When the Line is Broken

45c0b93de4e9929d3ea85638f96fad69

 

 

 

Ini bukan kisah patah hati. Bukan pula jatuh cinta. Tapi jatuh hati.

 

What is he doing to make you like this?” Katamu melotot penasaran campur kesal.

Aku tersenyum melihatnya.

So many years, I tried to make you like that, but never works!” Teriakmu makin kesal.

Aku mengangkat bahu dan kembali tersenyum.

Tell me.” Katamu lirih dengan nada kalah berusaha mengalah.

“Kamu dan aku sama-sama penulis cerita. Kamu dan aku sama-sama sutradara. Kamu pasti tahu kan rasanya ketika kamu menemukan dua tokoh utama yang punya chemistry satu sama lain, yang tanpa perlu kita arahkan atau kita kasih dialog-dialog cinta nan romantis, keduanya just to be like the way it should be?” Jelasku ringan.

Kamu mengangguk-angguk, tapi aku tahu kamu belum puas dengan jawabanku.

“Kok kita enggak?” kamu bergumam.

We’re not meant to be. Kamu dan aku sama-sama menjadi penulis dan sutradara yang bodoh tiap kali kita bersama. Ketika kamu bilang ‘action!’ aku lupa dialog. Ketika aku bilang ‘cut!‘ kamu tiba-tiba meneriakkan dialog. Saat aku sudah menyiapkan properti untuk exterior, kamu memutuskan syuting di interior. Semacam itulah.”

“Emangnya dia enggak?” Katamu masih tak mau kalah.

He’s not a director nor a writer, babe. He’s an ordinary human being who knows to create a comfort situation for other human being to be human as well. That’s it. Gak muluk.”

“Tapi kan dari dulu kamu selalu maunya muluk?” Katamu geram.

“Selama ini kamu keliru memotretku kalau gitu.” Aku menjawab santai dengan senyum manis.

I can’t believe it!” Serumu tak riang, cenderung gaduh.

“Aku bisa membuat kata-kata paling manis sedunia, tapi semua itu sia-sia kalau timing-nya gak tepat, kondisinya gak memungkinkan, dan orang yang kuhadapi salah. I’m just being naturally with him. Even my line is broken, I don’t have any beautiful words, I just say what my heart say. It is easier, babe. It’s completely easier and makes me so comfy.” Jelasku tenang penuh penekanan.

Do you love him?” Tanyamu menerjang tajam.

Aku mengerling manja dan tersenyum, “You know I always know what I want.”

Kamu menghisap rokokmu dalam-dalam seolah-olah kamu baru saja menelan pil pahit yang sangat besar.

“Bukankah sudah saatnya kamu bilang padaku wish you luck babe?” Tanyaku centil.

Kamu menggeleng-geleng dan tetap tak mau menatapku.

“Kali ini aku punya feeling yang berbeda tentang kamu dan pria ini.” Gumammu.

What’s that?” Tanyaku tak menggebu.

He has taken you further than I took you. You will take care of him well once he gives you his heart, but you will let him free if he needs it as well. But, we will never be the same again.” Katamu lirih.

Aku tersenyum dan memeluknya, “Buat apa memaksakan dua penulis sekaligus dua sutradara dalam satu frame, hanya untuk menghasilkan film picisan di jajaran perfilman nasional yang sedang lesu?”

Deru amarah di dadamu mereda, kamu merasa tenang di pelukanku. Lalu kulepaskan kamu pelan-pelan dan berbisik, “Just go back to your beloved one. Whatever happen to me, I’ll be okay.

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s