My Biggest Loss

387028780172286428TBXC7pYcKamu bisa merasa kehilangan siapa saja dan apapun, tapi kehilangan karena kematian adalah perasaan yang nyaris mampu membuatmu ikut merasa mati.

Aku melihatnya berdiri diam, menangis tanpa suara, dan bergerak sedikit pun pasti terasa menyakitkan. Kamu kini tak lebih dari sebuah vas yang retak. Sekali sentuh kamu bisa hancur berantakan. Kamu tak lagi utuh. Tak akan pernah lagi.

I’ve been there.

Aku mendekatimu dan berdiri diam di sampingmu. Kamu menyadari kehadiranku, namun seperti orang yang mengalami koma, kamu tak mampu bereaksi terhadap apapun yang terjadi di sekitarmu.

Kamu menangis makin keras walau tak terdengar, tapi aku mengetahuinya dari raut wajahmu. Aku juga tahu, rasa sakit yang sekarang kamu rasakan sekarang ini, rasanya seolah-olah seperti jantungmu diremas kuat-kuat. Sakit hingga ke titik terdalam hatimu. Hingga kamu berharap jiwamu lebih baik ikut terbang bersama orang yang telah meninggalkanmu kini.

Menit demi menit berlalu. Membutuhkan waktu hampir dua jam untuk menunggumu lelah dan akhirnya kamu duduk bersandar padaku, dengan mata bengkak dan nanar.

Tell me.” Katamu singkat dan sangat lirih.

Aku menggenggam tanganmu dan mengangguk.

“Kehilangan seseorang yang sangat menyayangi kita karena kematian itu tak ubahnya seperti menerima hukuman mati untuk diri kita sendiri.” Kataku lembut namun jelas.

“Kalau suatu hari kamu merindukannya, enggak ada gadget apapun yang bisa menghubungkanmu dengannya. He’s just gone.” Lanjutku tenang.

“Tangisanmu hari ini, bisa jadi adalah tangisan pertama yang mengawali tangisan-tangisanmu yang mungkin tak akan berakhir, bahkan sekeras apapun usahamu untuk moving on. Tapi tangisan itu somehow tahun demi tahun akan membuatmu merasa lebih baik.” Kataku mulai melirih.

“Waktu?” Tanyamu sangat lirih.

“Waktu hanya akan membantumu berjalan menjauhi hari kematiannya, namun waktu tak akan pernah bisa membuatmu merasa jauh darinya. Waktu akan memberimu ruang untuk akhirnya kamu bisa memahami makna kepergiannya terhadapmu. Tapi walau aku mampu memaknai dengan sebijak mungkin, aku tetap tak mampu menafikan kata hatiku yang berulangkali berkata ‘seandainya ia disini, pasti ia mampu membuatku merasa lebih baik, apapun yang terjadi padaku’, terus dan berulangkali.” Jelasku lirih dan mulai kembali merasakan sakit yang selama ini terus ada di hatiku.

“Still hurt?” Tanyamu lembut.

Aku mengangguk pelan dan mulai berkaca-kaca.

“Rasa kehilangan karena kematian adalah perasaan terburuk bagiku, walaupun rasa itu kemudian membuatku mampu menanggung segala bentuk kehilangan lainnya dengan lebih mudah, hanya saja…” Kataku tersendat oleh rasa sakit yang tiba-tiba terasa kembali.

Kamu menoleh padaku, kini aku yang menatap ke suatu arah dengan tatapan mata yang kosong dan nanar.

“Hanya saja aku juga tak lagi mampu mencintai siapapun dan apapun sebesar dulu aku pernah mencintainya.” Kataku sangat lirih.

Lalu aku dan kamu berpelukan.

“Aku tidak berharap kamu merasakan semua yang kurasakan. Hanya saja semoga kamu tahu apa yang mungkin sedang atau akan kamu rasakan. Itu jauh lebih baik, daripada merasakan sakit tanpa kamu menyadarinya.” Bisikku tegas.

The end.


2 thoughts on “My Biggest Loss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s