Cinderella Urban

748724125245120042wivkk56c

Available in voice recording version*

Aku, kamu dan dia adalah Cinderella, yang hidup di masa kini, dengan kisah klasik yang mengharu biru, tapi manis.

Malam itu kita bertiga menuju Beer Garden. Dengan masing-masing menjinjing laptop, memakai baju kantoran yang santai, dan tentunya pikiran dan perasaan galau yang kita bawa di hati.

Kita enggak sedang menuju acara dansa, yang diadakan oleh seorang pangeran yang sedang mencari sepatu kaca, kita cuma sedang ingin menikmati alkohol untuk merayakan kegilaan hidup kita.

Seperti layaknya Cinderella, apapun yang terjadi, harus pulang sebelum jam 12 malam. Bukan, bukan karena keburu keretanya jadi labu, toh dimana-dimana ada taxi blue bird. Cuma, supaya enggak kecapekan aja. “Hidup itu kadang kayak ibu tiri, jadi kita harus selalu prima buat ngadepin hidup”, kata Ella temen gw.

Long island ice tea jadi favorit minuman diantara kita bertiga, diselingi dengan bir dan rokok. Obrolan tak tentu arah menjadi pelengkap tawa saat kita menertawakan hidup kita masing-masing.

“Hidup gw akhir-akhir ini cuma antara kartu kredit, shopping, shopping sama shopping.” Kata Ella.

“Nah gw nih malem-malem masih nge-beer, besok pagi disuruh nemenin nyokap jogging.” Sela Cici.

“Status masih anak yee, bukan isteri.” Kata gw.

Kita pun ketawa. Gak lucu, satir, but that’s life.

“Anyway, guys, kerjaan tuh kayak jodoh…” Kata gw dramatis.

“Mulai neh… mulai!” Celetuk temen gw Cici.

“PinkTV tuh cinta pertama dia! Mau diapa-apain sama tuh kantor, tetep aja cinta! “Teriak Ella.

“Iyah emang bener, guys. Cinta pertama emang susah dilupain, tapi bukan buat dinikahin.” Kata gw tenang.

Semua pun jadi terdiam.

“Gw sampai sekarang belum pernah ngerasain kerja di satu tempat dan pengin selamanya disitu.” Lanjut gw.

“Nah, inget gak dulu pernah ada book of answer yang sempet ngehip? Coba deh lo tanya sama tuh buku tentang karir lo.” Celetuk Cici.

“Wah mau donk mau donk!” Teriak gw bersemangat.

Setelah beberapa saat sibuk sama aplikasi book of answer sambil teriak dan cekikikan, meja sebelah tiba-tiba ketawa dan mau enggak mau kita menengok kearah meja itu. 3 cowok duduk manis.

“Guys, ya gini nih, kenapa di metropolitan pada gak dapat jodoh. Tuh meja sebelah cowok semua.” bisik gw.

“Bukan tipe gw!” Teriak Cici cepat.

“Please deh, no…no…no…” Kata Ella serius.

“Enggak guys, gw juga ngomong aja, wlopun di metropolitan, masalah cowok cewek kadang suka kayak di mesjid, kepisah gitu deh…”

Tawa mengisi malam kita. Random. Gak jelas. Pokoknya bahagia.

Akhirnya malam itu, kita bertiga sama sekali enggak ngomongin serius tentang hidup. Kita sama-sama tahu, tanpa baju compang-camping, abu di pipi kiri dan kanan, dan ibu tiri serta dua kakak tiri yang norak, aku, kamu dan dia adalah Cinderella. Kita punya tanggungjawab sama diri sendiri, sama orang-orang yang kita cintai. Dihina, dicaci maki, dibenci, tapi tetap moving on.

Bahkan tanpa sesosok pangeran, hati kita udah sering patah hati, sekaligus mabuk asmara dan riang karena berulangkali jatuh cinta. Dan karena kita Cinderella, kita juga enggak pernah muluk kok untuk pasangan kita nanti. Asal pas di hati, gak cuma pas di sepatu.

“Eh nih kita perlu ninggal sepatu enggak?” Kata gw asal.

Sambil tertawa kita ninggalin beer garden. Dan sebelum tepat jam 12 dan beranjak pulang, tiga Cinderella urban ini memutuskan untuk mengakhiri hari dengan makan soto ayam dan nasi gila. Sambil berharap ibu kota esok hari akan lebih ramah, dan masing-masing segera bertemu pangerannya.

The end.

*Versi voice recording: https://soundcloud.com/helena-rinthasari/cinderella-urban


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s