tak kunjung datang.

Suatu hari, di sebuah pagi yang indah, saat aku bangun di sebelah lelaki lain yang bertato, kamu menghubungi dan memintaku untuk segera bertemu.

Sekali lagi, pilihan kamu adalah cafe mungil nan manis yang pasti kamu berpikir itu akan membuat hatiku senang.

“Sayang, weekend ini kita ke Singapore yah. Ada pertemuan keluarga tahunan. Aku mau kenalin kamu sebagai calon isteriku, so take my card and please go shopping.” Katanya sangat manis sambil mengulurkan sebuah kartu kredit platinum padaku.

Aku terperangah. Bukan, bukan karena kartu kredit platinum dan acara shopping yang ditawarkan padaku.

Sekilas kamu menyadari ekspresi mukaku yang aneh dan segera berkata, “Sayang, kamu enggak usah ngerasa enggak enak. Kamu kan emang calon isteriku, walaupun aku memang belum ngelamar kamu secara resmi. Tapi aku pasti siapin adegan bersimpuh dan menyodorkan cincin ke kamu kalau aku udah enggak sibuk. Okay, sayang?”

Omigosh! Teriakku dalam hati.

Dia terus menyodorkan kartunya kearahku, bahkan tak peduli aku menjawab pertanyaannya atau enggak, dan aku terpaksa menerima kartunya, walaupun aku lalu memainkan kartu itu, yang benar-benar ingin kucelupkan ke kopi hitamku yang pekat.

“Oiya sayang, buku ceritaku tentang the demons I ever had sekarang udah 80% menuju approval untuk diterbitin. We should have a special dinner to celebrate it, please on me.” Kataku penuh antusias.

Kamu meminum jus apelmu sampai habis. Baru kemudian berbicara lagi padaku.

“Sayang, enggak perlu bikin buku kalau cuma mau special dinner. Aku selalu bisa kasih semuanya itu ke kamu. Anyway, I should go back to the office. Let’s meet… mmhh tonight? Katanya santai tak berperasaan.

I am speechless.

Lalu sekali lagi tanpa peduli aku menjawab atau tidak, ia segera beranjak, menciumku sekilas dan pergi.

Sore harinya, aku mendapat telepon dari penerbitku.

“Maaf sekali, buku anda tidak bisa kami terbitkan.”

“Alasannya apa?”

Hening selama beberapa saat.

“Sesuai survey, tampaknya penjualan buku untuk genre cerita anda, kurang diminati saat ini. Maaf dan terimakasih.” KLIK.

Lalu di malam harinya, kamu bilang kamu tidak bisa menemuiku karena ada rapat panjang. Aku mengiyakan sambil bersorak dalam hati, karena saat ini aku hanya butuh dia.

Lelaki bertato itu memelukku dengan hangat saat kami berbaring di ranjangnya.

“Honey, aku udah nyari info tentang penerbit kamu. I’m so sorry about it…” Katanya hangat sekaligus mengambang.

“Sebagian sahamnya punya dia ya?” Kataku gamblang.

Ia mengangguk. Aku hanya memejamkan mata berusaha menahan air mataku. Sementara Ia memelukku makin erat.

“Honey, menurutku kejadian ini bisa kamu jadiin titik tolak buat kamu. It’s a challenge for you. You know what, I like your book. I like the part when the devil becomes an angel in the same time. I like every words you wrote. Just believe me, it will be another best seller of yours.” Katanya tanpa ingin berkesan manis, tapi terasa sangat menghibur karena dia tahu isi bukuku. He mentioned it well.

“Honey, I’m ready anytime you need me.” Lanjutnya dengan tegas tapi mesra.

Aku mengangguk dan tersenyum.

Singapore. Malam itu adalah malam saat seluruh keluarga kamu berkumpul.

Kamu menggenggam tanganku erat-erat dan mengumumkan ke seluruh keluarga kamu kalau aku adalah calon isterimu. Aku tersenyum gamang.

Lalu terjadilah percakapan antara aku, kamu, dan kedua orang tuamu.

“Ma, calon isteriku ini penulis, nantinya dia akan menulis kolom Politik atau high lifestyle. Aku bisa mengatur hal itu untuknya.”

Aku mengernyit. Kedua orang tuanya mengangguk-angguk dengan tatapan aneh padaku.

“Keluarga tinggal dimana?” Tanya ibunya dengan cukup sopan.

Sebelum aku menjawab, kamu lebih dulu menjawab.

“Orang tua dia cukup rendah hati untuk memilih kota kecil sebagai tempat yang nyaman untuk menghabiskan masa tua, ma.” Katanya cepat-cepat.

Aku mulai geram. Orang tuanya menatapku makin aneh.

“Udah kenal lama ya kalian?” Kata Ayahnya berusaha ramah.

“Pa, lama atau enggak kan ukurannya bukan kalender masehi. Tapi kami udah saling mengenal. Udah sama-sama tahulah.” Sahutnya makin cepat.

Okay, kali ini aku marah.  Aku melepaskan tanganku dari genggaman tangannya. Lalu aku berusaha dengan sangat sopan menyampaikan kata-kataku pada orang tuanya.

“Saya Sophie Winatasari. Penulis novel. Saya sudah memiliki empat novel best seller. Satu tentang politik, dua diantaranya sastra dengan pendekatan psikologi, satu lagi science-fiction. Saya menulis semua itu karena saya suka, bukan karena disuruh apalagi hanya untuk memenuhi persyaratan menjadi menantu anda. Bahkan saya yakin putera anda tidak bisa menyebutkan salah satu judul novel saya. Kecuali tentunya satu novel saya yang akan terbit yang kemudian digagalkan oleh putera anda yang memiliki sebagian saham di penerbitan tempat saya mengirim novel terbaru saya ini. Kami sudah dua tahun saling mengenal, tapi tak sedetikpun putera anda tahu tentang saya yang sebenarnya, barangkali sebaliknya pun begitu. Jadi maafkan saya, saya bukan calon isteri putera anda, bahkan dia pun tak pernah meminta hal itu dari saya. Permisi.” Jelasku gamblang dan kemudian beranjak pergi.

Entah reaksi orangtuanya bagaimana, aku hanya ingin segera meninggalkan tempat itu.

Di sebuah taman, kamu lari mengejarku dan menghentikan langkahku dengan amarahmu.

“You are crazy!” Teriakmu keras. Baru kali ini ia menampakkan karakter aslinya.

Aku menghentikan langkah dan berbalik padamu, “But I’m not a liar. I’m trying to live my life in honest way. Take back your card! I did  shopping till its over limit.”

Kamu terkesiap dan hanya bisa bengong menatap kartu platinummu yang kulempar kearahmu.

Lalu sebelum ia sempat bereaksi lagi, aku berkata lagi padamu, “And yeah, I’m cheating from you.”

Lalu lelaki bertato yang sebenarnya adalah sepupumu sendiri datang dan merangkulku dengan hangat.

“You are a BITCH!” Teriakmu makin keras.

Aku tersenyum manis dan mendekatimu perlahan, entah kenapa kamu tersentak dan kemudian jatuh terduduk. Kali ini kamu melihatku dengan penuh ketakutan.

Lalu aku menunduk, dan mendekatkan wajahku pada  wajahmu, hingga kamu  bisa merasakan hentakan nafasku, lalu aku berbisik sangat dekat  ditelingamu, “Call me a bitch! I don’t mind. But baby, you can’t play as a Mr. Right in front of me. It’s a betrayal that I always call it… goodbye.”

Kucium bibirnya dan kutinggalkan dia pergi.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s