Itu Kamu

Aku ingin terjebak dalam ruang dan waktu yang sama denganmu, tanpa sengaja, tanpa tendensi apapun, sehingga kepergian kita selama beberapa saat tidak perlu dipertanyakan, sebaliknya, dimaklumi.

Ada beberapa pilihan menarik buat aku dan kamu; tak sengaja bertemu di kereta atau pesawat dengan nomer kursi bersebelahan, terjebak di lift sebuah mall, menjadi sandera saat sebuah perampokan di bank terjadi, tak sengaja nonton film enggak laku di bioskop yang nyaris kosong, berputar-putar tak tentu arah karena kita tersesat saat bepergian bersama, sama-sama menjadi pemenang tiket gratis menginap beberapa hari di sebuah pulau, sama-sama opname dan dapat tempat tidur bersebelahan di rumah sakit, atau kalau mau ekstrim;  ikut uji coba pesawat luar angkasa dan terjebak di bulan selama beberapa hari, terdampar di sebuah pulau antah berantah, sama-sama terlempar di suatu masa karena enggak sengaja kita menemukan mesin waktu, atau kita sama-sama  bertemu di mimpi.

Setelah kupaparkan ide-ide gilaku, kamu terdiam, gelisah, dan memalingkan mukamu dariku. Aku menyadari kata-kataku ekstrim dan maknanya sangat bias untukmu.

Lalu kamu menghela dan menghembuskan nafas dengan sangat berat dan bertanya padaku, “Kamu enggak nyaman ya?”

Aku menatapmu takjub. Kamu juga menatapku dan kembali bertanya.

“Enggak bisa ketemu gini aja tanpa mikir apapun atau siapapun ya?”

Kini aku yang memalingkan muka darimu.

“Pulang yuk, dan enggak usah ketemu lagi.” Katamu lirih dan sendu.

Kamu mulai beranjak berdiri, dan kuraih lenganmu. Kita bertatapan. Lalu kamu duduk lagi.

Lalu sebelum aku sempat menjelaskan, kamu dengan sengaja cepat-cepat berbicara.

“Setiap aku pergi denganmu, aku selalu dapat merasa menjadi seseorang yang sangat berbeda, seseorang yang bisa menanggalkan semua hal tentang diriku sendiri, berbicara semau kita, dan membayangkan kita memang di sebuah tempat antah berantah. Cuma sesederhana itu, tapi aku bahagia. Salahkah aku? Kamu? Kita?”

Aku terhenyak mendengar kata-katanya.

“Ataukah kamu memang punya niat untuk berselingkuh denganku?” Lanjutnya dengan nada yang lebih santai dan humoris.

Aku mau tak mau tertawa lebar, sampai aku menyadari sesuatu.

“Bagaimana jika pertemuan kita tak mampu diterima dengan sederhana oleh orang lain?”

Kamu tersenyum, “Suamimu?”

Aku mengangguk.

“Kalau kamu mencintai dia lebih dari kamu menyayangiku, pasti dia bisa mengerti. You love him more, don’t you?

Aku terkesiap, dan kamu menyadarinya. Diamku menjadi jawaban bagimu. Jawaban yang aku tahu kamu sudah bisa menduganya bahkan walau kamu tak bertanya padaku.

Tak kusangka, kamu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Aku bingung.

“Okay, sekarang aku setuju sama ide-ide kamu tentang terjebak di suatu pulau dan lain-lain tadi. I get it now.” Katanya dengan nada riang.

Aku melemparnya dengan bantal. Sementara ia makin tampak senang.

Selanjutnya, aku dan kamu selalu meluangkan waktu bersama. Ada beberapa hari dalam setahun, yang kita sama-sama menghilang dari orang-orang di sekitar kita. Simply rendezvous.

The end.


One thought on “Itu Kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s