My Lost Child [2]

688b8a5aa4419dff05bde987d8576adbAku tahu semua bertanya-tanya mengapa Alexander menjadi anak kesayanganku. Kalau saja mereka tahu siapa dia yang sebenarnya.

Sang Raja membuat sebuah pesta yang sangat meriah di seluruh negeri untuk menyambut anak kesayangannya. Walaupun awan hitam masih membumbung tinggi di seluruh negeri, rakyat pun bergembira dalam pesta itu.

Desas-desus mengenai kedatangan Alexander tentu saja ikut memeriahkan pesta tersebut. Konon para pejabat istana percaya bahwa tahta kerajaan akan segera diberikan pada Alexander karena dengan kekuatan kegelapannya, Alexander telah berhasil memaksa Sang Raja melakukan apapun yang ia mau. Tentu saja kabar ini disebarkan oleh saudara-saudara Alexander.

Sementara badut-badut kerajaan membuat parodi dan menyebarkan rumor yang unik, bahwa Alexander akan dinikahkan dengan puteri dari salah satu Pasukan Kesucian, dengan begitu diharapkan Alexander bisa kembali ke jalan yang benar dan menjadi anak yang patuh.

Sementara di kalangan rakyat kelas menengah ke bawah, mereka lebih suka mempercayai bahwa kedatangan Alexander akan membawa perubahan pada kerajaan yang riuh oleh ulah keempat anak Sang Raja yang lain, yang selama ini menyebabkan perhatian Sang Raja pada rakyatnya berkurang.

Pada kenyataannya, tidak ada satu pun dari desas-desus itu yang ditanggapi oleh Sang Raja. Bahkan Alexander tidak bereaksi atas segala macam tuduhan yang dialamatkan padanya. Semenjak kedatangannya di ruang singgasana Raja, Ia tidak pernah kelihatan lagi. Bahkan para pejabat istana serta saudara-saudaranya juga tidak pernah melihatnya lagi. Hanya hujan dan awan hitam yang menjadi penanda keberadaan Alexander di negeri tersebut.

Keempat anak Sang Raja beserta keluarga mereka masing-masing walaupun sangat benci pada alasan diadakannya pesta besar tersebut, mereka tetap menikmati pesta nan mewah dan glamor tersebut. Apalagi Alexander tak muncul di ruang utama kerajaan, tentu ini membuat mereka merasa lebih nyaman.

Sang Raja hanya memberi pidato singkat di awal pesta tanpa menjelaskan ketidakhadiran Alexander di pestanya tersebut, bersenda-gurau dengan beberapa pejabat istana sejenak, lalu undur diri dan beranjak pergi.

Kamar Alexander sangat gelap. Hanya lilin-lilin kecil di sudut ruangan yang menjadi cahaya samar di kamar tersebut. Sebuah ranjang yang amat besar berada tepat di tengah-tengah ruangan yang didekorasi dengan amat megah dan dipenuhi dengan barang-barang mewah atas perintah langsung dari Sang Raja.

Di atas ranjang tersebut, Alexander dikelilingi oleh sepuluh Pasukan Kesucian. Lima dari antara mereka menyanyikan lagu-lagu doa. Sementara lima orang lainnya bergantian menyeka luka-luka pada tubuh Alexander dan meramu serta memberinya obat.

Sang Raja mendekati Alexander dan berusaha menatap kenyataan. Kedua matanya tak kuasa menahan air mata.

Tubuh Alexander yang besar dan gagah tampak tergeletak tak berdaya di ranjang dan hanya selembar kain putih menutupi tubuhnya. Di bagian dada dan punggungnya penuh dengan goresan  yang panjang dan dalam. Kedua kaki dan tangannya juga dipenuhi luka-luka berdarah. Wajahnya sangat pucat. Alexander tidak sedang tidur, namun ia memejamkan matanya dengan tenang.

Salah satu dari Pasukan Kesucian, yang tertua diantara sepuluh pengawal Alexander, mendekati Sang Raja dan merangkulnya dengan hangat.

“Maafkan kami.” Kata Pengawal itu dengan lirih namun tegas dan penuh kesedihan yang mendalam.

Sang Raja hanya mengangguk-angguk pelan lalu beringsut duduk di ranjang Alexander dan menggenggam salah satu tangannya sambil menatap wajah Alexander lekat-lekat.

Alexander membuka kedua matanya, lalu menoleh kearah ayahnya dan tersenyum.

Dengan suara lirih yang menyimpan kegetiran yang teramat sangat, Sang Raja berkata tegas pada seluruh Pasukan Kesucian, “Leave us.”

Serentak seluruh Pasukan Kesucian beranjak dan meninggalkan Alexander bersama Sang Raja.

Sang Raja selama beberapa saat menangis. Alexander hanya tersenyum dan balas menggenggam tangan ayahnya dengan sangat erat.

“Ayah, bolehkah aku kembali meminta hal yang sama darimu?” Kata Alexander dengan tegas sekaligus lembut.

Sang Raja menggeleng kuat-kuat, “Ayah mohon, jangan permintaan itu. Ayah mohon padamu.”

Alexander tersenyum lalu menatap kearah jendela kamarnya yang besar dan terbuka lebar, tepat kearah awan hitam yang selalu menyertainya.

“Di setiap langkahku, aku selalu punya harapan konyol yang terus kurapal, namun tak kunjung terjadi. Aku selalu berharap Ayah berhenti menyayangiku. Sesekali aku ingin Ayah mencaci-makiku seperti yang selalu Ayah lakukan pada saudara-saudaraku. Dan saat aku pergi dan menghilang, aku berharap Ayah tak pernah lagi mencariku.”

Tak disangka Sang Raja makin terisak.

Lalu Alexander kembali menatap wajah Sang Raja lekat-lekat, kali ini pancaran kedua matanya tampak sangat lembut dan jauh dari kesan penuh kegelapan.

“Ayah, aku tak pernah meminta apapun dari Ayah. Mengapa Ayah tak berkenan mengabulkan satu permintaanku ini?”

Sang Raja tiba-tiba berbalik dan beranjak berdiri. Sang Raja berhenti menangis dan kali ini Sang Raja berteriak dengan sangat keras, kepedihan dan kemarahan menghiasi suaranya, “TIDAAAAK! Ayah mohon, jangan permintaan itu!”

Lalu setelah berdiam diri selama beberapa saat, Sang Raja kembali berbalik dan bersimpuh di dekat ranjang Alexander, kali ini bahkan Sang Raja menunduk dengan khidmat kearah Alexander, “Maafkan Ayah.” [To be continued]

<My Lost Child [1]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s