If You Are Mine

200762095858414261fJWWEPOYc

Aku menatap wajahnya lama dan sangat lekat, dan aku ingin mengutarakan semuanya. Namun sanggupkah ia menerima semua kebenaran ini?

 

Ibukota membiusku dengan berbagai suguhan menarik seputar gaya hidup dan privasi yang selalu kusanjung-sanjung. Aku bukan orang yang terlalu menuntut pada lingkungan seputar untuk selalu tersenyum, saling sapa, dan melestarikan budaya ramah dan kekeluargaan ala lingkungan di kota kelahiranku. Bagiku, sama-sama sibuk dengan diri sendiri itu jauh lebih baik.

Berbagai keluh kesah tentang betapa hebatnya pekerjaan bisa merampas waktu, pikiran dan tenaga menjadi daya pikat tersendiri bagiku. Tumpukan pekerjaan menjadi game yang menarik untuk selalu dimainkan. Ide-ide seputar ini itu menjadi obrolan yang menarik untuk selalu dituangkan dalam ruang kreativitas.

Weekend yang dipenuhi dengan makanan unik dan lezat, kopi mahal berteman chinamon croissant, dan label-label baju yang fancy menjadi teman yang menyenangkan.

Kamu, kamu lebih dari itu.

Bersama kamu, aku merasakan begitu banyak hal yang menyenangkan dan penuh warna.

Hanya saja, ketika kamu mengajukan pertanyaan padaku, ‘May I be your man for the rest of your life?‘ Aku tertegun dan terhenyak.

Entah mengapa di kepalaku terbayang pikiran-pikiran gila ini. Bagiku menggenggam secangkir kopi mahal terasa lebih make sense daripada sebotol susu untuk si buah hati.

Berjibaku dengan berbagai konsep dan analisa yang memusingkan kepala, jauh lebih bisa kulakukan daripada setiap hari harus berhadapan dengan alat masak, sapu dkk, atau pernak-pernik keperluan si buah hati.

Buah hati? Benarkah aku menginginkannya?

Lalu kamu, sebesar apapun aku mencintaimu, tapi sanggupkah aku lebih mencintaimu dibandingkan dengan bos ganteng yang siap memberiku berbagai tantangan yang selalu lebih kusukai daripada kesibukan ala rumah tangga?

Bahkan bayangan untuk keliling dunia, hidup di sebuah kota di luar sana, itu lebih terasa riil bagiku daripada hidup di pinggiran kota jakarta memulai sebuah keluarga kecil.

Aku butuh kamu untuk memahami semua ini. Aku menginginkanmu, tapi bagaimana jika kehidupan kita nanti bukan kehidupan yang kuinginkan?

Sementara aku selalu punya kecenderungan untuk meninggalkan apapun yang tak kuinginkan.

Kamu menoleh padaku dan tersenyum padaku. Aku pun membalas senyummu dengan sangat manis. Sungguh aku tidak ingin mempermainkan hatimu, namun jika kuungkapkan semua pikiran gilaku itu, besar kemungkinan kamu akan meninggalkanku seperti pria-pria lain yang pernah singgah dalam hidupku.

Kali ini aku sangat berharap kamu berbeda dengan mereka. Paling tidak berhasil memahami jalan pikiran dan keinginanku, dan mampu meyakinkanku bahwa kehidupan kita nanti tak akan memaksaku lebih dari yang bisa kulakukan.

Namun dapatkah aku berharap pada diriku sendiri untuk lebih berkompromi tentang semua ini?

 

 

The end.

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s