Jodoh dan Makan Malam

acb4122cdd7215f0a85bd11d4d571f25By Pakde Ryan.

Menimbang Jodoh dengan Makan Malam

Greg terbangun tiba-tiba. Terkesiap. Ciuman hangat dari Bunda Lena di pipinya membangunkannya.

“Makan pagi sudah siap. Ayo makan! Bunda tunggu di meja makan.”

Jam masih menunjukkan pukul 8. Tidak terlalu kesiangan tapi juga tak bisa lagi dibilang pagi. Padahal biasanya Bunda Lena akan membangunkan Greg sekira jam 9. Bukan pukul 8.

Greg langsung tahu bila dibangunkan lebih pagi dari biasaya pasti akan diajak ngobrol di meja makan lebih lama. Diskusi serius. Bukan basa basi.

Greg yang bertubuh chubby itu dengan malas-malasan akhirnya duduk di meja makan. Langsung mencomot penganan kecil dan menyeruput kopi instan dengan banyak gula dan sedikit krim.

Bunda Lena memandang tajam wajah Greg yang masih mengantuk. Melihat mimik Bunda Lena, Greg tahu bahwa mamanya hendak membahas peristiwa kemarin malam.

“Mah, gimana si Marsha? Cantik, kan?”

Tadi malam Greg membawa Marsha, yang berdarah Batak, ke rumahnya untuk makan malam dengan Bunda Lena. Tujuannya sederhana. Makan malam dengan Bunda Lena merupakan tradisi keluarga bagi Greg untuk mengenalkan pacarnya ke mamanya. Yang bagi Greg lebih terkesan seperti ‘audisi’ seperti para pemain film yang sedang casting ketimbang sekedar dinner at home.

Marsha sendiri bukan gadis pertama yang dibawa ke rumah untuk makan malam. Namun tak ada jaminan bahwa Marsha adalah gadis terakhir yang akan dibawa Greg untuk makan malam. Rupanya Greg sudah kesekian kalinya membawa pacarnya ke rumah namun hubungannya berakhir karena Bunda Lena tak setuju. Alasannya beragam. Tak mengada-ada. Tapi alasan-alasan tersebut masuk akal.

Bunda Lena bersikeras bahwa pilihan Greg yang kemarin-kemarin selalu tak berkenan di hati Bunda Lena. Greg sendiri juga berasumsi bahwa mamanya membuat alasan yang dibuat-buat. Toh, Greg, suka atau tidak suka, selalu menuruti mamanya dan memilih tidak melanjutkan asmaranya dengan gadis-gadis yang ‘tak lolos syarat’ untuk menjadi pasangan Greg; anak semata wayang Bunda Lena.

Namun Greg tak menyerah. Dan kemarin malam Greg merasa suasana makan malamnya baik-baik saja. Marsha cukup nyambung berbincang-bincang dengan mamanya. Marsha juga tak malu-malu. Juga tak membikin malu. Oleh karena itu, Greg optimis bahwa Marsha akan mendapatkan lampu hijau dari mamanya.

Sembari sibuk memotong-motong daging sapi goreng kesukaan anaknya, Bunda Lena berkata dengan tegas. To-the-point.

“Greg, kamu masih suka makan daging sapi?”

Bunda Lena kemudian menyuapkan potongan daging sapi goreng tadi ke mulut Greg.

“Ya, masih dong mah”, Greg menjawab sembari mengunyah potongan daging tersebut. Greg memang terbiasa disuapi oleh mamanya. Sejak kecil hingga sekarang ini meskipun Greg sudah menjadi laki-laki muda yang sudah bekerja bertahun-tahun di perusahaan periklanan.

“Terus kalau kamu jalan bareng sama si Marsha, kamu bakal jadi vegetarian?” Bunda Lena sengaja mempertanyakan Marsha yang tadi malam hanya memakan sayuran dan buah-buahan.

Marsha sama sekali tak menyentuh masakan berbahan daging. Marsha secara halus menolak segala sesuatu yang mengandung daging. Bahkan telur dadar istimewa buatan Bunda Lena tak disentuhnya. Sewaktu berbincang-bincang dengan Bunda Lena, Marsha memang mengakui bahwa dia sudah menjadi vegetarian sejak kecil.

Greg berusaha mengelak. “Mah, Marsha memang vegetarian. Tapi Greg ga bakal jadi vegetarian. Sejauh ini, kita kalau kencan dan makan di luar, tetep bisa makan dengan menu sendiri-sendiri.”

