Red Postcard*

fierce-gentleman-iconAku, kamu dan dia sama-sama orang yang tak pernah menoleh ke belakang. Dia mencintai orang lain, kamu mencintai dia, dan aku mencintai kamu.

 

Di era digital ini, kamu satu-satunya orang yang selalu melewatkan jam makan siangmu untuk duduk di kafe yang tepat bersebelahan dengan kantor pos, dan menuliskan sesuatu di sebuah kartu pos merah, lalu mengirimkan kartu pos itu sebelum kamu kembali ke kantormu. Satu kartu pos merah per hari.

Kamu adalah cinta pertamaku. Saat itu aku adalah laki-laki kecil yang selalu terpana dengan senyum manis seorang gadis cilik. Senyummu. Kamu tak pernah tahu bahwa sejak aku jatuh hati padamu, aku berjanji pada diriku sendiri, kelak saat aku besar nanti, aku akan kembali dalam kehidupanmu dan menyatakan cintaku.

Waktu berlalu, kamu dan keluargamu pindah dari komplek mentari tempat kita dibesarkan bersama, bertahun-tahun berlalu sampai akhirnya aku kembali menemukanmu di sudut kafe ini. Kafe favorit tempat aku biasa meluangkan waktu makan siangku.

Hatiku bersorak riang, dan aku tak sabar untuk muncul kembali dalam kehidupanmu, sampai suatu hari, ketika kamu terlihat terburu-buru meninggalkan kafe dan meminta tolong pada salah satu pelayan kafe untuk mengirimkan kartu pos merahmu, kartu itu terjatuh tepat di hadapanku. Aku mengambil kartumu dan menawarkan diri pada pelayan itu untuk mengirimkan kartu pos merahmu di kantor pos. Pelayan itu setuju, dan sejak saat itulah aku mulai mencari-cari cara untuk selalu bisa membaca kartu pos merahmu tanpa sepengetahuanmu.

Alexander. Itu nama yang selalu kamu tuliskan di kartu pos merahmu. Penerima dengan alamat tertera yang berada di sebuah kota kecil nan cantik.

Kartu pos merah milikmu yang pertama kubaca bertuliskan kata-kata singkat.

Dear Alexander, aku sudah membaca bukumu, aku paling suka kata-kata di halaman 40-44. Just exactly who you are. Anyway, how’s your new journey this time? Are you happy? Let me know.

Lalu di akhir pesanmu, kamu selalu menuliskan dengan sangat singkat namun entah kenapa terasa begitu personal dan intim; always, me.

Lalu di kartu-kartumu berikutnya, aku bisa menyimpulkan bahwa kamu selalu mengikuti perjalanan hidup seseorang bernama Alexander, dan pastinya selalu ada kartu pos balasan untukmu karena kata-katamu selalu tampak seperti dialog, bukan pesan tanpa balasan, dan bahwa kamu, kamu sangat mencintainya.

Kartu pos merahmu membuat langkahku untuk kembali muncul dalam kehidupanmu tertahan, namun tepat di saat itulah aku dan kamu tak sengaja bertabrakan dan kamu menyebut namaku.

“Andre ya?” Sapamu ramah dan riang. Lalu kamu tersenyum. Senyum yang sangat aku sukai.

“Hey, Noni? Noni kompleks mentari ya?” Kataku dengan nada kaget yang palsu.

Sejak saat itu, aku dan kamu sering meluangkan waktu bersama, tentunya tak hanya di saat waktu makan siang. Aku mulai melupakan kartu pos merahmu, karena kamu sekarang lebih suka bercanda dan berbincang denganku di kafe, dan tak lagi menulis pesan di sebuah kartu pos merah.

Hingga suatu hari di saat aku makin jatuh hati padamu, entah kamu sengaja atau tidak, kamu menitipkan sebuah kartu pos merah padaku. Ah, ternyata selama ini kamu tak lagi menulis di kartu pos merah bukan karena semata-mata kamu kini sudah beralih sepenuhnya padaku, tapi karena kamu menuliskannya di waktu yang lain.

Kamu mengulurkan kartu pos merah itu padaku dengan mata berkaca-kaca.

“Andre, kalau boleh, tolong kirimkan kartu pos merah ini di kantor pos sebelah ya. Kamu mau, kan?” tanyanya dengan sendu.

Aku tak tahan melihat kesedihan di wajahnya, namun aku sendiri merasakan sakit yang teramat sangat di hatiku. Aku hanya bisa mengangguk. Lalu kamu beranjak pergi tanpa banyak kata.

Kubalik kartu pos merah itu dan aku membaca pesan yang ia tulis pada Alexander.

She said, “for a woman that I can’t mention her name for her own sake, thank you for always loving and taking care of him well especially when I leaved him alone and pursued my dream. Now, I know that he is totally yours, though sometimes I want him back, I do ask you to keep him and keep taking care of him. I hate you but yes I do love him.”

Always, 

Me.

Tepat seperti itu tulisannya di kartu pos merah kali ini. Apakah itu isi hatinya atau itu kutipan dari sebuah novel yang ia baca, sama sekali tak ada penjelasan mengenai pesan itu. Pasti hanya kamu dan dia yang bisa memahami pesan itu.

Lalu aku berdiri termangu tepat di depan kotak pos. Jika pesan itu adalah isi hatimu, bisa jadi walau kamu tetap mencintai laki-laki itu, tapi kamu tak mungkin lagi memilikinya dan barangkali saja ini pesan terakhir untuknya. Pesan selamat tinggal.

Bisa pula kebalikannya, barangkali dengan cara inilah kamu berusaha memberi isyarat padaku bahwa aku tak mungkin memilikimu karena kamu sudah terlanjur memberikan seluruh hatimu pada dia. Always.

Jadi apakah aku harus mengirimkan kartu pos merahmu ini?

 The end.

*inspired by Red Telephone, it’s Moscow-Washington hotline in 1963. It’s all about direct communication. Presiden Suharto also known to be the person who used the term of telepon merah, to call his certain staff directly. This story used the meaning of direct communication where there are two person in distance but always can communicate their heart each other directly and intimately.

 

 

 


One thought on “Red Postcard*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s