Rumah Tante

220957925437365054E5m0llzecAku, kamu dan kita tidak pernah punya konsep undangan yang resmi. Kita hanya sama-sama tahu kalau kapanpun dunia ini terasa terlalu penat, kita bisa pulang ke rumah tante.

Cucur berbaring atau lebih tepatnya teronggok di depan tv yang sedang menayangkan acara tentang dunia hewan. Realita sebenarnya si Cucur ini enggak pernah punya kebiasaan hidup yang menunjukkan kecintaannya pada binatang, tapi program acara seperti itulah favoritnya sepanjang masa. Segelas es teh mulai tandas.

Gathot dan Tiwul datang. Kami bisa dikatakan sepaket. Bukan, bukan karena kami soulmate. Tapi rumahku dan rumah Gathot itu deketan, jadi Gathot lah yang paling sering nyamperin aku si Tiwul. Kali ini kami membawa es cendol dingin berkantong-kantong. Satu kantong tentu untuk Tante.

Tante itu nyokapnya Cucur. Kadang kami yang masih muda belia ini suka kalah ceria dan kalah gaya sama tante yang satu ini. Bahkan kalah nakal dan jahil. Itulah mengapa kami sekumpulan anak nakal ini bisa merasa nyaman tumpah ruah di salah satu kamar rumahnya.

“Waahh kok pas ini siang-siang panas begini bawa es cendol. Makasih yaaaa! Udah pada makan belom? Hayoo enggak usah pada gaya, diet-dietan segala lho!” Seru Tante selalu dengan gaya genitnya yang meriah.

Gathot dan Tiwul senang sekaligus terintimidasi, dan dengan malu-malu ambil piring, nasi dan lauk, lalu langsung ke kamar Cucur.

Tak kalah meriah, kami menyantap makan siang dan es cendol, lengkap dengan cerita si ini atau si itu. Cucur yang 180 derajat berbeda dengan Tante, menyantap semua makanan dan cerita dengan cool.

Beberapa saat kemudian, datanglah Gulali. Cewek hitam manis ini emang kayak semut hitam. Pekerja keras abis. Dia selalu ke rumah Tante di sela-sela jam mengajarnya. Di saat yang lain masih asyik pacar-pacaran atau berkutat dengan diktat, Gulali sudah bergulat di dunia kerja.

“Aduuuh, aku capeeek. Lapeeer. Mau rebahaan. Geser dikit doonk.” Itulah kalimat keramat Gulali yang selalu diucapkannya di tiap kehadirannya.

Seperti biasa Cucur tak bergeser sedikitpun. Aku dan Gathot berpandangan. Gulali wajahnya udah cemberut. Kusodorkan cepat-cepat segelas es cendol kearahnya. Wajah Gulali pun mendadak bersinar dan walaupun tetap berkeluh kesah tentang rasa capeknya, Gulali meminum es cendol dengan lahap.

“Semester ini, aku dapat tambahan satu kelas lagi. Jadi sekarang hampir tiap hari aku bakal ngajar di tiga tempat. Duhh badanku rasanya remuk, capeeek, sluuuurp…” Keluh Gulali apa adanya.

Tepat sebelum es cendol Gulali tandas, Bacang datang membawa aneka masakan hasil olahannya sendiri. Cewek keturunan Cina Jawa ini memang masakannya super yummy. Selain itu, Bacang anaknya super lempeng. Pendengar yang baik tapi kalau ngasih comment suka enggak nyambung.

“Siapa yang capek? Capek nonton tv ya, cur?” Kata Bacang lembut dan lempeng.

Kami hanya terkekeh-kekeh riang, lalu kami makan lagi donk.

Lalu dengan perut  gendut dan mulut penuh, kami bergelimpangan tak tentu arah. Lalu datanglah Cenil. Cewek satu ini awet kurusnya, dan temen kompak urusan tato sama Cucur dan Bacang. Dia datang dengan muka panik.

“Aku ditanya upeti sama tante. Aku deg-degan. Sempet kepikir apa tante sekarang punya penglihatan sinar-X ke tasku. Ah ternyata, karena Gathot dan Tiwul bawain es cendol, Bacang bawain capcay, dan Gulali bawain martabak ya?” Kata Cenil sambil ngos-ngosan.

Serempak kami melihat kearah Gulali.

“Martabak buat kita mana?” Kata Cucur tepat, ketus, tak terbantahkan.

“Ya tadinya buat kalian. Hehehe.” Jawab Gulali sambil cengengesan.

Kresek-kresek. Cenil sibuk mengeluarkan tas kresek besar dari tasnya yang menggelembung. Serempak kami kembali melihat kearah Cenil.

“Tadi aku bilang aja ke Tante lain kali. Trus aku langsung cepet-cepet ngibrit deh. Aku kan bawa cooler. Ya masak aku kasih ke Tante.” Kata Cenil santai.

Semua tertawa girang dan senang. Dessert yang pas. Setelah menenggak cooler, kami kali ini benar-benar bergelimpangan. Enggak sampai jackpot, cuma agak tipsy dan menceracau. Biasanya sebelum semua benar-benar terlelap, Cucur menyuruh kami membungkus kembali botol-botol cooler dan disimpan rapat-rapat.

Itu karena biasanya di sore hari, Si Om, suami Tante yang notabene seorang dokter yang tentunya pemuja kebersihan, suka menengok dan melongok ke arah kamar dan mengernyit. Si Om ini sama cool-nya dengan Cucur. Jarang ngomong, tapi kalau udah berucap, ya siap-siap hati aja.

“Ugghh.. ini anak-anak cewek kok bau semua. Sana pada mandi!” Kata Om sambil berlalu pergi.

Kami mulai bangun satu per satu. Di saat inilah terdengar teriakan Tante dari ruang makan, “Hayoo, udah pada makan lagi belum? Ayo makaan!”

Dunia pun kembali bersinar.

Begitulah aku, kamu dan kita melewatkan hari-hari di masa kuliah kita yang enggak bisa dibilang indah tapi juga enggak layak dibilang buruk.

Sampai sekarang pun, dimanapun kita berada, entah di kota lain, di kantor manapun, atau di hati para suami, kita sama-sama tahu, kita bisa kapanpun ke rumah Tante.

Kadang hanya menggelembungkan diri dengan aneka makanan yang selalu tersedia di meja Tante, membahas hasil medis dengan Om, mengantar tiket wisata punya Tante, dan ngobrol ngalor ngidul tentang ini-itu.

Pengganti rumah Tante secara virtual adalah grup di salah satu layanan chat, yang belum lama ini dibuat oleh Cucur. Inilah kesamaan Cucur dan Tante, mereka suka memberi ruang untuk sebuah persahabatan.

“Semoga Rumah Tante makin jaya ya. Banyak rejeki. Banyak makanan. Es teh mengalir kayak sungai. Kalau hujan disini, semoga hujan duit. Tuh pohon belimbing moga-moga berbuah emas..bbbrrrppphhh-” Ceracauku tak karuan.

“Ealah, minum cooler aja mabuk.” Sahut Cenil sambil menekan bantal kearah mulutku.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s