Greg lalu menambahkan bahwa Marsha itu seorang pengacara muda yang cukup terkenal. Pintar dan memiliki gelar Master dari universitas terkenal di Amerika. Greg juga mengakui kalau dia juga menyukai Marsha karena tubuhnya yang atletis dan berwajah tegas berkarisma.

Bunda Lena sebenarnya suka dengan Marsha. Sepertinya Marsha akan bisa menjadi sosok dewasa untuk Greg; yang mana ingin dimanja dan memang kurang dewasa. Bahkan tak mempersoalkan bila Marsha itu seorang vegetarian. Namun bagaimana dua orang akan bisa cocok seumur hidup bila soal makanan saja tak bisa sesuai. Bunda Lena tahu betul bahwa Greg itu sangat suka dengan segala makanan yang mengandung daging. Tak ada asupan daging sehari saja, Greg pasti menjadi moody. Belum lagi memikirkan masa depan.

Coba bagaimana anak laki-lakinya yang tidak bisa memasak akan hidup bersama dengan istrinya yang hanya bisa dan hanya mau memasak makanan vegetarian.

Bunda Lena berkata, “Greg, kamu mau besok sehari-hari makan masakan pembantu atau selalu makan di luar?”

Greg hanya mengangguk. Pertanyaan itu sebenarnya pertanyaan retorik. Menohok. Ada benarnya. Meski masih sulit diterima dengan akal sehat. Sepertinya Marsha tak lolos syarat.

“Mah, tidak setuju ya?” Greg bertanya dengan berharap Bunda Lena masih mau mempertimbangkan Marsha.

Bunda Lena menggeleng. Lalu mengulurkan garpu dengan potongan daging sapi yang baru saja dicelupkan ke saos pedas. “Nih, enak ngga?”

Greg menyambar potongan daging tersebut dan langsung mengunyahnya. Dan mengangguk. Setuju kalau potongan daging sapi yang disuapkan mamanya tersebut memang enak. Sadar bahwa Marsha yang sudah membuatnya jatuh hati tak bisa mengalahkan nafsunya untuk menyantap segala sajian yang mengandung daging.

Kalau seperti ini, Greg sudah tahu bahwa dia harus sesegera mungkin memutuskan hubungan asmaranya dengan Marsha. Tak mungkin melawan mamanya yang sudah tak berkenan. Lagipula tak seyogyanya memberikan harapan kepada seorang gadis bila kedepannya tak bisa bersama.

Seperti biasa, Greg akan membawa gadis-gadis yang ‘gagal audisi’ di depan mamanya itu ke restoran yang mewah dan memberikan hadiah sebelum memutuskan mereka. Greg tak ingin perempuan-perempuan yang pernah hinggap di hatinya tersebut sakit hati karena tak bisa melanjutkan hubungan mereka ke tingkat yang lebih lanjut. Greg tetap ingin memperlakukan mereka dengan gentle karena itu adalah pesan yang selalu diulang-ulang oleh mamanya.

Greg paham bahwa mamanya tak ingin Greg menjadi laki-laki tak bertanggungjawab seperti ayah Greg yang mendadak raib tanpa berita meninggalkan Bunda Lena menjadi single parent sejak Greg masih balita.

Album Foto yang Membuka Kenangan Lama153469be485c635410ca9b1768004b1f

Beberapa saat setelah memutuskan hubungannya dengan Marsha, Greg merasa kesepian. Juga frustasi karena tak juga menemukan perempuan lain yang menarik hatinya. Greg berpikir bahwa susah juga menemukan jodoh yang pas. Seusia dengan dirinya dan paling tidak cocok dengan mamanya.

Greg pun iseng membuka laptopnya pada suatu malam. Membuka aplikasi foto dan melihat-lihat album-album foto digital koleksi pribadinya. Greg sebenarnya hanya ingin melihat foto-foto Marsha yang sudah menjadi pacarnya selama empat bulan. Ada rasa rindu yang masih tersisa di hati.

Namun saat melihat-lihat album-album fotonya tersebut, tak sengaja folder berisi foto-foto mantan pacarnya yang lain terbuka.

Saat foto-foto itu terbuka, teringatlah kenangan-kenangan dengan para mantannya tersebut. Duh! Apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. Berbagai potongan-potongan peristiwa terlintas di benak Greg. Wajah-wajah di album-album lama itu, yang mana hatinya pernah lekat dengan mereka, pun langsung membuat Greg terbawa ke masa lalu.

