Black Shadow

tumblrmlegwxjhc01rcttemo1500Aku lebih suka berjalan beriringan, dan sangat membenci bayangan yang terus mengikuti di belakangku.

Di sebuah malam yang temaram, aku datang menemui ahli nujum yang juga tersohor karena selalu bisa memberikan jawaban ataupun membantu untuk segala bentuk pertanyaan atau permintaan tolong. Melchizedek, nama populernya.

Pintu kuketuk. Lalu pintu terbuka sendiri dengan ajaib, dan aku masuk ke rumah yang tidak berkesan gaib, tapi unik. Di langit-langit terdapat hiasan berupa jajaran planet-planet di galaksi ini. Sementara tatanan interiornya yang simple dan lugas dilengkapi dengan barang-barang kuno yang indah, bukan menyeramkan. Suasana rumahnya terkesan homy dan hangat, bukan dingin dan tajam. Aromanya pun bukan semacam dupa, atau aromaterapi, hanya pengharum ruangan biasa yang entah kenapa di rumah ini baunya tidak menusuk hidung, tapi malah sebaliknya mampu memanjakan indera penciuman.

Ketakutan dan kekhawatiranku untuk datang menemui ahli nujum ini berkurang banyak setelah melihat dan merasakan sendiri suasana rumahnya.

Lalu datanglah seorang pria tua yang terlihat bugar dan ramah, dengan wajah bulat yang selalu dihiasi dengan senyum lebar. Tidak ada hiasan tindik atau anting di tubuhnya, tato yang terlihat di lengannya hanyalah tato rasi bintang dengan garis-garis yang sangat lurus dan terlihat penuh logika, bukan sejenis tato kuno seperti simbol sebuah suku, sulur-sulur tanaman atau ukiran. Dia memperkenalkan diri dengan sangat lumrah, sama sekali jauh dari kesan serius apalagi misterius. Dialah si ahli nujum yang terkenal di seluruh dunia. Aku menjadi makin merasa santai dan nyaman menemui sosok ini.

Tanpa basi-basi dan bahkan tidak memberi ruang juga untukku berbasa-basi, ia bertanya dengan lugas.

“Cuma berdua saja nih kesini?”

Aku tertawa terbahak-bahak.  Aku suka ahli nujum ini, bukannya merapal mantera, dia lebih suka berbicara to the point.

“Begitulah. What should I do then?” Tanyaku  tak kalah lugas.

Sambil mempersilahkan teh manis panas yang baru saja diantarkan oleh seseorang di rumahnya, entah staf, asisten, pembantu, atau simpanannya, ia mengangguk-angguk dan tampak berpikir sejenak, lalu menyesap teh panasnya tanpa terburu-buru. Aku pun menikmati teh suguhan itu dengan santai.

“Apa yang kamu rasakan tentang bayangan di belakangmu itu? Bukankah dengan demikian kamu bisa menikmati sensasi rasa selalu menjadi yang terdepan?” Tanyanya dengan nada menggoda.

Aku tersenyum simpul dan menjawab dengan santai, “Apakah selalu melakukan segala sesuatunya sebaik mungkin selalu identik dengan selalu ingin menjadi yang terdepan?  Bayangan saya selalu meniru dan mengambil apa yang saya miliki, pada awalnya dia menerima takdirnya yang tak jauh berbeda dengan benalu, sehingga dia bisa menerima posisinya sebagai nomer dua, tapi di saat ia merasa cukup, ia tak segan ingin menjadi nomer satu, sehingga buat saya bayangan tak berbeda dengan musuh tersembunyi yang siap membunuh saya kapanpun. Saya tidak suka dan merasa sangat terganggu.”

Ahli nujum itu tertawa lebar, tatapan matanya mencerminkan betapa ia sangat memahami kegelisahanku.

“Pernahkah kamu mengajak bayanganmu untuk berdiri sejajar denganmu?” Tanya ahli nujum itu.

“Tentu saja, karena saya sangat membenci bayangan, maka tawaran itu selalu saya ajukan berulangkali padanya, tapi dia menolak, dan saya pikir memang dia tidak mampu, itulah mengapa dia memaksakan dirinya untuk menjadi bayangan.”

Tell me more.” Kata ahli nujum itu singkat.

“Setiap kali saya disorot oleh spotlight, bayangan akan merasa makin ketakutan dan tentunya membenci saya, toh sinar yang sangat terang di sekeliling saya membuat ia sirna karena terpapar cahaya yang sedemikian banyak.” Paparku singkat.

