A Closure for My Beloved Temptation

39265827970665101uBBlWU1acWe have to let each other go. We keep holding on but we both know. What seemed like a good idea has turned into a battlefield. Peace will come when one of us puts down the gun. Be strong for both of us.*

Sejak awal kita bertemu, aku tahu semua ini akan terjadi. Kamu memohon, dan aku meluluskan permintaanmu untuk melewatkan waktu bersama.

Hanya saja, aku tahu, kamu dan aku tak ubahnya seperti langit dan bumi, air dan api, dan segala bentuk perbedaan yang nyata dan kontras di dunia ini. Kita tidak akan pernah memiliki satu tujuan yang sama.

Aku dan kamu sama-sama memiliki bom waktu yang siap meledak kapan saja. Namun, aku siap menerima kenyataan itu.

Sementara, kamu sebaliknya, kamu malah semakin ingin memilikiku, dan kamu pun semakin membabi buta. Kamu berusaha membuat segalanya tampak sempurna di depan mataku. Sejenak kamu berhasil.

Hanya saja kamu lalu mulai mengikis duniaku. Kamu tidak pernah menyadari bahwa orang-orang yang kamu sakiti adalah bagian dari duniaku. Kamu lebih suka berpikir bahkan memaksakan kepadaku sebuah dunia yang kamu ciptakan sendiri khusus untukku.

Di saat itulah, aku tahu bahwa ini saatnya aku pergi. Perbedaan ini terlalu besar dan makin meruntuhkan jembatan diantara kita.

Kalau saja kamu tahu, aku sangat sedih. Walaupun sekali lagi, sejak awal kita bertemu, aku tahu semua akan berakhir seperti ini.

Aku tahu, kamu pasti lebih marah dan kecewa daripada aku. Selama ini kamu berusaha lebih keras daripada aku untuk mempertahankan semua ini. Sementara aku, aku selalu lebih menyayangi orang-orang yang kamu sakiti.

Kamu mengobarkan perang yang sedemikian besar karena kamu tak pernah bisa paham, alasan aku lebih menyayangi orang-orang yang kamu benci.

Kamu terus menerus menembak tak tentu arah, karena kamu sekali lagi merasa sudah mempertaruhkan segalanya untuk merebut hatiku, tapi kamu menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri orang-orang yang kamu benci itu bahkan seolah tanpa berusaha sekalipun, mampu membuatku jatuh hati pada mereka.

Kamu terus menerus menyiksaku dan berharap aku setidaknya memberi penjelasan walaupun hanya beberapa patah kata. Hanya saja, hatiku sudah terlampau patah dan tak mungkin kembali utuh.

Pada satu titik akhirnya kamu menyadari, sungguh teramat lebih baik kalau orang sepertiku tak semestinya kamu jadikan musuh. Tapi kamu sangat paham, aku sudah tak lagi berada di pihakmu.

Bahkan aku lebih suka menjauh darimu, lalu menaruh semua senjataku dan mematikan bom waktuku sendiri untuk menghadapi seluruh seranganmu.

Aku tak mampu tinggal lebih lama untukmu. Aku pun tak pernah ingin melawanmu. Hanya diam yang bisa kuberikan untukmu. Diam adalah kata-kata terimakasihku yang sebesar-besarnya padamu, karena kamu adalah ujian terbesar dalam hidupku, yang pada akhirnya bisa kuhadapi dan kulalui.

Kamu pada akhirnya lelah dan berhenti mengharapkanku hadir kembali di dalam hidupmu lagi. Kamu menang walaupun tak sedikitpun kamu mampu memenangkan hatiku.

Begitu banyak serpihan bom dan luka-luka yang kudapatkan darimu. Pernah terbersit untuk menjadi sepertimu. Toh itu lebih mudah. Namun aku tak mampu. That’s not me.

Kini semua luka itu beranjak sembuh. Aku baik-baik saja.

Once again, I put down all of my guns, to say so many thanks to you for being my great beloved temptation.

The end.

*Derived from ‘Battlefield’ by Lea Michele.


2 thoughts on “A Closure for My Beloved Temptation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s