Yuna, blasteran Korea Sunda, yang wajahnya putih mulus, hidung mancung, dan bibir tipisnya yang Greg tak pernah bosan menciuminya. Natalia, yang konon mengklaim bahwa neneknya dulu asli Belanda, yang montok, seksi dan tak pernah gagal membuat Greg berdebar-debar saat disampingnya. Ada pula Lydia, gadis Tionghoa asli Singkawang, yang sama-sama menyukai Babi Panggang dan selalu mengajak Greg untuk mencoba restoran-restoran baru.

Mantan-mantan pacar Greg tersebut masing-masing memiliki perbedaan. Ada yang khas dari masing-masing pribadi mereka. Namun semuanya memiliki nasib yang sama. Sama-sama tak berhasil lolos ‘audisi’ di meja makan bersama Bunda Lena.

Apapun pembelaan Greg, selalu saja ada pertanyaan-pertanyaan menohok yang meruntuhkan argumen Greg. Selalu tak masuk akal pada mulanya. Namun pada akhirnya, Greg harus mengatakan selamat tinggal pada mereka.

Gadis Korea Sunda yang Menawan Hati

“Ah, Yuna!”

Greg tertawa kecil saat menatap wajah memukau Yuna yang berfoto dengan dirinya di restoran Korea di seputaran Jakarta Selatan. Greg ingat bahwa saat itu dirinya mendapat anggukan mengiyakan saat meminta Yuna, yang setengah Korea dan setengah Sunda itu, untuk menjadi pacarnya. Kala itu hatinya membuncah. Apalagi setelah mendapat kecupan hangat dari Yuna.

Pertemuan Greg dengan Yuna tak disengaja. Yuna yang semasa kecil hingga remajanya dihabiskan di Seoul ini baru saja pindah ke Jakarta karena salah satu perusahaan ponsel dari Korea Selatan mengutusnya untuk membantu kantor cabang di Indonesia. Greg, yang bekerja di perusahaan periklanan, sering bertemu dengan Yuna yang mengurusi promosi peluncuran ponsel terbaru. Sering bertemu lalu jatuh hati.

Pada mulanya memang ada kendala bahasa. Meski ibunya asli Sunda, Yuna hanya sedikit bisa berbicara dengan Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris yang sepatah-patah menjadi jalan bagi Greg dan Yuna untuk berkomunikasi satu sama lain. Lagipula bukankah cinta akan mendekatkan dua orang berbeda bahasa. Toh Greg dan Yuna lebih sering sibuk mengudap Bulgogi atau Bibimbap bersama-sama ketimbang berbincang-bincang. Cinta dan makanan Korea menghilangkan jarak antara dua insan berbeda bahasa.

Pada awalnya semuanya kelihatan lancar. Namun asmara dengan gadis Korea Sunda itu pun kandas di meja makan bersama Bunda Lena beberapa tahun yang lalu.

Wajah Greg mengerenyit. Ada pahit yang masih tersisa. Sama seperti pagi setelah makan malam dengan Marsha, Greg pun mendapat pertanyaan menohok. Greg ingat betul pertanyaan mamanya.

“Greg, pacarmu itu cantik lho! Tapi kamu yakin nanti anakmu bakalan cakep seperti Yuna?”

Saat itu Greg hanya bisa termangu. Katanya sebagian besar orang Korea terutama perempuannya cantik-cantik karena operasi plastik. Namun Greg tak ragu apakah Yuna benar-benar asli kecantikannya atau tidak. Yuna malah secara jujur pernah mengakui bahwa dirinya melakukan nose job dan eye job sehingga hidungnya tak lagi pesek dan matanya terbuka lebih lebar.

Tapi bukan masalah fisik yang membuat Greg tersadar hubungan asmaranya tak akan bakal langgeng dengan Yuna. Bunda Lena mengatakan kalau bahasa menjadi kendala, cepat atau lambat akan ada banyak masalah yang tak terpecahkan.

“Kamu ga bisa ngomong Korea. Pacar Koreamu itu ga bisa ngobrol dengan bahasa kita. Njuk mau dibawa kemana nantinya hubunganmu. Kamu ngerti kan maksud Mama?”

