Simply Stop

163044448979128917SSKoFZz5cAku hanya tahu bahwa aku harus terus berlari, sampai kamu menghentikanku.

Di stadion terkenal di ibukota, aku berlari. Jogging sore hari ini bukan semata-mata untuk mengikuti lifestyle, apalagi demi kesehatan. Tujuan utama kami adalah berbincang. Kamu mengikutiku berlari. Setelah 2 putaran, kamu terengah-engah, sementara aku tetap memaksa berlari.

“Begini hidup gw, cuy. Harus terus berlari. Mau apa enggak, capek atau enggak, gw harus tetap berlari!” Teriakku lepas.

“Iya, gw juga ngerti. Tapi siapa bilang elo enggak boleh berhenti?” Tanyamu sambil terengah-engah.

Aku terus memaksakan diri untuk berlari, kamu pun terus mengikutiku walaupun kecepatanmu mulai berkurang.

“Gw cuma pengin cepat-cepat ninggalin masa lalu, cuy.” Kataku meradang.

Kecepatanku melambat. Kamu mensejajariku dan kita berlari dengan kecepatan lambat cenderung tenang.

“Enggak boleh ada yang bisa nyuri hidup elo lagi, Fey. Please. Masa kini dan masa depan, all yours. Kalau elo terus berlari, gimana bisa lo menikmati apa yang terjadi di sekitar lo sekarang ini?” Katamu prihatin.

Aku menggeleng keras dan kembali mempercepat langkahku.

“Elo tahu banget hidup gw, cuy. Beri satu alasan logis gw bisa berhenti.” Tandasku tegas dan dingin.

Tiba-tiba kamu mendahuluiku dan berlari mundur sambil menghadapku.

“Elo nyadar enggak dari tadi ada cowok keren yang berusaha senyum ke elo? Elo nyadar enggak tadi ada bakso favorit mangkal di pojokan sana? Elo nyadar enggak kalau tadi matahari tenggelamnya bagus banget? Dan at least, lo nyadar enggak kalau gw udah capek banget, cuy?” Teriakmu lelah.

Lalu kamu berhenti berlari. Sementara aku terus berlari, hingga beberapa langkah, kemudian aku juga berhenti berlari. Kamu duduk di trotoar, terengah-engah. Lalu aku mendekatimu dan duduk disebelahmu, tak kalah terengah-engah.

“Bang, teh botol EMPAT!” serumu gamblang pada seorang penjual minuman di dekat kami.

Sejenak kemudian, kami sibuk dengan masing-masing teh botol kami. Aku merasa sangat lega dan nyaman.

“Enggak ada salahnya kan berhenti berlari, bahkan tanpa alasan sekalipun?” Tanyamu retorik.

Aku mengangguk-angguk, dan menatapmu, “Tapi kalau berlari, gw enggak perlu terlalu merasa, cuy. It’s better for me right now.”

Kamu balas menatapku, “I know.  Then what? Membiarkan lagi apapun itu merampas apa yang sebenarnya pantas elo dapetin sekarang?”

Kita bertatapan dengan tajam sesaat, hingga aku memalingkan muka darimu.

What are you doin’, cuy?” Kataku lirih.

I want you back, Fey.” Jawabmu singkat namun mampu merangkum seluruh penjelasan yang kalau mau diutarakan pasti panjang lebar.

Kami bertatapan lagi.

Lalu kamu tersenyum simpul dan mengangkat bahu, “Dulu elo orang paling spontan sekaligus paling bisa punya rencana hidup yang paling bener. Elo orang yang bisa ngeraih impian, tanpa beban, bahkan paling enjoy. Seumpama dunia ini taman hiburan, elo orang yang bisa menikmati dunia ini pakai segala cara, dari roller-coaster, bianglala, sampai odong-odong. Dan elo, elo orang yang paling rakus melahap keindahan dunia ini. Itu elo, fey!”

Aku mengangguk dan akhirnya tak mampu menahan air mata. Kita saling merangkul dalam sunyi.

“Yuk, pulang. Tuh kan orang-orang juga enggak seharian kok kalau jogging. Kecuali lo atlet lari.” Katamu ringan.

Aku tersenyum. 

“Lari boleh, tapi gak usah maraton lah. Coba lari estafet, lari di tempat, atau lari di treadmill.” Celotehmu penuh canda.

Kami beranjak dengan perasaan ringan dan menyenangkan.

“Sesekali lari dari kenyataan boleh enggak?” Tanyaku sambil tertawa-tawa.

“Boleh aja lah. Ikutan ya gw hahahahaha” Jawabmu gembira.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s