“Tapi bukankah dengan demikian sebenarnya kamu menolong orang itu?” Tanyanya kembali menguji.

“Awalnya saya berpikir demikian, tapi bayangan pada akhirnya hanya akan terus meniru dan membunuh, lalu semakin kehilangan dirinya sendiri, hingga suatu saat ia akan luruh tanpa pernah benar-benar bersinar karena dirinya sendiri. Ini seperti memberi contekan atau ajakan belajar bersama, bukan?” Jawabku tanpa bimbang.

Ahli nujum itu tertawa.

“Saya tidak bisa dan tidak punya mantera atau apapun yang bisa memisahkan kamu dari bayanganmu. But let me tell you. Orang sepertimu adalah cahaya, tapi kamu bukan kunang-kunang ataupun sekedar lampu. Seperti yang kamu bilang sendiri, di saat kamu semakin berpijar dan bersinar terang, maka bayanganmu akan menghilang dengan sendirinya. Sebaliknya, jika pada suatu titik, dia tak kunjung menghilang, dan bahkan bayanganmu sudah mengambil terlalu banyak dan akhirnya membunuhmu, biarkanlah saja. Penting untuk membuat dia merasa siap menjadi nomer satu, hanya dengan cara itu, ia akan meninggalkanmu, tanpa dia menyadari bahwa pilihannya selama ini untuk menjadi bayangan akan menghancurkannya sendiri. Orang seperti itu memang tidak akan pernah menjadi nomer satu. Sementara kamu, ya, kamu akan terus berpijar, with or without your shadow.”

Aku tersenyum dan menatap ahli nujum itu dengan berbinar-binar. Bukan, bukan  kagum.  Aku memang tidak mudah kagum pada siapapun. Hanya saja, aku suka dia bisa sangat mampu membaca jalan pikiranku dan memberikan perspektif baru sesuai cara berpikirku.

“Bayanganku berada disini, bukankah tentunya dia sudah mendengar langsung seluruh pembicaraan kita? Bisakah dia paling tidak merasa malu dan tahu diri?” Tanyaku untuk menguji balik ahli nujum itu.

Ahli nujum itu kembali tertawa terbahak-bahak lalu menggeleng cepat-cepat.

“Kalau dia punya kemampuan memahami dan mempelajari sesuatu tentu dia tidak akan menjadi bayangan bukan? Sekali lagi, dia hanya akan selalu menirumu. Jadi buatlah dia terus menirumu, menirumu jadi nomer satu, dan seperti kataku tadi, persilahkan cepat-cepat untuknya menjadi nomer satu, dan usailah penderitaanmu ini.” Katanya ringan penuh jenaka.

“Tapi bukankah semua orang memiliki bayangan?” tanyaku kembali mengujinya.

“Kamu benar, tapi terkadang bayangan itu memang hanyalah pantulan dari diri kita sendiri. Sementara bayangan yang ada pada orang-orang tertentu seperti kamu adalah black shadow. Bayangan yang terlalu gelap, liar, jahat, tersembunyi dan memiliki jiwa sendiri. Bayangan itupun akan memiliki bayangan sendiri, yang walaupun bukan black shadow, tapi cukup kuat untuk menjadi pantulan yang pada akhirnya suatu saat nanti ikut menghancurkannya sendiri.” Jelasnya ringan.

“Baiklah, terimakasih.” Kataku singkat.

“Apakah kamu tidak ingin memberikan pada saya sesuatu untuk pertemuan saya dengan kamu ini?” Tanyanya gamblang, padahal ia terkenal sebagai ahli nujum yang memang tidak pernah meminta bayaran apapun.

“Bukankah saya sudah memberi dan tentunya kamu akan mendapatkan lagi sesuatu dari saya?” Jawabku dengan senyum simpul.

Ahli nujum itu mengedipkan salah satu matanya dengan jahil sembari tersenyum lebar dan menjabat tanganku sebelum aku beranjak pergi.

Tak berapa lama kemudian, di salah satu media sosial, dan tentunya bukan dari akunku, sebuah status berbunyi ‘Melchizedek. Sungguh saya suka ahli nujum itu. Dia sangat gamblang dalam berdiskusi dan memberi solusi. Saya mendapat pencerahan seusai berjumpa dengannya. Ya, sayalah si nomer satu itu katanya.’

Aku menyeringai puas, tepat seperti dugaanku, dan aku yakin ahli nujum itupun tersenyum puas tidak hanya karena pemberian pertamaku yang berupa diskusi yang juga sangat ia suka, tetapi juga pemberianku kedua, yaitu promosi gratis di sebuah media sosial.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s