Perempuan yang Hot dan Seksi

Greg lalu membuka foto yang lain. Foto Natalia. Gadis yang montok dan seksi. Sepintas memang sebelas dua belas mirip Luna Maya. Tinggi badannya jelas lebih tinggi daripada Greg. Natalia yang memang berprofesi menjadi foto model ini sering mengenakan hot pants yang memperlihatkan kaki mulusnya yang jenjang dan top tank yang membuat lekuk tubuhnya atas terlihat jelas.

Natalia memang selalu membuat Greg grogi. Jantung berdebar tak karuan. Terutama saat-saat yang ‘panas’ ketika keduanya berkencan di gelapnya pinggir pantai di malam hari, berciuman di jok belakang mobil, atau saling peluk di pojok diskotik yang remang-remang dan ditimpali musik house.

Sayangnya meski Greg sudah meminta dengan sangat supaya Natalia memakai pakaian yang lebih tertutup saat makan malam dengan Bunda Lena, toh Natalia tetap saja memakai hot pant dan top tank yang biasa dia pakai. Kali ini malah Natalia sengaja memakai bawahan dan atasan terbuka berwarna merah, warna favoritnya.

Selain itu, Greg juga tak berhasil meyakinkan Natalia untuk mengurangi kebiasaannya berbahasa Inggris — karena sering melakukan road show di luar negeri — yang mana terkesan keinggris-inggrisan. Meski Bunda Lena paham dan bisa berbahasa Inggris, Greg tahu mamanya lebih suka berbincang dengan bahasa bangsa sendiri.

Natalia malah berujar bahwa dia ingin menjadi dirinya sendiri. Greg, I want to be myself. I want to wear what I like and to do what I want to do. If your mom like me, that’s great. She is your mom and I am is what I am.*

Lagi-lagi pertanyaan Bunda Lena pada saat sarapan pagi setelah makan malam dengan Natalia membuatnya tersenyum kecut.

“Greg, omong-omong kamu suka ga kalau bakal dada dan paha istrimu nanti dipelototi oleh ratusan laki-laki dengan pandangan mesum?”

Duh! Ini dia. Pasti menyoal penampilan Natalia. Tapi Greg saat itu tak menyerah begitu saja. Berbagai argumen pun keluar untuk membenarkan bahwa Natalia itu pacar yang pantas menjadi calon istri.

Sayangnya Bunda Lena pun melontarkan pertanyaan lainnya yang ampuh membuat Greg membisu.

“Kamu yakin Natalia itu masih perawan?”

Sebenarnya Greg, yang tergolong generasi ‘modern’ masa kini, tak begitu mempermasalahkan apakah istrinya kelak masih perawan atau tidak. Namun Greg paham betul mamanya sangat konservatif dan mempercayai bahwa gadis yang ting ting itu salah satu poin good wife material.

“Greg, mama sebenarnya melihat sisi lain Natalia. Pacarmu itu terlalu open-minded dalam hal seksual. Mama ga mau kamu kecewa atau sakit hati suatu saat nanti.” Bunda Lena kemudian menjelaskan panjang lebar bahwa lebih baik bagi Greg untuk tak melanjutkan hubungannya dengan Natalia.

“Mah, Greg tahu. Tapi…”

Belum selesai Greg menuntaskan alasannya, Bunda Lena sudah memotongnya tiba-tiba.

“Kalau kamu suka dengan barang bekas, ya ndak apa-apa. Lanjut aja. Lagipula kalau sudah berpengalaman, nanti bisa ngajarin kamu di malam pertamamu.”

Semua argumentasi Greg pun sirna. Ada benarnya juga karena sebetulnya Natalia sudah pernah bercerita bahwa dia pernah tidur dengan mantan-mantan pacarnya sebelum bertemu dengan Greg.

Bahkan jantung Greg pernah berhenti berdetak beberapa saat ketika pada suatu malam sehabis kencan di diskotik dan mengantarkan Natalia ke apartemennya. Di sana Natalia striptease mencopoti semua kain yang melekat di badannya yang seksi tersebut di depan Greg. Sebenarnya itu godaan yang terlalu bodoh untuk dilewatkan.

Untungnya, karena teringat nasihat Bunda Lena — supaya tetap perjaka sebelum naik ke pelaminan — membuat Greg berhasil menolak rayuan panas yang bisa mengantarnya ke surga ketujuh.

Greg manggut-manggut. Benar juga kata mama. Kalau bisa dapat ‘barang baru’ kenapa harus ambil ‘barang bekas’.

