Gotta Gotta…be Mine

KP__Under_the_Moonlight_by_rinacatKepala besarnya menyandar pada lenganku. Kami berbaring di ranjang bersama dengan mata terbuka lebar saat malam makin larut.

Love at the first sight. Ini cinta pertama yang tidak pernah kusesali dan akan selalu kumiliki.

Aku adalah gadis kecil ayahku saat aku bertemu dengannya. Dunia kecilku saat itu kosong, tidak ada teman yang menarik untukku. Aku juga tidak terlalu tertarik dengan suatu mainan tertentu.

Dunia kecilku tidak semarak dan meriah, tapi Ayahku memberiku kemewahan untukku bebas melakukan apa yang kumau, dan ia selalu siap memelukku kapan saja tiap aku terjatuh atau melakukan kesalahan.

Ayahku kadang memilihkan sepatu atau hadiah untukku, dan aku tahu pilihannya selalu yang terbaik, tapi aku selalu punya keinginan dan pilihan sendiri. I know what I want, I said.

Tak sedikitpun Ayah keberatan dengan keinginan-keinginanku.

Suatu hari, Ayah mengajakku ke sebuah toko mainan, dan di depan begitu banyak wajah lucu, Ayah memberiku kebebasan untuk memilih satu wajah lucu yang nantinya boleh kubawa pulang dan kujadikan teman. Aku nanar menatap wajah-wajah itu. Lama dan tak kunjung memilih. Ayah mencoba memperhatikanku, berusaha mengartikan tatapan nanarku dan mengikuti arah mataku, akhirnya Ayah memilihkan satu sosok besar berwarna kuning. Lalu kami membawanya pulang.

Dia lucu dan baik, tapi itu tak cukup untukku. Aku membutuhkan alasan lebih untuk bisa menjadikannya temanku.

Kukumpulkan semua teman-teman kecilku dan kukenalkan dia pada mereka. Ah, paling tidak dia akan memiliki teman baru.

Lalu suatu hari aku pergi ke rumah kakek. Teman yang paling menarik bagiku adalah kakekku, sementara saudara-saudara sebayaku hanyalah seperti sosok berwarna kuning itu. Hanya saja kadang kakekku sibuk dan banyak orang selalu ingin berada di dekatnya, entah kenapa.

Sehingga aku suka memisahkan diri dan bermain-main sendiri. Lalu aku masuk ke sebuah kamar, dan mataku terbelalak. Aku melihatnya. Ia duduk sendirian di sudut kamar itu. Begitu besar, lucu dan entah bagaimana aku bisa merasakan kehangatan dari dirinya. Anehnya, dia tidak tampak kesepian, walaupun sepertinya menantikan sesuatu atau seseorang.

Aku mendekatinya dan kuraba tangannya yang begitu besar, lalu kepalanya. Aku merasa dia tersenyum padaku. Tapi aku tahu, dia pasti milik salah satu saudaraku. Aku tak berani memeluknya.

Dengan perasaan ingin yang teramat sangat, aku meninggalkannya, kututup pintu kamar itu. Baru beberapa langkah, cepat-cepat aku membuka kembali kamar itu. Ciluuuup…Ba!

Dia tersenyum menatapku. Aku tersenyum padanya. Kumainkan beberapa cilup ba, dan dia terus menatapku senang. Sampai akhirnya aku harus pulang dan meninggalkannya.

Keesokan harinya, saat Ayah membawaku ke rumah kakekku lagi, aku langsung menuju kamar itu. Aku cepat-cepat mendatanginya dan bermain-main dengannya, tapi tetap aku tak berani memeluknya. Lalu Ayah mencari-cariku, barangkali karena Ayah sadar aku tidak berada dalam kerumunan saudara-saudara sebayaku.

Ayah melihatku sedang bermain dengannya dan mendekatiku. I said to my dad and pointing at my new friend, “I want him, daddy.”

Lalu Ayah berjanji akan mengusahakan supaya teman baruku itu bisa jadi milikku. Entah apa yang dilakukan Ayahku, akhirnya pada suatu hari di sore yang cerah, kata Ayah aku boleh memilikinya. Di saat itulah aku langsung memeluknya erat-erat. Kami membawanya pulang. Semenjak itulah, dunia kecilku tidak pernah kosong lagi.

Aku dan dia mengarungi sebuah kisah mungil. Begitu banyak orang yang menawarkan padaku teman baru yang lebih lucu dan mahal, Teddy namanya. Tapi hatiku tak tergoyahkan. He’s my friend and I’ll keep it no matter what.

Aku paling suka saat kami berpelukan. Rasanya pas. Peaceful.

Kemanapun aku pergi, aku akan mengajaknya. Ke belahan dunia lainpun, aku tetap ingin bersamanya.

Di malam-malam yang dingin dan menyesakkan, setelah ia sibuk menyeka air mata di pipiku dan menenangkanku dengan pelukannya, kami suka untuk sama-sama tidur terlentang, kepala besarnya akan bersandar di salah satu lenganku, lalu kami membuka mata lebar-lebar, bukan untuk menatap langit ataupun langit-langit kamar, tapi pada dunia kecil dalam khayalan kami. Di saat itulah kami akan berbincang tentang apa saja atau kami hanya terdiam menikmati sepotong waktu yang mendadak terasa indah.

Dia selalu bilang, “No matter what, I just want to be with you.”

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s