The Rain Has A Name

london-black-and-white-rainblack-and-white-colors-girl-rain-inspiring-picture-favim---quoteko-bwgmv2stI’ll spread my wings again, would you just let me go, or this time, you will fly with me or even be my wings?

 

Kamu selalu berpikir kita memang tak seharusnya bersatu, karena kamu makhluk darat dan aku penghuni langit. Aku bisa mengunjungimu kapan saja aku merindukanmu, tapi kamu tidak pernah yakin bisa meraihku, sehingga kamu hanya akan selalu memilih untuk menengadah melihatku di langit tiap kali kamu merasakan kerinduan yang sama, atau berharap aku suatu hari lelah untuk terus terbang sehingga kamu pun lebih suka menanti tanpa henti bahwa harapan itu suatu hari akan jadi kenyataan, lalu kita bisa bersama.

Saat ini, sama seperti yang selalu kita lakukan di masa lalu, tiap kali kamu mulai merindukanku, aku juga akan merasakan hal yang sama, dan tak mampu menghapusmu dari pikiranku, hingga akhirnya di saat kita sampai pada titik kulminasi, kita sama-sama menyerah dan bertemu untuk menuang rindu dalam bejana yang tak pernah kunjung berubah, bejana bernama khayalan.

Aku tidak pernah mengerti kenapa dalam pikiranmu, kita bisa terlihat sangat berbeda, sehingga menyatu pun bahkan tak mungkin, dari dulu hingga sekarang.

Kamu selalu bilang, “Aku juga punya impian, tapi gak semuluk-muluk kamu.”

Lalu jawabanku selalu kamu anggap sebagai tanda sah perbedaan kita, jawabanku yang selalu membuatmu terdiam, “Kalau enggak muluk, emang pantas disebut impian?”

Biasanya aku akan berusaha membuatmu berubah pikiran dengan berkata, “Seorang pemimpi hanya akan menceritakan impiannya pada orang yang sama.”

Tapi kamu selalu lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan, dan disaat itulah aku pada akhirnya lebih suka berpikir bahwa kamu tak pernah benar-benar serius mencintaiku. Kamu tak pernah mau menyeberangi jembatan di antara kita. Kamu mungkin lebih suka dan merasa nyaman kalau kita hidup di dunia yang memang sangat berbeda.

Sementara bagiku, dalam pikiranku, aku tidak pernah merasa aku dan kamu terpisah. Bahkan setelah ribuan hari kita terpisah, pada akhirnya semakin terbukti kita tidak terpisah dan tak akan pernah.

Aku tidak pernah punya julukan atau definisi tentangmu, dan juga tentang diriku sendiri.

Kamu dan aku hidup di bawah awan biru yang sama, bertumbuh seiring cahaya matahari yang bersinar tiap pagi, dan yang terpenting adalah, kamu dan aku sama-sama hidup dengan derapan semangat yang sama untuk meraih impian, dan aku membutuhkanmu sama besarnya seperti kamu membutuhkanku. Hati kita bagaikan organ yang pernah menyatu dan harus dibagi menjadi dua; untukmu dan untukku. Tapi sejatinya, hati itu tetap satu.

Cuma itu.

Aku tidak pernah membuat alasan geografis, impian yang berbeda, dan segala hal lainnya menjadi penghalang diantara kita.

Toh kita selama ini selalu saling mencari.

Namun sekali lagi, mungkin memang kamu tak pernah benar-benar ingin mencintai, membutuhkan, dan memilikiku. Pun barangkali aku pun begitu.

Seandainya kamu tahu, bahwa keputusanku untuk terbang tinggi saat itu, karena aku tahu pergi darimu akan mempermudah bagimu dan bagiku untuk menghindari ketakutan kita; ketakutan kita untuk meneruskan sebuah kisah yang walau sama-sama kita inginkan, tapi bisa membunuh kita disaat suatu hari nanti kita harus berpisah. Sehingga keputusan untuk berpisah sejak dini menjadi solusi yang sama-sama kita biarkan terjadi.

Tapi saat ini, sekarang, di masa ini, akhir-akhir ini, aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.

Aku tidak ingin kehilangan seseorang yang walaupun kita masing-masing telah menembus waktu dengan mesin waktu yang berbeda, di satu titik waktu kita selalu dan tetap bisa duduk bersama seperti dulu dengan perasaan yang sama.

Aku masih punya banyak impian untuk kuwujudkan, aku yakin kamu pun begitu. Tentu kerumitan akan selalu hadir diantara kita. Tapi maukah kamu berpikir sederhana sepertiku?

Aku menginginkan seseorang yang bisa selalu bergandengan tangan dan mengoles krim anti keriput denganku, tanpa meributkan hal-hal yang terlalu klise yang biasa terjadi saat dua orang manusia menyatu dan hidup bersama. Simply life.

It’s never easy to say goodbye. Especially to you.

Lalu aku kali ini akan bertanya padamu sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, “I’ll spread my wings again, would you just let me go, or this time, you will fly with me or even be my wings?”

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s