Ibu Muda Asli dari Singkawang

Mata Greg sekarang berganti menatap foto sesosok perempuan muda dengan wajah oval dan rambut hitam yang panjang menjuntai jatuh; yang dulu pernah hinggap di hatinya. Di samping kirinya ada Greg yang sedang tersenyum. Kemudian di samping kanannya, ada anak perempuan yang masih kecil yang sedang memeluk pinggang perempuan muda tersebut. Di latar belakang foto tersebut, ada anak-anak lain yang berlarian di playgroup di suatu wilayah di Tangerang.

“Hmm… Lydia.”

Lalu Greg menghela nafas.

“Dan anak pertamanya…”

Ingatan Greg terbawa pada saat dua tahun yang lalu. Lydia, gadis Tionghoa yang berasal dari Singkawang, yang meskipun umurnya jauh lebih muda dari Greg tapi ternyata sudah menjadi janda beranak satu.

Greg jatuh hati dengan Lydia karena Lydia selalu memperhatikan Greg seperti seorang ibu merawat anaknya. Greg memang tipikal lelaki muda yang suka dimanjakan. Cocok sudah. Apalagi keduanya selalu memiliki obrolan yang cocok. Dua-duanya pun suka ngobrol berlama-lama sembari mengudap menu sajian favorit mereka berdua. Babi Panggang yang hadir bersama Tumis Ca Kangkung, Cap Jay Ayam, dan Telur Dadar dengan Daging Sapi Cincang.

Hanya saja tak dapat dipungkiri, Greg merasa ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman. Status janda muda yang melekat pada Lydia.

Lydia merantau ke Jakarta bersama sepupu perempuannya, menikah dengan mantan suaminya dalam usia yang sangat muda, dan kemudian melahirkan anak. Lydia mendadak janda karena mantan suaminya berselingkuh dengan sepupunya yang tinggal serumah dengannya tersebut. Bahkan sepupunya tersebut hamil karena perselingkuhan mereka. Lydia lebih memilih cerai karena sudah terlanjur sakit hati. Dan Lydia pun menjadi single parent sembari bekerja membanting tulang untuk menghidupi dirinya dan anaknya.

Meski Greg memiliki latar belakang yang sama — yaitu tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ayah — namun tetap saja tak nyaman dengan adanya fakta bahwa Lydia sudah pernah menikah dan sudah punya anak.

Dan lagi-lagi Bunda Lena membuat yakin bahwa Lydia bukan jodohnya saat sarapan setelah malamnya Lydia bersama anaknya datang untuk makan malam.

“Greg, mama paham kalau kamu suka sama Lydia. Kamu dan anaknya Lydia juga nyambung. Tapi sepertinya kamu ragu-ragu berhubungan dengannya. Kamu pasti ga nyaman ketika mantan suaminya sesekali datang untuk menengok anaknya. Lagipula anaknya selalu memanggilmu dengan sebutan ‘om’ dan masih menyebut ayahnya dengan ‘papa’.”

Greg mengangguk setuju. Hubungan asmaranya kali ini tak melangkah ke tahap selanjutnya karena Greg selalu khawatir dengan kehadiran mantan suami Lydia, anaknya Lydia yang mungkin tak akan pernah menjadikannya ayah, dan luka di dalam hatinya karena tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah.

Greg menghela nafas. Tapi tiba-tiba Greg malah tertawa. Masih jelas pertanyaan Bunda Lena yang tak bakal terlupakan berkaitan dengan anaknya Lydia di akhir sarapan pagi itu.

“Greg, anaknya Lydia itu, kalau nanti kalian sudah married, memanggil mama dengan sebutan apa? Nenek? Atau tante? Atau malah tante nenek?”

handsome-boy-fashionable-casual-fedoras-britishMenyerah Pasrah

Semalaman Greg menghabiskan waktunya dengan mengingat-ingat kembali kisah asmaranya dengan mantan-mantan pacarnya. Ada rasa rindu. Ada harapan yang sirna. Juga rasa berdebar karena teringat dengan godaan. Juga keinginannya untuk segera melepaskan status lajangnya.

Yuna. Natalia. Lydia. Dan juga Marsha. Semuanya menyisakan kenangan yang indah. Sayangnya asmara dengan mereka sirna. Tak satu pun dari mereka yang berhasil lolos dari ‘audisi’ di makan malam dengan Bunda Lena.

