Because Sometimes I Want to be Ordinary

b4d2d93bcc58db1499780ed8984f15ebSore itu, she’s not that perfect one, but I love it.

Sore itu cerah, dan langit tak sedikitpun berawan. Kamu tertawa ceria, dan tampak bahagia. Kamu selalu begitu. Kamu adalah orang yang tak gentar sedikitpun dengan apa yang ditawarkan oleh hidup. Kesedihan, kebencian, bahkan kebahagiaan kamu terima seolah semuanya itu wajar untuk kamu terima. Sehingga caramu menerima kehidupan ini dengan tawamu yang selalu riang, tak jarang membuatmu dibenci banyak orang.

“Are you really that happy?” Aku bertanya padanya dengan hati-hati.

Tawamu tiba-tiba senyap, dan perlahan kamu menggeleng.

“But what can I do except laughing? I want to always celebrate my life he gave it to me.” Katanya lirih. Tak setegas dia biasanya.

“Your father.” Kataku, bukan bertanya, tapi menjawab.

Kamu menatapku dan matamu berkaca-kaca. Lalu aku memelukmu erat-erat dan selama beberapa saat kamu menangis. Sore itu, kamu tak membawa laptop, buku atau apapun. Sore itu,  kamu tidak di kantor. Sore itu, badanmu sakit, kamu mengakuinya dan mau minum obat. Sore itu, rambutmu terurai tanpa sentuhan blow. Sore itu, wajahmu pucat tanpa make up walaupun kamua tetap tampak cantik. Sore itu, she’s not that perfect one, but I love it.

Masih dipelukanku, kamu bercerita dan bergumam.

“Ada hari dimana kubiarkan semuanya berserakan. Pekerjaan yang menumpuk, logika yang tak masuk akal, asupan makanan penuh kolesterol dan karbo, minuman instan yang teramat manis, teh hangat yang hambar, janji yang tak segera kutepati, terlambat ini itu, berbuat semauku, menjauh dari semua orang, bahkan kata-kata yang keluar dari mulutku pun tak kususun sedemikian rupa, dan mengumbar rasa tanpa berpikir panjang.”

Aku mengangguk, dan ia terisak lagi.

“Kalau flu, aku akan minum obat flu. Kalau kelelahan, aku akan berhenti. Kalau marah, aku akan berteriak. Kalau aku tak sanggup, aku akan berkata tidak. Atau mungkin aku akan sesekali diam, dan berharap orang yang memahamiku.”

“Kenapa?” Tanyaku.

Kamu tak menjawab. Ada sejenak jeda diantara kami.

“Mungkin sesekali aku akan melarikan diri dari kenyataan. Mungkin sesekali aku akan menjadi sangat menyebalkan. Barangkali aku pun ingin suatu hari nanti mencoba menjadi orang yang ketakutan, inferior, putus asa, dan destruktif.”

“Kenapa?” Tanyaku.

Dia menggeleng dan meneruskan perkataannya.

“Aku baru saja menghabiskan sejumlah uang tabungan untuk bersenang-senang akhir-akhir ini. Membeli semua barang yang kuinginkan tanpa perhitungan detil. Kubiarkan orang salah paham terhadapku. Membenciku. Kuterima ucapan-ucapan cinta yang gombal tanpa prasangka. Kucium laki-laki yang tak kucintai, sementara kubiarkan pria yang kucintai pergi.”

Jeda.

“Dan tak sedikitpun aku berusaha membuat semuanya kembali menjadi sempurna.”

“Kenapa?” Tanyaku.

Ia melepaskan diri dari pelukanku, menggigit bibirnya, tampak resah, dan kemudian menatapku lekat-lekat.

“Because sometimes I want to be ordinary.” Katamu lembut.

Entah mengapa, aku melihat secercah kebahagiaan di matamu. Hidup tidak pernah membuat hari-harimu selalu manis. Hidup memaksamu untuk keluar menjadi seorang pemenang di setiap langkah. Hidup memaksamu untuk menjadi sempurna. Hidup membuatmu terus berlari. Hidup menghadirkan orang-orang yang sangat ingin mempercayakan hati mereka padamu, dan lupa kalau kamu pun bisa merapuh. Hidup bahkan tak sedetikpun membiarkanmu menghilang dan melepasmu pergi.

Tapi sore ini, hidup tak lagi mampu memaksakan apapun padamu.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s