Greg merasa gundah. Ada rasa menyerah. Cari pacar itu tak susah. Tapi kalau menyoal jodoh untuk naik ke pelaminan, itu jelas lain cerita. Bikin perasaan jengah dan marah-marah.

Paginya saat sarapan, Greg kelihatan tak bernafsu makan. Saat ditanya ada apa, kenapa, atau lagi kepikiran apa; Greg hanya menjawab ketus seadanya.

“Mah, Greg ga tahu lagi harus gimana lagi. Cewek begitu, salah. Cewek yang begini, ngga pas.”

Bunda Lena menyahut dengan nasihat, “Greg, kamu jangan menyerah dulu dong. Kan masih banyak ikan di laut. Sabar dan terus berusaha.”

“Greg nyerah deh. Pasrah saja sama pilihan mama. Pilih saja yang cocok sama Greg. Baru tar Greg lihat, cocok atau tidak. Bingung sama maunya Mama. Memang siapa sih Mah yang mau nikah. Mama atau Greg?” Kata Greg yang tak menghabiskan makanannya karena hilang selera dan terburu-buru untuk pergi ke kantor.

Satu Tahun Kemudianea940da37dcdd0bb3968386139f81bf6

Greg terbangun tiba-tiba. Terkesiap. Sebuah ciuman hangat di bibirnya membangunkannya.

“Sarapan sudah siap, lho. Yuk makan. Bunda juga sudah menunggu di meja makan.”

Setengah sadar, setengah masih di alam mimpi. Greg bangkit dari tempat tidur. Menoleh perempuan muda bertampang manis yang duduk di pinggiran tempat tidur sambil menatapnya dengan tersenyum.

Rupanya Ririn. Memang benar Ririn. Bukan Bunda Lena, mamanya, yang juga selalu membangunkannya setiap pagi dengan ciuman hangat.

Ririn adalah istri Greg. Greg masih merasa rikuh dan belum terbiasa tidur dan bangun dengan perempuan yang masih kurang dari sebulan menjadi istrinya. Kehadiran Ririn membuatnya bahagia. Ada perasaan hangat di hatinya. Juga rasa hangat yang dirasakan ketika memeluk Ririn.

Jam rupanya menunjukkan pukul 8.

Sebenarnya Greg masih ingin berlama-lama di ranjang. Maklumlah, namanya juga baru saja menikah. Lagipula Greg sebelum menikah selalu bangun dan baru duduk manis di meja makan setiap pukul 9.

Tapi Ririn selalu bangun pagi karena kini Ririnlah yang menggantikan tugas Bunda Lena untuk menyiapkan sarapan pagi di Rumah Mertua Indah setelah diboyong ke rumah Bunda Lena. Tak cukup dengan itu, Ririn juga selalu membangunkan Greg satu jam lebih pagi. Tentu ada rasa tidak enak bila menantu yang baru saja menikah bangun di siang hari. Pamali, bukan?

“Pagi, Mah!” Sapa Greg pada Bunda Lena yang sudah duduk dari tadi di meja makan.

“Wah, anak mama sekarang bangunnya lebih pagi nih,” goda Bunda Lena pada Greg sembari melirik ke arah Ririn yang sedang sibuk di dapur.

Bunda Lena melanjutkan kata-katanya, “*Gimana si Ririn, kamu senangkan punya istri seperti dia?”

Greg tersipu malu. Wajahnya memerah sambil matanya melihat ke arah Ririn yang sepertinya sibuk menyiapkan sarapan. Juga bekal makan siang untuk Greg di kantor.

Ririn duduk di samping Greg. Tangannya lincah mengiris-iris potongan daging sapi yang kemudian ditaruh ke piring Greg. Greg dengan lahap memakan potongan-potongan daging tersebut. Sesekali Ririn menyuapkan irisan telur atau lalapan ke mulut Greg. Bunda Lena menatap Greg dan Ririn dengan bahagia. Ada puas terpancar di mata Bunda Lena.

Perasaan yang Familiar

Tak berapa lama kemudian Greg pun sudah berada di dalam mobil menuju kantor yang dikemudikan oleh Pak Sahir, sopir pribadi Greg.

Terduduk di mobil di jalanan ibukota yang selalu macet, Greg tersenyum-senyum sendiri. Ingatannya membawanya ke sebuah makan malam di rumah beberapa bulan yang lalu.

Makan malam itu awalnya biasa-biasa saja. Berbeda dengan biasanya di mana Greg membawa pacarnya ke rumah. Kali ini Greg tidak membawa siapa-siapa. Justru saat itu, Bunda Lena mengenalkan Greg ke Ririn yang rupanya sudah sejak sore tadi memasak bersama mamanya.

Ririn rupanya anak Tante Tita, teman Bunda Lena sejak masa kuliah. Wajah Ririn manis dengan kulit sawo matang, khas wajah keturunan Jawa dari Solo. Termasuk gadis yang bertubuh lumayan chubby dengan tinggi badan yang lebih kurang sama dengan Greg. Pembawaannya ramah sehingga Greg pun dengan cepat menjadi dekat. Terutama saat berbincang mengenai kuliner, film, dan jalan-jalan yang memang merupakan topik-topik yang disukai Greg. Apalagi Ririn memang sudah cukup lama menjadi novelis sekaligus penulis kolom masakan di berbagai tabloid.

Sesaat Greg teringat dengan mantan-mantan pacarnya. Sesaat membandingkan Ririn dengan perempuan-perempuan yang dulu pernah hinggap di hatinya. Ririn memang tak secantik Yuna. Natalia jelas lebih menggairahkan dibanding istrinya ini. Pun Ririn juga tak memanjakannya seperti cara Lydia menyayangi dan memperlakukan Greg.

Greg tersenyum. Ada rasa sedikit bersalah karena tiba-tiba membandingkan istrinya dengan para mantannya. Tentu tidak adil.

Tapi Greg tersenyum lebih lebar. Sepersekian detik, Greg dalam benaknya menyandingkan Ririn dengan Bunda Lena. Ah, itu dia. Ada beberapa hal yang tak asing baginya. Ada kemiripan antara istrinya dengan mamanya.

Melihat Ririn itu seperti melihat mamanya ketika masih muda. Tampak berbeda tapi sama. Pantas saja. Itu rupanya yang membuat Greg langsung jatuh hati ketika bertemu dengan Ririn pada saat makan malam tersebut. Ada bagian dari mamanya yang terlihat dari sosok istrinya.

Ciuman hangat. Menyuapi makanan. Suka memasak dan mengetahui banyak hal tentang kuliner. Sama-sama sering menghabiskan waktu melihat film, baik di bioskop maupun di layar kaca. Dan masih banyak lagi kemiripan yang tak asing bagi Greg.

Bunda Lena dan Ririn rupanya dulu sering meluangkan waktu bersama, jauh sebelum Greg berkenalan dengan Ririn. Sepertinya ada kerinduan bagi Bunda Lena untuk memiliki anak perempuan yang mana bisa diajak memasak bersama, diajak berbelanja, dan berbincang tentang hal-hal yang biasa menjadi topik antar perempuan. Suatu hal yang tak bisa dilakukannya karena hanya memiliki Greg, anak laki-laki satu-satunya.

Seringnya Bunda Lena dan Ririn rupanya membuat selera mereka menjadi mirip. Obrolan mereka pun selalu nyambung. Ada timbal-balik yang membuat keduanya cocok. Lagipula bila dari awal mereka tak cocok tentu tak akan sering-sering bersama.

Greg tersenyum simpul melihat ada benang merah antara mama dan istrinya. Pantas saja Greg langsung merasa tak asing dengan Ririn. Langsung pas. Seperti meminum teh hangat yang pas takaran teh dan gulanya. Hanya beda gelasnya. Namun esensi teh hangatnya mirip.

Lamunan Greg buyar tiba-tiba saat Pak Sahir menggamit lengannya dan berkata, “Pak, kok dari tadi senyum-senyum sepanjang perjalanan? Ini sudah sampai di depan kantor.”

“Ah, bapak bisa saja. Mama tuh bisa saja…,” jawab Greg sembari lalu sambil bangkit keluar dari mobil. Yang sahutannya malah membuat sopir pribadinya menampakkan wajah bingung.

Baru saja keluar dari mobil, Greg tiba-tiba membuka pintu mobilnya lagi. “Pak, nanti jemputnya lebih awal ya. Saya sore ini ingin cepat pulang ke rumah. Rindu nih sama istri. Juga mama,” pinta Greg sambil tersenyum lebar dengan bahagia.

The end.


One thought on “Jodoh dan Makan Malam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s